Jejak Islam di Tanah Papua (3)

in Islam Nusantara

Di kota Fakfak, masih tersimpan 5 (lima) buah manuskrip berumur 800 tahun berbentuk kitab dengan berbagai ukuran yang diamanahkan kepada Raja Patipi XVI (H. Ahmad Iba). Manuskrip tersebut berupa mushaf Al-Qur’an yang berukuran 50 cm x 40 cm. Mushaf ini bertulis tangan di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti kitab zaman sekarang.”

—Ο—

 

Disamping pendapat para ahli, di pulau Cendrawasih juga masih terdapat bukti-bukti material yang merupakan jejak peninggal Islam di Tanah Papua. Di antaranya: tiga mesjid kuno, masing-masing Mesjid Tunasgain di kampung Tunasgain, distrik Fakfak Timur; Mesjid Tubirseram di pulau Tubirseram; dan Mesjid Patimburak di kampung Patimburak yang sudah berusia ratusan tahun.[1] Selain bukti mesjid-mesjid tersebut, di Desa Darembang Kampung Lama juga terdapat peninggalan arkeologis berupa tiang-tiang kayu yang dicat. Melihat dari ukiran dan bentuknya, tiang-tiang kayu ini diyakini sebagai sokoguru sebuah masjid yang sudah keropos.[2]

Masjid Tunasgain adalah salah satu Masjid tertua di Papua. Diperkirakan usianya sudah mencapai 400 tahun. Sumber gambar: twitter.com @CondetWarrior

 

Mesjid Patimburak di Fakfak, Papua. Sumber gambar: indonesia-tourism.com

 

Terdapat juga bukti lain berupa naskah-naskah kuno. Di kota Fakfak, masih tersimpan 5 (lima) buah manuskrip berumur 800 tahun berbentuk kitab dengan berbagai ukuran yang diamanahkan kepada Raja Patipi XVI (H. Ahmad Iba). Manuskrip tersebut berupa mushaf Al-Qur’an yang berukuran 50 cm x 40 cm. Mushaf ini bertulis tangan di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti kitab zaman sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu  tauhid dan kumpulan doa. Ada tanda tangan dalam kitab itu berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke. Sedangkan tiga manuskrip berikutnya dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah.  Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip manuskrip daun lontara (Fakfak: daun pokpok).[3]

Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba menunjukkan Al-Qur’an kuno di rumahnya di Fakfak, Papua. Sumber Foto: tribunislam.com

Berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, inilah 5 (lima) manuskrip pertama yang masuk ke Papua yang dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudera Pasai untuk melakukan perjalanan dakwah ke pulau Nuu War (Fakfak: Papua) tepatnya di daerah Mesia atau Mes, kini distrik Kokas kebupaten Fakfak pada tanggal 17 Juli 1214 M. Bila melihat dari tahunnya, bisa diartikan penyebaran Islam di Papua sezaman dengan penyebaran Islam di pulau Jawa.

Daerah Raja Ampat

Di daerah Raja Ampat terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya ialah: Living Monument (mesjid-mesjid) dan Dead Monument (makam-makam Islam lama). Setidaknya ada 2 makam yang terbuat dari tembok setinggi 50 cm berbentuk persegi. Makam yang besar  berukuran panjang 610 cm, lebar  340  cm, makam-makam  yang  lain  berupa tumpukan  batu  yang disusun persegi panjang,  tetapi tidak ditemukan  data  sejarah yang jelas,  karena  nisan yang terbuat dari  kayu  telah  rusak. Dari informasi penduduk setempat, didapat informasi bahwa semua guru-guru agama yang dimakamkan di tempat itu berasal  dari Tidore dan Ternate.

Kepulauan Mansinam Manokwari

Di daerah Manokwari terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya: salinan manuskrip yang aslinya berbahasa Tidore dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, masih ada bukti fisik berupa benda kuno di antaranya; Teks khotbah berhuruf Arab berbahasa Melayu bertarikh tanggal 28 Rajab tahun 1319 M;  Kitab Maulid Geser, dibeli oleh Raja Rumbati Muhammad Sidik Bauw abad XV; dan Kitab Barzanji dalam Bahasa Jawa Kuno yang ditulis 5 Ramadlan 1622 M.[4]

Selain bukti peninggalan fisik, dapat diketahui pula corak Islami atau kehidupan sosio-kultural masyarakat di beberapa wilayah tanah Papua:

Daerah Kepulauan Raja Ampat di daerah Sorong. Selain tercatat dalam sejarah sebagai bagian dari Kekuasaan Kesultanan-Kesultanan di Maluku (Tidore, Ternate, Halmahera, dan Bacan), secara geografis daerah ini juga merupakan jembatan darat multi fungsi yang menghubungkan daerah Papua dengan daerah-daerah (Islam) di kawasan Timur Indonesia.

