Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (2)

in Sejarah

Last updated on November 5th, 2017 12:51 pm

Sebelum terjadinya invasi ke Baghdad – dinasti Abbasiyah yang saat itu sedang mengalami era dekandensi yang sangat parah – sebenarnya sudah terbiasa membayar upeti tahunan kepada Mongol. Bahkan pada tahun 1251, pada saat Mongke Khan dilantik menjadi Khan Agung, Abbasiyah mengirimkan delegasinya untuk memberi penghormatan.

Namun Monke Khan memiliki kebijakan lain. Baginya, persembahan yang diberikan oleh dinasti Abbasiyah sudah tidak memadai. Ia ingin al-Mustasim datang secara pribadi ke Karakorum, ibu kota kekaisaran Mongol abad ke-13, untuk tunduk sepenuhnya pada peraturan Mongol. Al-Mustasim menolak melakukannya, dan rencana invasi pun dibuat untuk Baghdad.

Monke Khan mengirim adiknya, Hulagu Khan bersama 150.000 pasukan menuju Baghdad, sebuah kekuatan yang belum pernah digelar dalam sejarah Mongol. Mayoritas tentara Hulagu Khan adalah pejuang Mongolia, namun dalam pasukan tersebut juga terdapat orang-orang Kristen, termasuk tentara yang dipimpin oleh raja Armenia, Tentara Salib Frank dari Kerajaan Antiokhia, dan orang-orang Georgia. Selain itu, ada tentara Muslim dari berbagai suku Turki dan Persia, dan 1.000 insinyur China yang memiliki spesialisasi artileri.

Dengan pasukan sebesar ini, sebenarnya Hulagu bukan tanpa alasan. Ia merencanakan serangkai ekspedisi penaklukkan sejauh mungkin sampai ke Asia Barat dan Afrika. Sebelum menyentuh Baghdad, pasukan raksasa ini sudah terlebih dahulu menaklukkan Iran selatan. Selanjutnya, mereka menghancurkan sekte Nizari-Ismai’li-Syiah dan menaklukkan benteng-benteng sekte al-Ḥashāshīn di Alamut di Iran barat laut. Adapun Baghdad adalah perhentian berikutnya dalam daftar ekspedisinya. Melihat besarnya pasukan Mongol, Al-Mustasim sebenarnya sempat mengubah keputusannya. Namun semua sudah terlambat. Pasukan Mongol sudah mengepung kota Baghdad.

 

Pengepungan Baghdad

Pengepungan kota Baghdad terjadi pada tanggal 29 Januari 1258 M. Tidak banyak halangan berarti dalam perjalanan pasukan Hulagu menuju Baghdad.  Dan begitu tiba, tentara Mongol langsung membangun jejaring pertahanan dan selokan di sekeliling kota Baghdad. Mereka membawa mesin pengepungan, seperti balok pemukul, dan ketapel untuk menyerang tembok kota. Pada tahap ini, al-Mustasim melakukan upaya terakhir untuk bernegosiasi dengan Hulagu, namun tawaran ini kembali ditolak. Sebagaimana kebiasaannya, bangsa Mongol hanya memberlakukan sekali penawaran pada musuhnya, dan setelah itu, tidak ada lagi peluang untuk bernegosiasi.

Ilustrasi lukisan ketika terjadi pengepungan Kota Baghdad tahun 1258 M. Sumber Gambar: http://www.writeopinions.com/siege-of-baghdad-1258

Akhirnya, pada 10 Februari 1258 M, Al-Mustasim menyerahkan Baghdad ke Hulagu Khan nyaris tanpa perlawanan. Keputusan ini sangat mengecewakan masyarakat Baghdad, dan bencana pun sudah membayang di depan mata mereka setelah terjadi penyerahan tersebut.

Namun, Hulagu dan gerombolannya tidak berusaha memasuki kota selama tiga hari setelah penyerahan tersebut. Sepertinya ia mengobservasi dan memetakan dengan seksama dinamika di Baghdad. Dan setelah tiga hari, ia memasuki Baghdad bersama pasukannya. Hal pertama yang dilakukannya adalah menyingkirkan komunitas Kristen Nestorian Baghdad ke tempat aman. Hulagu menyuruh mereka untuk mengunci diri di gereja mereka, dan memerintahkan tentaranya untuk tidak menyentuh mereka. Keputusan ini dibuat karena mengingat ibu Hulagu dan istri kesayangannya adalah orang Kristen Nestorian.

