Kematian Manusia: Sebuah Karikatur (6)

in Studi Islam

Last updated on March 18th, 2019 05:20 pm

 

 Dengan menyingkirkan realitas Ilahi sebagai Pemelihara dan Pencipta alam raya, maka perspektif menyeluruh (holistic) itupun mengaus dan menyusut habis. Atomisme, determinisme, dan objektivisme adalah anak-cucu dari perselingkuhan antara materialisme dan humanisme yang merontokkan perspektif tersebut.”

 —Ο—

Khulasah: Deklarasi Kematian Manusia

Sejenak setelah pikiran modern membunuh kesadaran akan Kehadiran Ilahi dari struktur kehidupan, manusia dan kemanusiaan binasa bersamanya. Yang terus hidup dan berlagak seakan-akan manusia adalah sosok kebinatangannya yang obsesif, agresif, impulsive, dan self-destructive.

Sosok ini adalah penjelmaan dari jaring-jaring hasrat akan keunggulan, kekuasaan, kekayaan, kepuasan, dan kenikmatan yang sudah menjadi semangat umum masyarakat modern. Jaring-jaring ini lantas menegasikan diri dan membuhul menjadi sebuah ikatan sosial yang semu; melahirkan sistem kebudayaan massa.

Di dalam kebudayaan massa, terdapat mata rantai konsekuensial yang memilin-milin manusia dalam sistem yang kausatif. Tak ubahnya seperti orang yang terpaksa terus-menerus berbohong untuk menjaga  “kebohongan kecil” yang sekian waktu lalu pernah diperbuatnya. Untuk menjaga fungsi sistem kebohongan, kebohongan-kebohongan lanjutan perlu diciptakan. Demikian sampai akhirnya pembohong itu sendiri terlilit oleh kerangkeng konsekuensial dari kebohongan yang pernah secara tak benar-benar sadar diperbuatnya.

Lilitan sistem kebohongan itu tampak pula pada sistem kekuasaan dan kesombongan. Untuk berkuasa, seorang harus menggunakan kekuasaan. Setelah kekuasaan diperoleh, dipakailah kekuasaan tadi untuk melestarikan kekuasaan selanjutnya. Begitu pula halnya dengan kesombongan: orang sombong akan pelan-pelan memasuki jurang kesemuan kesombongannya sendiri.

Dalam lipatan sistem-sistem itu, subjek manusia yang tak berdaya menghadapi jeratan sistemik yang akan secara ketat mengurungnya. Situasi inilah yang juga dihadapi oleh ulat sutera yang secara tak sadar terus membelit dirinya dalam gulungan sarang yang kemudian melumatnya sendiri.

Semua ini terjadi akibat sirnanya perspekstif menyeluruh (holistic) dunia modern mengenai eksistensi. Dengan menyingkirkan realitas Ilahi sebagai Pemelihara dan Pencipta alam raya, maka perspektif menyeluruh (holistic) itupun mengaus dan menyusut habis. Atomisme, determinisme, dan objektivisme adalah anak-cucu dari perselingkuhan antara materialisme dan humanisme yang merontokkan perspektif tersebut.

Atomisme memandang dunia bak kumpulan partikel yang masing-masingnya terkungkung dalam ruang dan waktu. Atom-atom ini bersifat keras, pejal, dan lembam. Yang satu tidak bisa merambah ranah yang lain. Mereka hanya berhubungan melalui aksi dan reaksi: bisa saling menekan atau saling menghindari. Saling menghabisi atau saling memanfaatkan. Saling bunuh atau saling tipu.[1]

Determinisme mengajarkan bahwa alam fisik diatur oleh empat hukum beton: tiga hukum gerak dan satu hukum gravitasi. Segala sesuatu dapat diprediksikan, dan karenanya juga dapat dikendalikan. Tidak tersisa ruang untuk Campur-tangan Ilahi, mukjizat, atau kejutan-kejutan serupa. Kehidupan laksana karang yang padat, beku, dan rigid.