Sejak terbentuknya masyarakat Muslim, baik di Semenanjung Onin, Kowiai (Kaimana), maupun kepulauan Raja Ampat, pada umumnya telah dilaksanakan prosesi perkawinan sesuai ajaran Islam. Di pulau Misool pun pernikahan dilaksanakan berdasarkan pada hukum perkawinan dan tata cara sesuai dengan ajaran Islam. Dalam acara lamaran disertai dengan acara pembayaran maskawin dilakukan menurut adat dan tradisi setempat, namun dalam ikrar (ijab-kabul) pernikahan selalu dilakukan berdasarkan tata cara hukum  Islam. Pengaruh Islam juga terlihat nyata dalam perilaku masyarakat Waigeo dalam masalah perkawinan. Mereka yang berkelas bangsawan dan beragama Islam, melakukan sistem perkawinan bersifat endogem dengan adat perkawinan sepupu silang (cross cousin marriage). Mereka melakukan sistem perkawinan ini setelah masyarakat memeluk Islam, bukan merupakan unsur budaya asli mereka.[5]

Di bidang sosisal, pengaruh Islam tampak dalam berbagai kegiatan  seremonial bersifat ritual, seperti upacara yang berkaitan dengan perkawinan, kelahiran, sunatan, pembangunan  rumah baru, memasuki  rumah baru, kesemuanya ini diwujudkan dengan pembacaan kitab barzanji.[6]

Daerah Fakfak dengan sejumlah Adat Raja-Raja atau Petuanan yang dimilikinya. Hampir seluruh daerah Petuanan di Fakfak ini amat kental dengan nuansa Islamnya. Hal ini berarti bahwa agama Islam telah amat lama berkembang dan hidup di tengah-tengah masyarakat setempat.[7]

Daerah Biak-Numfor. Ketika terjadi gejolak masyarakat di daerah Maluku utara, diketahui bahwa terdapat jumlah masyarakat asal Biak yang telah beberapa generasi menetap di daerah Maluku utara tersebut. Konon kehadiran mereka di sana karena faktor ikatan psikologis-kultrural. Dahulunya mereka berada dalam naungan satu kekuasaan yang sama: Sultan Tidore. Demikian pula adanya gelar-gelar jabatan yang kini telah berubah menjadi nama Keluarga (fam), yang dahulunya berasal dari Sultan, membuktikan bahwa di Biak terdapat jejak dakwah Islam yang bisa dilacak lebih lanjut.[8]

Daerah Manokwari, baik di sekitar Manokwari maupun daerah pedalaman yang termasuk daerah kabupaten ini. Sebut saja salah satu daerah di Pulau Mansinam, tempat banyak dijumpai dokumen tertulis yang juga layak diteliti lebih lanjut kebenaran isinya.[9]

Daerah Jayapura, terutama daerah seputar pusat kota. Terdapat sejumlah nama daerah yang bernuansa Islami, misalnya nama desa Hamadi, Tobati maupun Nafri. Begitu pula nama desa Gurabesi, yang konon diambil dari nama moyang penguasa Kepulauan Raja Ampat, salah seorang panglima Sultan Tidore abad XV.[10]

Demikianlah sekelumit di antara sekian banyak jejak Islam di tanah Papua. Bukti-bukti tersebut setidaknya memberikan gambaran awal bagaimana Islam sama sekali bukan hal “asing” dan “barang baru” di Tanah Papua. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Jejak Islam di Tanah Papua (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://islamindonesia.id/opini/sejarah-inilah-bukti-islam-bukan-barang-baru-di-tanah-papua.htm, diakses 18 Februari 2018

[2] Lihat, Sigit Kamseno, Melacak Jejak-jejak Islam di Tanah Papua, http://simbi.kemenag.go.id/pustaka/images/materibuku/makalah-islam-melacak-jejak-jejak-islam-di-tanah-papua.pdf, diakses 18 Februari 2018

[3] Ibid

[4] Lihat, Malem Dhiwa, Sejarah Peradaban Islam di Papua, http://www.academia.edu/29769576/Sejarah_Peradaban_Islam_di_Papua.docx, diakses 18 Februari 2018

[5] Lihat, https://islamindonesia.id/opini/sejarah-inilah-bukti-islam-bukan-barang-baru-di-tanah-papua.htm, diakses 18 Februari 2018

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid