Jejak Islam di Tanah Papua (2)

in Islam Nusantara

Dari banyak versi atau teori masuknya Islam ke Papua, versi Maluku (Bacan, Ternate dan Tidore) yang cukup memiliki landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini mengingat kerajaan-kerajaan di Maluku memang memiliki pengaruh yang luas sejak zaman purba. Di samping itu, mereka sudah memiliki kesamaan bahasa yang menjadi lingua franca perdagangan, yang pada era masuknya Islam, bahasa ini menjadi sebuah modal unggulan untuk menyebarkan agama Islam secara damai di Tanah Papua.

—Ο—

 

Dari berbagai catatan hasil penelitian terkait sejarah masuknya Islam ke Papua, salah satu yang cukup terkenal dan komprehesif adalah hasil penelitian dari Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Yapis Papua (UNIYAP), Toni Victor Mandawiri Wanggai. Dalam disertasinya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua”, ia mengemukakan setidaknya terdapat 7 versi atau teori masuknya Islam ke tanah Papua. Yaitu versi Papua sendiri, versi Aceh, Arab, Jawa, Banda, Bacan, serta versi Tidore dan Ternate.[1] Berikut ini adalah ketujuh versi tersebut:

Versi/Teori Papua: Teori ini merupakan pandangan adat dan legenda yang melekat di sebagian rakyat asli Papua, khususnya yang berdiam di wilayah Fakfak, Kaimana, Manokwari dan Raja Ampat (sorong). Teori ini memandang Islam bukanlah berasal dari luar Papua dan bukan dibawa dan disebarkan oleh kerajaan Ternate dan Tidore atau pedagang Muslim dan da’i dari Arab, Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi. Namun Islam berasal dari Papua itu sendiri sejak pulau Papua diciptakan oleh Allah Swt. Mereka juga mengatakan bahwa agama Islam telah terdapat di Papua bersamaan dengan adanya pulau Papua sendiri, dan mereka meyakini kisah bahwa dahulu tempat turunya Nabi Adam dan Hawa berada di daratan Papua.[2]

Versi/Teori Aceh: Menurut versi ini, Islam datang ke Papua tahun 1360 yang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar. Pendapat ini juga berasal dari sumber lisan yang disampaikan oleh putra bungsu Raja Rumbati ke-16 (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati ke-17 (H. Ismail Samali Bauw).  Versi ini menyebut Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374) di Rumbati dan sekitarnya hingga ia wafat dan dimakamkan di belakang mesjid kampung Rumbati pada tahun 1374.

Versi/Teori Jawa mengatakan pada tahun 1518 M, Sultan Adipati Muhammad Yunus dengan gelar Pangeran Seberang Lor anak dari Raden Patah dari Kerajan Islam Demak mengadakan kerjasama dengan kesultanan Ternate dan Tidore yang mengirimkan dai dan mubalig ke Papua dengan misi menyiarkan Islam.[3]

Versi/Teori Arab. Teori ini menjelaskan bahwa agama Islam pertama kali mulai diperkenalkan di tanah Papua, tepatnya di jazirah Onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab. Pengislaman ini diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-16, dengan bukti adanya Mesjid Tunasgain yang berumur sekitar 400 tahun (kemungkinan dibangun sekitar tahun 1587).

Versi/Teori Banda, berpendapat bahwa dakwah Islam di Papua, khususnya di Fakfak, dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda dan Seram Timur, salah satunya pedagang Arab bernama Haweten Attamimi yang telah lama menetap di Ambon. Proses pengislaman itu dilakukan dengan cara khitanan. Di bawah ancaman penduduk setempat jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh akan dibunuh, namun akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut sehingga penduduk setempat berduyun-duyun masuk Islam.

Versi/Teori Bacan, berpendapat bahwa Islam di Papua berasal dari Bacan. Pada masa pemerintahan Sultan Mohammad al-Bakir, Kesultanan Bacan mencanangkan syiar Islam ke seluruh penjuru negeri, seperti Sulawesi, Fiilipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Thomas Arnold, Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521. Pada masa ini Bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati. Sultan Bacan kemudian meluaskan kekuasaannya hingga ke semenanjung Onin Fakfak, di barat laut Papua tahun 1606. Melalui pengaruhnya dan para pedagang Muslim, para pemuka masyarakat di pulau-pulau kecil itu lalu memeluk agama Islam. Meskipun pesisir menganut agama Islam, sebagian besar penduduk asli di pedalaman masih tetap menganut animisme.

