Kaum Quraisy (1)

in Studi Islam

Last updated on April 27th, 2019 07:21 am


Apa dan siapa Kaum Quraisy? Dalam Al-Quran, Allah SWT bahkan mengabadikan mereka dalam satu surat khusus, yang dikenal dengan Surah Quraisy (106). Lalu apa keistimewaan mereka? dan bagaimana kiprah mereka sebelum datangnya syiar Islam?

Gambar ilustrasi. Sumber:
ummuhabibah.com

Rasululllah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan (Nabi) Ismail, Kinanah, dan memilih Quraisy dari (keturunan) Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari (keturunan) Quraisy, lalu memilih dari putra putri Hasyim dari (keturunan) Quraisy, lalu memilihku dari Bani Hasyim” (HR. Muslim).

Apa dan siapakah Quraisy? Menurut sejumlah catatan sejarah, nama ini bahkan sudah muncul dan dikenal dunia beberapa abad sebelum lahirnya Rasulullah Saw. Dalam Al-Quran, Allah SWT bahkan mengabadikan Quraisy dalam satu surat khusus, yang dikenal dengan Surah Quraisy (Qs. 106). Padahal kaum ini terbilang kelompok kecil di antara banyak peradaban raksasa yang ada saat itu.

O. Hashem, dalam salah satu karyanya berjudul “Muhammad Sang Nabi”, memperkirakan bahwa jumlah populasi penduduk Mekah pada masa Rasululllah Saw sekitar 5000 orang. Jumlah itu sudah termasuk semua imigran dari berbagai ras dan suku bangsa yang bermukim di kota tersebut.[1] Memang, di antara 5000 orang tersebut Kaum Qurasy bisa dikatakan mayoritas. Tapi di antara himpitan sejumlah imperium besar seperti Romawi, Persia dan Yaman ketika itu, jumlah mereka sangat lah kecil.

Catatan pendek ini, hanya berusaha sedikit membedah identitas kaum atau kelompok kecil ini, dan bagaimana kiprah mereka sebelum datanganya syiar Islam.

Kota Mekah

Secara geografis, Kota Mekah terletak di Jazirah Arabia, tepatnya di daerah yang bernama Hijaz. Wilayah ini terletak persis di tepi sebelah timur Laut Merah – membentang dari utara ke selatan sejauh kurang lebih 1200 Km. Di bagian utara, Hijaz berbatasan dengan Palestina sampai ke tanah genting Suez. Sedang di bagian selatan, Hijaz berbatasan dengan wilayah Yaman. Nama Hijaz sendiri artinya pembatas, atau yang menghalangi. Karena wilayah ini membatasi wilayah pantai di tepi Laut Merah dengan daerah Najd yang terletak di tengah Jazirah Arabia.


Bagian yang berwarna hijau adalah batasan yang menunjukkan tanah Hijaz. Di sebelah kirinya adalah Laut Merah, sedang sebelah kanannya adalah wilayah Najd. Sumber gambar: wikipedia.org

Beberapa ribu tahun sebelum kerasulan Muhammad Saw, di kawasan Hijaz ini sudah bermukim beberapa suku bangsa. Orang-orang Arab sendiri membagi mereka menjadi tiga golongan besar, yaitu:

Pertama, Arab Baidah. Suku ini adalah orang Arab yang telah musnah. Besar kemungkinan mereka ini adalah suku bangsa Ham yang dulunya menempati Dataran Tinggi Baktria (sekarang kawasan Asia Tengah).  Para ahli geografi bangsa Arab menyebut Dataran Tinggi Baktria dengan nama Ummul Bilad atau induk negeri-negeri. Karena dari tempat inilah diperkirakan lahirnya peradaban pertama manusia.[2]

Yang berwarna biru diperkirakan lokasi Dataran Tinggi Baktria. Tempat ini dianggap sebagai awal lahirnya peradaban. Oleh para ahli geografi Arab, tempat ini disebut Ummul Bilad. Dari sinilah diperkirakan nenek moyang bangsa Arab datang. Sumber gambar: wikipedia.org