Dan setelah memastikan komunitas Kristen Nestorian ini selamat, maka Hulagu memberi keputusan yang paling biadab dan paling mengerikan yang dikenal sejarah. Ia mengizinkan pasukannya melakukan pemerkosaan, penjarahan, dan pembunuhan sepuas-puasnya untuk merayakan kemenangan mereka. Maka tak pelak, Baghdad berubah menjadi arena pembantaian paling brutal. Selama berhari-hari, baik pria, wanita, maupun anak-anak, masyarakat sipil ataupun tentara dikejar dan dibunuh oleh pasukan Hulagu. Jumlah korban tewas dalam peristiwa ini tidak terhitung dengan pasti. Menurut berbagai perhitungan para ahli jumlahnya berkisar antara 90.000 sampai 1 juta rakyat Baghdad tewas mengenaskan dalam peristiwa ini.[1] Tapi dalam suratnya yang ditujukan kepada Raja Perancis, Louis IX, Hulagu mengklaim sudah membunuh 200.000 orang Baghdad dalam invasi ini.[2]

Di level para ningrat, sekitar 3.000 tokoh terkemuka Baghdad – termasuk pejabat, anggota keluarga Abbasiyah, dan khalifah sendiri – memohon grasi. Tapi semua 3.000 orang tersebut dihukum mati, kecuali khalifah, yang ditahan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Ia dibiarkan hidup sementara, sambil menyaksikan kebrutalan ini, melihat orang-orang nomaden itu menjarah dan membakar khasanah peradaban dinasti Abbasiyah, serta menikmati detik-detik kehancuran Kekhalifahan yang sudah disusun oleh nenek moyangnya selama lebih dari 500 tahun.

Konon, Hulagu dinasehati oleh para peramal, bahwa darah khalifah Abbasiyah tidak boleh tumpah ke bumi. Bila itu terjadi, maka bumi akan menolaknya, dan bencana alam pun akan terjadi. Untuk mensiasati nasehat ini, maka Hulagu mengeluarkan perintah mengeksekusi Khalifah dengan cara menggulungnya dengan karpet tebal, lalu kemudian secara bersama-sama diinjak oleh barisan pasukan kuda Hulagu sampai mati. Fungsi karpet itu tidak lain untuk menghindari darah sang Khalifah jatuh ke bumi. Dan demikianlah ujung kisah hidup sang Khalifah Abbasiyah terakhir. [3]

Setelah seminggu bersukaria di Baghdad, Hulagu dan pasukannya meninggalkan kota yang pernah pencapai peradaban paling tinggi itu dalam keadaan hancur berantakan, dan nyaris tanpa penghuni. Asap membumbung tinggi dan menyebar sejauh hampir 50 Km. Perpustakaan Besar Baghdad, yang berisi banyak dokumen sejarah berharga dan buku tentang topik mulai dari kedokteran hingga astronomi, dihancurkan. Korban selamat mengatakan bahwa air sungai Tigris menghitam karena tinta dari sejumlah besar buku yang dilempar ke sungai, dan bercampur warna merah yang berasal dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh.

Hulagu dan pasukannya meninggalkan kota sambil melawan arah hembusan angin, untuk menghindari aroma busuk mayat manusia yang demikian menyengat. Bahkan jaringan kanal yang berfungsi untuk mengairi tanah subur pun tak luput dari penghancuran pasukan Hulagu.[4] Bencana kelaparan dan wabah menyerang sisa-sisa penduduk Baghdad yang jumlahnya kurang dari seperempat. Diperkirakan lebih dari satu dekade Baghdad terjerembab dalam kondisi ini, hingga mereka mampu bangkit perlahan dan mulai kembali menunaikan ibadah haji. (AL)

Bersambung ke:

Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (3)

Sebelumnya:

Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (1)

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku: Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 18. Adapun informasi lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Martin Sicker menulis bahwa hampir 90.000 orang mungkin telah meninggal. Perkiraan lainnya jauh lebih tinggi. Wassaf mengklaim jumlah korban dalam peritiwa tersebut mencapai beberapa ratus ribu. dan Ian Frazier dari The New Yorker mengatakan perkiraan jumlah korban tewas berkisar antara 200.000 sampai satu juta. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Baghdad_(1258), diakses 1 November 2017. Tapi menurut Eamon Gearon, meski sangat banyak, namun korban diperkirakan tidak sampai 1 juta. Mengingat pada waktu itu perkiraan populasi penduduk Baghdad berjumlah sekitar 1 juta, sedangkan pada saat Hulagu dan pasukannya meninggalkan Baghdad, masih tersisa penduduk di sana meski keadaan mereka sangat memperihatinkan.

[2] https://www.thedailybeast.com/in-threatening-baghdad-militants-seek-to-undo-800-years-of-history, diakses 30 November 2017

[3] Versi lain dari kisah kematian Khalifah Al-Mustasim diceritakan oleh pelancong terkenal, Marcopolo yang meriwayatkan bahwa Khalifah Al-Mustasim meninggal dengan cara dikunci di atas menara tanpa diberi sedikitpun makan dan minum sampai mati. Lihat, Ibid

[4] Invasi Mongol menghancurkan sebagian besar infrastruktur irigasi yang telah menopang Mesopotamia selama ribuan tahun. Kanal dipotong sebagai taktik militer sehingga tidak bisa diperbaiki lagi. Begitu banyak orang meninggal atau melarikan diri sehingga sistem kerja atau organisasi untuk mengaktifkan kembali sistem kanal itu hilang. Akibatnya kanal itupun rusak atau tersendat, sehingga tanah yang sebelumnya subur, menjadi tandus, dan bencana kelaparanpun terjadi. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Baghdad_(1258)#cite_note-32, Op Cit, diakses 1 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*