Versi/Teori Ternate-Tidore, yang pendapat bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku Utara (Ternate-Tidore). Sumber sejarah Kesultanan Tidore menyebutkan bahwa pada tahun 1443 Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X atau Sultan Papua I) memimpin ekspedisi ke daratan tanah besar (Papua). Setelah tiba di wilayah Pulau Misool dan Raja Ampat, kemudian Sultan Ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawar putera Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi ). Kapita Gurabesi kemudian dikawinkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah. Dari situlah kemudian berdiri empat kerajaan di Kepulauan Raja Ampat tersebut, yakni Kerajaan Salawati, Kerajaan Misool atau Kerajaan Sailolof, Kerajaan Batanta, dan Kerajaan Waigeo.

Dari ketujuh versi atau teori di atas, Wanggai lebih cenderung menilai bahwa versi Maluku (Bacan, Ternate dan Tidore) yang cukup memiliki landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Salah satunya, hal ini didukung faktor geografisnya yang strategis, yang merupakan jalur perdagangan rempah-rempah (silk road) di dunia. Sebagaimana dikemukakan dalam banyak menelitian lainnya, jalur sutra laut adalah salah satu jalur global yang dimanfaatkan oleh para pelaut Arab kala itu untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Di Nusantara, jalur ini juga yang digunakan oleh masyarakat purba untuk melakukan interaksi dan komunikasi satu sama lain, hingga datangnya era Islam.

Di samping itu, hal lain yang membuat Syi’ar Islam di Papua menjadi lebih mudah karena kesamaan budaya dan bahasa. Bahasa yang dipakai tergolong bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan dan Sula (bahasa Biak di Raja Ampat: Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak dan Seram; maupun bahasa non Austronesia seperti di Ternate; Tidore dan Jailolo karena masuk golongan bahasa Halmahera Utara, yaitu bahasa Galela). Bahasa Onin telah lama digunakan sebagai lingua franca dalam perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bahasa ini dipakai oleh kalangan pedagang dan elit (pemimpin masyarakat) yang terdapat di pesisir pantai selatan “Kepala Burung” dan Semenanjung Bomberey (Fakfak dan Kaimana).[4]

Kemudahan komunikasi dengan para pemimpin masyarakat Papua, yang kemudian memeluk Islam, mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan “Petuanan” otonom di bawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terdapat di Raja Ampat (Kolano Fat), yang tetap terpatri hingga kini sebagai identitas Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terdiri dari Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Bilinta) dan Kerajaan Batanta. Kerajaan-kerajaan ini berdiri dengan perangkatnya masing-masing, yang diberi gelar oleh Kesultanan Tidore, sebagai imbalan.[5]

Bersambung…

Jejak Islam di Tanah Papua (3)

Sebelumnya:

Jejak Islam di Tanah Papua (1)

Catatan kaki:

[1] Dalam disertasinya ketua Nahdatul Ulama Papua itu mengatakan bahwa sumber utama penelitiannya adalah data-data historis Portugis, Spanyol, dan Belanda. Didukung juga dengan sumber-sumber lokal Ternate dan Tidore, dan sumber tertulis serta lisan dari para keturunan raja di Raja Ampat dan Fakfak. Selain itu juga dilengkapi oleh laporan penelitian arkeologis, yang data-data tersebut dibaca menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah sosial, terutama ilmu sosiologi dan antropologi. Lihat, http://www.mirajnews.com/2017/06/penelitiian-7-teori-islamisasi-di-tanah-papua.html, diakses 18 Februari 2018

[2] Lihat, Malem Dhiwa, Sejarah Peradaban Islam di Papua, Op Cit

[3] Lihat, http://www.mirajnews.com/2017/06/penelitiian-7-teori-islamisasi-di-tanah-papua.html, Op Cit

[4] Lihat, Malem Dhiwa, Sejarah Peradaban Islam di Papua, http://www.academia.edu/29769576/Sejarah_Peradaban_Islam_di_Papua.docx, diakses 18 Februari 2018

[5] Ibid