Terilhami oleh anggapan ini, Freud menjelaskan bagaimana ego manusia yang tak berdaya selalu ditusuk-tusuk dari bawah oleh daya-daya gelap instink dan agresi yang berasal dari Id, dan dari atas selalu ditekan-tekan oleh harapan-harapan utopis yang berasal dari Super-ego. Hidup kita sepenuhnya ditentukan oleh pertarungan-sengit dua daya tersebut sejak kita berusia lima tahun.

Boleh jadi tidak banyak orang mengetahui soal determinisme ini. Tetapi, gambaran tentang kekalahan, keputusasaan, ketakberdayaan, pesimisme, dan apatisme mudah kita temui di dalam kepribadian generasi modern. Survei yang saya lakukan pada Mei 1998 menunjukkan bahwa kebanyakan ABG (lebih dari 70%) merasa pesimis-apatis mengarungi hidup. “EGP (emang gua pikirin),” kata mereka.

Objektivisme menambah perasaan terisolasi dan tak berdaya ini. Antara pengamat (manusia) dan apa yang diamati (alam dan fenomena kehidupan) terbentang jarak yang tegas dan terus-menerus dipertegas. Dunia dibagi menjadi objek dan subjek: subjek ‘di sini’ dan dunia ‘di sana’. Tugas subjek pengamat yang detached itu adalah mengukur, menimbang, meng-groupies, dan melakukan eksperimen-eksperimen atasnya.

Orang modern pada umumnya merasakan ada di dunia, tapi tidak merasakan sebagai bagian dari dunia. ‘Dunia’ di sini: mencakup orang lain, sanak-kerabat, institusi, masyarakat, alam, dan lingkungan hidup. Terdapat kebingungan mendasar tentang bagaimana mengemban amanah kehidupan ini. Bahkan, kepekaan terhadap amanah apa, bagaimana, siapa, dan mengapa lambat-laun menghilang.[2]

Di dalam fisika modern tidak tersisa ruang untuk pikiran, jiwa, dan ruh. Kita tak lebih dari mesin pikiran, mesin genetik, dan mesin kesadaran. Juga: mesin kehidupan. Untuk mendapatkan hidup yang sehat, misalnya, kita tinggal berlindung di bawah rezim vitamin, diet, dan fitness. Karena memandang kehidupan secara mekanis, maka tubuh adalah mesin genetik yang perlu terus diminyaki, sakit adalah sesuatu yang harus “dikikis”, dan penuaan serta kematian adalah error dalam sistem.

Menurut Zohar dan Marshall:

Sebagian dokter dan pekerja kesehatan, bagaimanapun juga, sudah mulai melihat penyakit secara berbeda. Mereka melihatnya  sebagai erangan tubuh dan manusianya untuk peduli pada ‘sesuatu’ dalam kehidupan kita yang jika terus-menerus terabaikan akan menyebabkan kerusakan fatal atau kesengsaraan fisikal, emosional, dan spiritual dan bahkan juga kematian.[3]

Kekhawatiran akan kepunahan massal manusia bukan hanya datang dari mereka yang punya kepekaan spiritual dan moral, sehingga maknanya hanya terbatas pada level spiritual dan moral. Sekarang ini, para saintis juga gencar mengemukakan kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu. Tulis Stephen  Hawking:

Ada lelucon memilukan (di antara para ilmuwan) tentang mengapa makhluk luar angkasa tidak pernah menghubungi kita. Menurut lelucon tersebut, karena peradaban yang telah mencapai tingkat seperti kita ini segera akan mengalami kepunahan.[4]

Perang nuklir, kerusakan tata-surya, ketimpangan pertumbuhan populasi berbagai spesies, dan wabah aneka virus mematikan adalah sebagian dari momok yang menyeringai di depan manusia. Setelah bercerita ihwal dramatisnya pertumbuhan eksponensial populasi dunia, Hawking menulis sebagai berikut:

