John Esposito (2): Tanya Jawab bersama Esposito

in Orientalis

“Kemudian revolusi Iran pecah dan itu adalah perubahan besar. Ini menempatkan Islam, Timur Tengah, hubungan Muslim-Barat pada perhatian terdepan, dan sebelumnya itu kurang diperhatikan, bahkan sama sekali tidak diperhatikan.”

–O–

John L. Esposito Profesor Agama dan Hubungan Internasional serta studi Islam di Universitas Georgetown, berbicara pada jamuan makan malam tahunan Dewan Hubungan Amerika-Islam di Oklahoma pada 5 April 2014. Photo: newsok.com

John L. Esposito tadinya berencana untuk menjadi seorang pendeta Katolik, namun dia malah menjadi seorang ilmuwan yang ahli dalam Studi Islam, dia telah diakui oleh dunia internasional dan berkeliling dunia karenanya. Pada usianya yang ke-73, dia menjadi pembicara utama pada acara jamuan makan malam tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations) cabang Oklahoma pada 5 April 2014.

Dalam sesi tanya-jawab pada acara tersebut, Esposito membahas latar belakangnya, bagaimana dia menjadi tertarik pada Islam, ditambah kekhawatirannya tentang suara-suara anti Muslim—yang disebut “Islamophobia”—di beberapa komunitas di Amerika Serikat (AS).

Pertanyaan (P): Ceritakan tentang latar belakang agama anda.

Jawaban (J): Saya lahir dan dibesarkan (dalam linkungan) Katolik Roma, dan pada usia 14 tahun, saya pergi (studi) untuk menjadi Fransiskan Kapusin (salah satu ordo dalam Katolik Roma yang didirikan oleh Santo Francis dari Asisi pada tahun 1209 di Italia. Fokus utama dari ordo ini adalah pengabdian untuk orang-orang miskin dan terpinggirkan).[1] Saya meninggalkan (studi) pada usia 24 sebelum ditahbiskan menjadi pendeta. Saya ingin menjadi pendeta, tetapi sesuatu mengatakan kepada saya bahwa itu bukanlah sesuatu yang ingin saya lakukan selama sisa hidup saya.

Saya tidak begitu yakin apa artinya itu…. Saya akhirnya mengajar teologi Katolik di sekolah Katolik perempuan selama enam tahun. Akhirnya, saya mendapat gelar Ph.D., dan jurusan mayor saya adalah Islam dan jurusan minornya adalah Hindu dan Budha.

P: Bagaimana anda menjadi tertarik terhadap Islam?

J: Saya mengajar di sebuah perguruan tinggi Katolik, dan anda perlu mendapatkan gelar Ph.D. Hal yang normal pada masa itu—ini adalah akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an–adalah  bahwa saya akan pergi ke universitas Katolik untuk mendapatkan Ph.D. dalam Studi Katolik. Universitas tempat saya berada memiliki program doktoral di mana anda dapat mengambil jurusan mayor dan jurusan minor. Seorang profesor mendorong saya untuk mengambil jurusan mayor Studi Islam dan jurusan minor di Hindu dan Budha.

Saya lebih tua dari kebanyakan mahasiswa pascasarjana lainnya dan sudah menikah. Saya hanya ingin menyelesaikan studi dengan cepat, sebenarnya saya sangat-sangat enggan tapi … Saya setuju untuk mengambil studi dalam Studi Islam. Saya kemudian tercengang … karena pada masa itu orang-orang selalu menempatkan Kekristenan dan Yudaisme di satu kategori dan semua agama lain di kategori lain—mereka dikenal sebagai agama-agama dunia atau agama-agama Timur.

Jadi Hindu dan Budha dikelompokkan dengan Islam, tetapi ketika saya belajar Islam, saya menyadari bahwa mereka ada di kategori yang salah. Mereka (seharusnya) adalah bagian dari kategori Yahudi-Kristen-Islam. Itu membuat saya menemukan seluruh sejarah yang saya tidak tahu dan bahwa kami tidak pernah diajarkan di sekolah sebelumnya. Kebanyakan orang Amerika di masa saya bahkan tidak menyadari bahwa Islam adalah agama terbesar kedua dan tidak memiliki pengetahuan tentang abad-abad awal Islam dan koneksinya, baik secara struktural maupun historis.

John Esposito ketika muda.

P: Bagaimana anda menjadi dikenal orang karena pengetahuan anda tentang Islam dan Timur Tengah?

J: Saya menemukan ketika saya selesai (mengambil gelar) pada tahun 1974 bahwa tidak ada orang lain yang tertarik. Tidak ada pekerjaan untuk mengajar tentang Islam. Tetapi hal yang unik adalah karena saya belajar tiga agama (tidak) seperti kebanyakan dari kita, saya (figur yang) ideal. Tepat pada saat itu perguruan tinggi dan universitas mengembangkan departemen agama dan menawarkan studi tentang agama di dunia.

Kemudian revolusi Iran pecah dan itu adalah perubahan besar. Saya bercanda mengatakan bahwa saya berutang karir dan (mobil) Lexus pertama saya untuk itu. Ini menempatkan Islam, Timur Tengah, hubungan Muslim-Barat pada perhatian terdepan, dan sebelumnya itu kurang diperhatikan, bahkan sama sekali tidak diperhatikan. Dari tahun 1974 hingga 1979, saya memiliki empat artikel (tentang Islam) yang diterbitkan. Dari tahun 1980 hingga hari ini, saya memiliki sekitar 45 buku dalam 35 bahasa, dan itu tidak akan pernah terjadi pada masa-masa awal itu. (PH)

Bersambung ke:

John Esposito (3): Islamophobia

Sebelumnya:

John Esposito (1): Professor Amerika Serikat Pembela Islam

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan bebas dari Carla Hinton, “Q&A with Islamic studies scholar John L. Esposito”, dari laman http://newsok.com/article/3954360, diakses 1 Mei 2018. Adapun informasi lain yang bukan didapat dari artikel tersebut dicantumkan di halaman kaki.

Catatan Kaki:

[1] “Capuchin Franciscan, Province of St. Mary: Frequently Asked Questions”, dari laman http://www.capuchin.org/vocations/BeginningtheDiscernment_process/faq, diakses 1 Mei 2018.