Kedua, Arab Ariba, atau Mutariba. Mereka disebut juga “Arab Pribumi”. Orang-orang inilah yang sekarang dikenal sebagai Suku Bangsa Semit, atau suku asli penghuni Jazirah Arab. Suku bangsa ini datang ke Jazirah Arab dan membinasakan suku Arab ul Baidah yang sudah pertama-tama menghuni wilayah tersebut. Suku Arab ul Ariba diperkirakan berasal dari wilayah Babilonia. Dalam Kitab Ibrani, orang-orang ini dianggap sebagai keturunan Kahtan dan Joktan yang merupakan putra-putra Eber.[3] Dari mereka ini kelak lahir sejumlah suku bangsa yang sebagiannya juga disebut di dalam Al-Quran, seperti Kaum Ad (umat Nabi Hud),[4] Tsamud (umat Nabi Saleh),[5] Amalika, dan Jurhum.[6]

Dari keempat kaum yang disebut di atas, Kaum Ad dan Tsamud – sebagaimana disebut dalam Al-Quran – sudah hilang dari muka bumi. Adapun Kaum Amalika, mereka adalah penghuni pertama wilayah Hijaz tengah. Mereka kemudian beranak pihak di kawasan tersebut dan melahirkan banyak pemukiman, termasuk di antaranya Kota Madinah sekarang. Tapi kemudian mereka musnah oleh serangan Kaum Jurhum yang berkuasa di Selatan. Setelah melenyapkan Kaum Amalika, Kaum Jurhum tersebut bermukim di wilayah Hijaz tengah dan menurunkan beberapa generasi di sana.[7]

Hingga tiba masa sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Ketika itu datanglah sebuah kafilah dari Babilonia (Irak sekarang). Mereka berjalan dari Babilonia ke Haran, lalu ke Palestina, ke Mesir, dan akhirnya satu rombongan terakhir tiba di satu tempat yang sekarang disebut Mekah. Rombongan terakhir ini hanya terdiri dari tiga orang, mereka tidak lain adalah Nabi Ibrahim as dan istrinya Siti Hajar, serta putra mereka yang ketika itu masih bayi bernama Ismail.

Hampir semua sejarawan sepakat, bahwa Ibrahim lah orang pertama yang mendirikan basis peradaban di Kota Mekah. Kelak, putranya yang bernama Ismail, menikah dengan perempuan dari Kaum Jurhum. Dari pernikahan ini kemudian lahirlah klan Ismailiyah, yang pada masa selanjutnya secara perlahan menggeser dominasi Kaum Jurhum di kawasan tersebut. Anak keturunan Ismail ini kemudian dikenal dengan sebutan Arab Mustariba, atau Arab yang sudah dinaturalisasi secara damai. Mereka ini yang dimaksud sebagai gelombang ketiga dari leluhur Bangsa Arab, khususnya di daerah Hijaz. Dari mereka inilah nanti lahir Kaum Quraisy. (AL)

Bersambung…

Catatan kaki:


[1] Lihat, O.Hashem, Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, (Jakarta: Ufuk Press, 2007), hal. 30

[2] Lihat, Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam or The Life and Teachings of Mohammed, (Calcutta: S.K. Lahiri & Co, 1902), hal. xlviii

[3] Lihat, Maps of Some Arab Tribes In Genesis: Joktan, Son of Eber, and Joktan’s “sons”: Uzal, Jobab, Havilah, Diklah, & Hazarmaveth, http://www.bibleorigins.net/JoktansonofEber.html, diakses 25 April 2019

[4] Kisah tentang Kaum ‘Ad diceritakan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an diantaranya, Surat Al Haaqqah, Surat Asy-Syu’ara, Surat Ghafir, Surat Al-Ahqaf, dan yang terbanyak di Surat Hud, ayat 50-60.

[5] Dalam Al-Quran, Tsamud disebut sebanyak 26 kali baik dalam bentuk kata yang berdiri sendiri maupun untuk menunjukkan kaum. Tsamud merupakan sekelompok kaum di mana Nabi Saleh diutus oleh Allah (Qs. Al-A’raf: 73). Mereka adalah kaum yang berkuasa setelah kaum Ad. Mereka rajin dan mahir dalam memahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah (Qs. Asy-Syu’araa: 149). Al-Quran menggambarkan negeri yang mereka huni itu sebagai negeri yang aman. Mereka tinggal di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. Lalu Allah memerintahkan mereka agar bertaqwa kepada Allah dan melarang mereka melakukan kerusakan di muka bumi (Qs. Asy-Syu’araa: 146-152). Tapi mereka malah melakukan kerusakan dan mendustakan seruan Nabi Allah Saleh as. Sehingga Allah menimpakan mereka azab berupa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka (Qs. Al-A’raf: 78).

[6] Lihat, Syed Ameer Ali, Op Cit

[7] Ibid, hal. xlix s

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*