John Esposito (3): Islamophobia

in Orientalis

“Islamophobia adalah ketika anda memiliki ketakutan irasional tidak berdasar, yang kemudian cenderung mengarah pada bias, diskriminasi, perkataan yang mendorong kebencian, dan kejahatan berdasarkan kebencian. Itu adalah ketakutan tak berdasar. Sebagian besar Muslim nyatanya takut terhadap ekstremisme Muslim, dan itu dapat dimengerti.

–O–

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya mengenai tanya jawab tentang Islam bersama John L. Esposito dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations) cabang Oklahoma pada 5 April 2014.[1]

Pertanyaan (P): Apa yang membuat anda tertarik terhadap hubungan Islam-Kristen?

Jawaban (J): Tentunya, saya memiliki latar belakang Kristen yang kuat. Saya menyadari bahwa jika kita akan berbicara tentang tradisi Yahudi-Kristen, maka kita harus berbicara tentang tradisi Yahudi-Kristen-Islam – bahwa di sana ada sebuah hubungan. Misalnya, sama seperti orang Kristen yang menerima nabi-nabi dalam Alkitab dan wahyu pada Perjanjian Lama tetapi (juga) menerima Perjanjian Baru dengan Yesus, demikian juga, orang-orang Muslim menerima pewahyuan Taurat kepada Musa dan Injil kepada Yesus.

Jika anda membaca Al-Qur’an, anda akan menyadari betapa sering Yesus disebutkan dan menyadari bahwa Perawan Maria disebutkan lebih banyak dalam Al-Quran daripada yang ada dalam Perjanjian Baru. Kemudian anda mulai melihat koneksi historis dan intelektual, baik dalam hal koeksistensi, pertukaran, dan konflik.

P: Apa pendapat anda tentang sikap anti-Muslim di beberapa komunitas yang ada di seluruh negeri (Amerika Serikat)?

J: “Islamophobia”, seperti yang saya definisikan bukanlah tentang orang-orang yang memiliki semacam kritik berdasarkan fakta yang baik dari agama Islam. Tidak ada yang negatif tentang itu. Orang-orang berhak atas jenis kritik tersebut. “Islamophobia” adalah ketika anda memiliki ketakutan irasional tidak berdasar, yang kemudian cenderung mengarah pada bias, diskriminasi, perkataan yang mendorong kebencian, dan kejahatan (berdasarkan) kebencian. Itu adalah ketakutan tak berdasar. Apa yang saya maksud dengan itu? … Itu berarti orang harus takut ekstremisme Muslim. Sebagian besar Muslim (nyatanya) takut (terhadap) ekstremisme Muslim.

Korban utama ekstremis Muslim adalah orang-orang yang hidup di dunia Muslim yang jumlahnya besar. Itu adalah ketakutan yang masuk akal. Saat itulah anda mulai memukul rata agama dan sebagian besar pengikutnya, dan memaksakan kepada mereka kesalahan kolektif atas tindakan yang dilakukan oleh ekstrimis yang mungkin tumbuh dalam komunitas Muslim, melainkan yang, seperti yang suka saya sebut, “membajak agama mereka.” Dan kita tidak melakukannya dengan agama-agama arus utama kita lainnya. Kami mengakui bahwa agama memiliki transendensi dan sisi gelapnya. Setiap agama memiliki orang-orang yang menyalahgunakannya dan terlibat dalam kekerasan.

P: Bagaimana caranya memerangi “Islamophobia”?

J: Pertama-tama, anda jangan membuat para korban (menjadi pihak yang) bertanggung jawab. Misalnya, salah satu garis besar yang sering ditanyakan orang-orang kepada saya, terutama untuk delapan tahun pertama setelah (peristiwa) 9/11, orang-orang mengatakan kaum Muslim tidak berbicara menentang ini (ekstremis Muslim). Saya telah melihat situs web yang berbicara menentang hal ini tetapi anda tidak bisa mendapatkannya di media besar.

