Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (3)

in Sejarah

Setelah menaklukan Baghdad, pasukan Mongol bertolak ke Barat, menuju pusat-pusat peradaban Islam lainnya di Mediterania timur, atau Levant, dan seterusnya ke Mesir. Hanya berselang 2 tahun dari jatuhnya Baghdad, atau pada bulan Maret 1260, dinasti Ayyubiyah di Damaskus jatuh ke tangan bangsa Mongol. Tak lama setelah itu, orang Mongol merebut kota-kota di Palestina, yaitu Nablus (dekat situs kuno Syikhem) dan Gaza.

Setelah Damaskus berhasil dikuasai, berikutnya dinasti Mamluk di Mesir. Namun tiba-tiba tersiar kabar bahwa Khan Agung, Monke Khan baru saja meninggal dunia. Sebagai orang yang merasa kompeten untuk menjadi kandidat kuat mewarisi tahta Mongol mengantikan saudaranya, Hulagu memutuskan untuk kembali ke Mongolia dan meninggalkan sebagian pasukannya di Timur Tengah.

Namun sebelum kembali ke Mongolia, Hulagu masih menitipkan pesan kepada pasukannya untuk tetap meneruskan ekspedisi ke Mesir. Hulagu sempat mengirimkan utusan ke Kairo dan menuntut agar Sultan Mamluk al-Muzhafar Saifuddin Qutuz[1] segera menyerah. Dengan sisa pasukan yang ditinggalkannya, Hulagu berpikir dapat menuntaskan seluruh ekspedisi militernya di Mesir.

Wilayah kekuasaan Kekaisaran Mamluk di Mesir. (Gambar: alchetron.com)

Tapi Sultan Mamluk bukanlah Al-Mustasim (Khalifah Abbasiyah). Ia sudah jauh hari mendengar tentang kekuatan tentara Mongol dan serangkaian invasinya di Iran, Baghdad, dan Damaskus. Alih-alih gentar, Qutuz justru memutuskan untuk melakukan perlawanan. Begitu datang utusan Hulagu kepadanya, Qutuz meresponnya dengan cara memancung utusan tersebut, lalu memajang kepala utusan itu di Bab Zuweila, salah satu gerbang utama Kairo.

Tidak sampai di situ, Qutuz kemudian mengumpulkan bala tentaranya dan bergerak ke timur untuk menemui orang-orang Mongol yang sudah menguasai sebagian tanah Palestina. Untuk kebutuhan ekspedisi ini, Qutuz menjalin kerjasama dengan Pasukan Tentara Salib yang juga sedang menuju Palestina untuk merebut kota tersebut. setelah bernegosiasi  panjang, akhirnya pasukan salib bersedia memberikan perbekalan dan mengamankan jalur perjalanan bagi Qutuz.[2]

Pada bulan September 1260, bertemulah pasukan Qutuz dengan pasukan pasukan Mongol di daerah yang dikenal Ain Jalut yang terletak di tenggara Galilea. Pertempuran ini oleh sejarawan dianggap monumental, sebab disinilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasukan Mongol yang tak terkalahkan itu bertekuk lutut. Untuk pertama kalinya sejak Genghis Khan memulai serangkaian invasi dan penaklukannya setengah abad yang lalu, bangsa Mongol mengalami kekalahan di medan perang besar.[3] Dan setelah kekalahan ini, Bangsa Mongol tidak pernah mampu menembus lebih jauh wilayah ekspansinya ke barat.