Bahwa populasi dunia sesungguhnya berlipat-ganda setiap 40 tahun. Dalam kaitannya dengan teknologi, hal ini berarti konsumsi listrik akan terus meningkat. pada tahun 2600, penduduk bumi hanya akan dapat berdiri bahu-membahu dan konsumsi listrik akan membuat detak ‘jantung’ bumi melamban.[5]

Kemudian Hawking melanjutkan dengan sebuah prediksi mengerikan berikut:

Jelas sekali bahwa pertumbuhan eksponensial ini tidak akan berlangsung terus-menerus secara kekal. Lalu, apa yang bakal terjadi? Kemungkinan pertama adalah kita akan terbasmi habis oleh suatu bencana besar seperti Perang Nuklir.[6]43

Selanjutnya, Hawking menyarankan rekayasa genetika (genetic engineering) sebagai kemungkinan lainnya. Tetapi, jalan keluar ini sendiri sudah bisa dibayangkannya sebagai jalan buntu. Katanya: “Jelaslah, manusia-manusia super (genetically improved human) yang tumbuh dan berkembang ini nantinya akan menciptakan masalah sosial dan politik yang besar bagi manusia-manusia biasa (unimproved human).[7]

Membaca prediksi tersebut, bulu-bulu kemanusiaan saya bergidik ngeri. Saya kemudian teringat dengan Surah ar-Rum ayat ke-41 ini:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Allah menimbulkan rasa (perih dan tersiksa) sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka (bisa) kembali (kepada Kesadaran Ilahi).

Lalu, mengapa upaya perbaikan kehidupan selalu saja menemui gang buntu? Mengapa pelbagai prediksi, baik yang tertera dalam sains maupun dalam sains fiksi, hanya mendendangkan kekalutan dan penderitaan masa depan? Mengapa tidak ada petunjuk keluar dari semua ini? Seolah semua eksistensi sedang bergerak bersama-sama melawan kehadiran mereka dan tak memberi mereka “petunjuk kehidupan” seperti makna ayat berikut ini: “Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai orang yang akan memberinya petunjuk. Dan Allah akan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.[8]

Sialnya, tanda-tanda kemusnahan dan kematian manusia ini tidak teramati oleh manusia dan ilmuwan modern. Boleh jadi kelalaian ini karena “kematian manusia” bukanlah garis-akhir yang tetap, tidak tunak. Ia adalah sebuah proses yang terus bergulir, tidak mandek. Kematian dan kemusnahan ini telah, sedang, dan akan terus berlangsung, sampai “… bila tiba saatnya nanti, mereka bekata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang saat ini!’ sambil (terus saja) mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung mereka. Ingatlah : teramat teruk apa yang mereka pikul itu.”[9] Dan saat-saat kehancuran itu datangnya memang mendadak sontak.[10] (MK)

 Selesai

Sebelumnya:

Kematian Manusia: Sebuah Karikatur  (5)

Catatan kaki

[1] John Locke dan Sigmund Freud memakai atomisme ini dalam membangun teori-teori mereka. Locke menyamakan atom dengan individu-individu sebuah masyarakat dalam teori Demokrasi Liberal-nya, sementara Freud menggunakannya untuk membangun teori Relasi-relasi Objek-nya. Danah Zohar & Ian Marshall, Op. Cit., hlm. 26.

[2] Lihat (QS. 33: 72). Untuk kajian menarik mengenai amanah ini, lihat al-Mizan fi Tafsir Al-Quran.

[3] Danah Zohar & Ian Marshall, Op. Cit., hlm. 29.

[4] Karlina Leksono et al., Melaju Menuju Kurun Baru: Respons Cendekiawan Indonesia     atas Kuliah “Millenium Evening” Stephen Hawking, Mizan, 1998, Apendiks II. hlm. 113.

[5] Ibid. hlm. 111-112

[6] Ibid. hlm. 113.

[7] Ibid. hlm. 124.

[8] QS. 7: 186.

[9] QS. 6: 31.

[10] QS. 7:187.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*