Lebih penting lagi, tidak setiap kali ada serangan, orang harus mengharapkan umat Islam untuk menjelaskannya, meskipun mereka melakukannya. Ya, komunitas (Islam) harus mengangkat diri dan berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi komunitas lain perlu dilibatkan, komunitas lain yang mewakili (mendapat semacam perlakuan yang sama) atau yang merupakan kelompok yang mengalami diskriminasi (pada waktu lain).

Gerakan Islamophobia meningkat di AS setelah terjadinya serangan teroris di Paris. Photo: ABC News/Patrick Rocca

–O–

Lebih lanjut tentang perkembangan Islamophobia dalam sudut pandang Esposito, simak wawancara Esposito dengan Habib El Mallouki pada 15 Januari 2016 di Jerman.[2]

P: Carl Schmitt, seorang ahli hukum sayap kanan mengatakan bahwa setiap masyarakat tampaknya membutuhkan musuh. Dalam pandangan anda, apakah Islam melayani fungsi musuh saat ini di masyarakat Barat?

J: Karena saya kurang tahu karya Schmitt, saya tidak akan berkomentar secara langsung. Tapi saya pikir adil untuk mengatakan bahwa secara historis suku-suku, identitas etnis, dan bangsa-bangsa telah menggambarkan “kelompok lain” berdasarkan sudut pandang mereka sendiri, atau lebih akuratnya, menentang kelompok lain berdasarkan stereotipe. Saat ini, banyak orang di Eropa dan Amerika telah mengalami penurunan ekonomi di negara-negara mereka dan, seperti laporan jajak pendapat, takut akan masa depan mereka dan terutama tentang anak-anak mereka.

Hal itu telah memberi ruang bagi pertumbuhan partai dan kandidat politik ekstrem kanan, anti pemerintah, anti imigran, dan anti Muslim. Begitu juga dengan gerakan Islamophobia, penulis dan website media sosial yang memposting hal-hal bias, diskriminasi, ujaran kebencian, dan kejahatan berdasarkan kebencian. Mereka mengeksploitasi aksi teroris yang mengerikan dan biadab—yang tentu saja harus dikutuk dan diburu—untuk memukul rata dan mengutuk Islam, dan sebagian besar umat Islam.

P: Sebuah studi akademis tentang Islamophobia di Jerman yang diterbitkan Januari lalu menunjukkan bahwa setidaknya separuh penduduk Jerman memiliki pandangan Islamophobia. Apakah statistik ini juga tercermin dalam masyarakat Barat lainnya?

J: Karena situasinya bervariasi dari satu negara ke negara lain, (tapi) cukup adil untuk mengatakan bahwa di banyak negara Eropa—juga di Amerika—Islamophobia telah menjadi masalah besar, berkembang pesat setelah serangan di Paris dan San Bernardino, California.

P: Apakah prasangka ini bersifat historis atau ada alasan lain untuk itu?

J: Jelas, serangan seperti 9/11 di Amerika Serikat dan 7/7 di Inggris dan aktivitas teroris domestik dan internasional lainnya dan serangan oleh al-Qaeda, IS dan lainnya menghasilkan ketakutan yang dapat dimengerti yang kemudian dieksploitasi oleh politisi, partai politik, dan bermacam-macam pengkhotbah kebencian. Jika anda menggabungkan respons saya terhadap pertanyaan pertama, dengan peran yang sangat signifikan dari media massa dan media sosial, yang berpengaruh besar terhadap opini dan budaya populer, anda memiliki kombinasi (masyarakat) yang mudah terbakar (emosi) sebagai hasilnya. (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

John Esposito (2): Tanya Jawab bersama Esposito (1)

Catatan Kaki:

[1] Carla Hinton, “Q&A with Islamic studies scholar John L. Esposito”, dari laman http://newsok.com/article/3954360, diakses 1 Mei 2018.

[2] Habib El Mallouki, “Islam′s image problem”, dari laman http://en.qantara.de/content/interview-with-the-islam-scholar-john-louis-esposito-islams-image-problem, diakses 1 Mei 2018.