Lokasi Pertempuran Mongol Vs Mamluk di Ain Jalut. (Gambar: alchetron.com)

Kekalahan tentara Mongol di Ain Jalut, tidak hanya berdampak pada kelangsungan hidup dinasti-dinasti Islam, tapi juga kawasan Afrika dan Eropa. Kata majalah Saudi Aramco World, pertempuran itu juga menentukan jalannya peradaban Barat. ”Seandainya orang Mongol berhasil menaklukkan Mesir, mereka mungkin bisa, setelah kembalinya Hülegü, terus melintasi Afrika Utara menuju Selat Gibraltar,”. Mengingat pada saat itu orang Mongol juga telah mencapai Polandia, mereka bisa saja mengepung Eropa dari berbagai sisi.”Di bawah keadaan seperti itu, akankah Renaisans Eropa bisa terjadi?” tanya majalah tersebut. ”Dunia dewasa ini bisa saja tidak seperti sekarang.”[4]

Di tempat lain, wilayah bekas penaklukan Hulagu di Persia akan menjadi basis dinasti Safawi yang didirikan pada 1501 M. Hasil penaklukan bangsa Mongol ke Baghdad dan sejumlah wilayah lainnya di tanah Persia, telah mengembalikan bangsa tersebut pada identitas aslinya, namun tetap menganut agama Islam. Para ilmuan-ilmuan Persia mulai kembali menggunakan Bahasa Persia dalam pembelajaran dan karya-karyanya. Persia tumbuh menjadi otentik dengan Islam yang bersenyawa dengan kebudayaannya.

Setelah jatuhnya Baghdad, prestise bangsa Arab turun drastis. Hampir tidak ada lagi wilayah yang dikelola oleh bangsa Arab yang cukup disegani setelah itu. Tapi tidak demikian dengan agama Islam, agama ini menyebar ke seluruh dunia. Islam dianut oleh berbagai bangsa, dan bersintesa dengan kebudayaan sekitar. Pergeseran kekuatan politik Islam berpindah dari Baghdad ke Damaskus dan Kairo.

Adapun Baghdad, wilayah tersebut tidak pernah mampu kembali bangkit seperti semula di bawah pemerintahan dinasti Abbasiyah. Kesembuhan Baghdad dari invasi Mongol pun tidak berlangsung lama. Pada tahun 1401 M, Baghdad kembali ditaklukan dengan mudah oleh penakluk berdarah campuran Turki-Mongol, yang dikenal di Barat sebagai Tamerlaine, atau di Indonesia ia dikenal dengan nama Timur Leng. Dan Baghdad yang kita kenal hari ini, menjadi Ibu Kota Negara Irak pada tahun 1921, setelah Perang Dunia I. (AL)

Selesai.

Sebelumnya:

Invasi Mongol ke Baghdad 1258 M (2)

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari buku: Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), chapter 18. Adapun informasi lain yang didapat dari luar buku tersebut dicantumkan dalam catatan kaki.

Catatan Kaki:

[1] Qutuz adalah orang Mamluk, budak yang berasal dari Turki. Orang-orang Mamluk menjadi budak-prajurit untuk para sultan Ayyubiyah di Kairo, Mesir. Akan tetapi, pada 1250, para budak itu menggulingkan tuan-tuan mereka dan menjadi para penguasa Mesir. Qutuz sendiri adalah bekas budak-prajurit yang belakangan merebut kekuasaan dan menjadi sultan pada 1259. Ia seorang pejuang tangguh yang tidak mau menyerah begitu saja. Namun, peluangnya tipis untuk mengalahkan orang Mongol. Kemudian, dimulailah berbagai peristiwa yang memengaruhi jalannya sejarah. Lihat, https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102012085#h=6, diakses 1 November 2017

[2] Lihat, https://alchetron.com/Battle-of-Ain-Jalut-1858668-W, diakses 1 November 2017

[3] Sejarawan Rashid al-Din mengatakan bahwa orang Mongol dijebak oleh orang Mamluk di Megido. Qutuz menyembunyikan sebagian besar pasukan berkudanya di bukit-bukit sekeliling dataran itu dan memerintahkan sebuah pasukan kecil maju untuk memancing serangan Mongol. Karena mengira bahwa pasukan kecil itu adalah seluruh tentara Mamluk, orang Mongol pun menyerang. Qutuz sekonyong-konyong menjatuhkan perangkapnya. Ia memerintahkan pasukan cadangan untuk berderap turun dari tempat-tempat persembunyian mereka dan menyerang orang Mongol dari samping. Orang Mongol pun dikalahkan. Lihat, https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102012085#h=6, Op Cit

[4] Ibid

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*