Kematian Manusia: Sebuah Karikatur  (5)

in Studi Islam

 

Oleh: Musa Kazhim

 

Dalam kebudayaan massa manusia menjadi objek. Mereka kehilangan gugus makna, sehingga tidak mampu memahami konteks umum dari kehidupan ini. Mereka teralienasi, kehilangan identitas sebagai pribadi (person). Tercekik oleh sistem yang dibuatnya sendiri, identitas pribadi itu mengering secara eksistensial.

—Ο—

 

Kelahiran Massa dan Kematian Manusia

Di dalam rahim materialisme, humanisme, dan kapitalisme modern, terkandung kebudayaan massa. Ciri-ciri utama kebudayaan massa adalah sebagai berikut: (1) pelaku kebudayaan hanya menjadi obyek (terobjektivasi); (2) pelaku mengalami alienasi; dan (3) pembodohan.[1]

Objektivasi berarti bahwa manusia adalah makhluk pasif, tidak berpikir, dan selalu mengandalkan petunjuk-petunjuk empiris (eksternal) untuk merumuskan konsep-konsep hidupnya. Manusia akan mengambil kesimpulan tentang dirinya dari perilaku yang tampak. Seperti pegawai yang merasa tak bersalah menyelewengkan uang kantor setelah mengetahui peristiwa korupsi besar-besaran yang dilakukan atasannya. Secara kultural, objektivasi bermakna bahwa pelaku budaya hanya menjadi objek yang tidak berperan apa-apa dalam membentuk sistem budayanya sendiri. Kebudayaan tak ubahnya barang jadi yang dipasok dari luar. Berikut harga masing-masingnya.

Alienasi artinya pelaku kebudayaan merasa asing dari dan dalam lingkungannya. Lantaran kehilangan pakem, arus besar menyeretnya ke lautan hasrat yang tak bertepi. Alienasi mengandaikan ketiadaan kehendak (iradah atau will bukan hasrat [syahwah atau desire]), tujuan,  perspektif, dan konteks menyeluruh dari kehidupan. Danah Zohar dan Ian Marshall secara elok memaparkan alienasi ini sebagai berikut:

“Kita kehilangan konteks umum dari kehidupan ini. Kita kehilangan gugus makna yang alamiah, dimana kita bisa secara sederhana menjadi bagian darinya… penalaran kita telah menyimpang jauh dari (keadaan) alam semesta (yang sebenarnya) dan sesama makhluk, selain juga terlalu bernafsu melampaui (batasan-batasan) agama… IQ kita telah melenyapkan perburuhan, menggelembungkan kekayaan, mengapungkan harapan hidup, dan membikin pernak-pernik yang tak terbilang banyak sebagiannya sampai mengancam hidup kita dan lingkungan sekitar kita. Namun, tetap saja kita belum bisa membuat semua ini berguna sementara (worthwhile) buat kita.”[2]

Perbodohan terjadi karena waktu terbuang tanpa ada pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup yang berguna. Dalam kata-kata Zohar dan Marshall:

“Kebudayaan modern cenderung ‘dungu secara spiritual’ (spiritually dumb) … Istilah ‘dungu secara spiritual’ saya pakai untuk menjelaskan hilangnya kepekaan akan nilai-nilai fundamental. Yakni nilai-nilai yang melekat pada bumi dan perubahan musimnya. Pada pergantian hari dan perputaran jamnya. Pada perkakas hidup dan ritual kesehariannya. Pada tubuh dan perubahan organiknya. Pada aktivitas seksualnya. Pada buruh dan buah-buahan hasil tanamannya. Pada tahap-tahap kehidupan. Dan pada nilai-nilai yang menyatu-padu dengan kematian sebagai ending yang alami. Kita hanya bisa melihat, menggunakan dan menghayati ‘apa yang segera’ (the immediate), yang terlihat dan yang pragmatis. Kita buta pada tataran-tataran simbol dan makna yang lebih dalam, yang dapat menempatkan segenap objek kita, aktivitas kita dan diri kita ke dalam kerangka-kerja eksistensial yang lebih luas. Kita memang tidak buta-warna, tetapi hampir pasti kita buta-makna.”[3]

Beberapa implikasi membersit dari paparan di atas. Pertama, terbentuknya kebudayaan massa akibat dari terpaan luar (outer exposure). Ada semacam meta-sistem yang bekerja menggerakkan dan mengarahkan para pelaku kebudayaan massa. Kedua, karena tercipta akibat terpaan dari luar, maka para pelaku kebudayaan itu mestilah mengalami ketaksadaran umum.

Ketiga, meta-sistem itu harus terus bekerja menyuntikkan serum baru ke dalam sistem kebudayaan massa agar alienasi terhadap diri dan lingkungan “tertentu” dapat dinetralkan dengan diri dan lingkungan “yang baru”. Pemberontakan terhadap alienasi justru memicu sistem kebudayaan massa untuk mengemas anggur lama dalam botol baru. Persis seperti yang dipertontonkan lewat parodi, remake, daur-ulang produk-produk lama.

Seolah menanggapai kesimpulan ketiga di atas, Sapardi Djoko Damono menuturkan, pertama, kebudayaan massa diproduksi secara besar-besaran dengan perhitungan dagang belaka. Kedua, kebudayaan massa cenderung merusak kebudayaan yang lebih edukatif dengan cara meminjam, mencuri, memperalat, dan menghisap potensi yang ada padanya.

Ketiga: kebudayaan massa menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak. Ingat sex, crime, and violence (seks, kriminalitas, dan kekerasan) sebagai tema sentral kebudayaan massa. Dan keempat:penyebarluasannya tidak hanya telah menciutkan nilai kebudayaan itu sendiri, tapi juga menciptakan khalayak yang pasif tetapi sensitif terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan melalui iklan.[4]

Secara sosiologis, massa bermakna kerumunan orang dalam jumlah besar. Dulu, massa merujuk kepada mayoritas masyarakat Eropa yang tak terpelajar. Atau kalangan yang juga kerap disebut sebagai “kelas menengah ke bawah”, “kelas pekerja” (working class) atau “kaum awam”. Kesimpulannya, massa adalah mayoritas masyarakat yang “tak terpelajar.” Dan ini menetapkan konotasi negatif pada massa.

Gustav Le Bon, pencetus psikologi massa, menyebut massa sebagai kerumunan orang yang tidak bisa dipilah-pilah; lebur menjadi satu. Massa adalah kelompok atau gerombolan manusia yang tidak lagi mampu berpegang pada norma, nilai, etika, agama atau apa pun. Gejala irresponsibility ( ketidakmampuan memegang amanah) menguasai semangat khalayak. Kalau ada yang memulai tindak merusak, maka semua anggota massa akan mengikuti secara kompak dan akur. Kekaburan akan tanggung-jawab orang-seorang ini barangkali disebabkan oleh hilangya identitas mereka sebagai pribadi (person). Tercekik oleh sistem yang dibuatnya sendiri, identitas pribadi itu mengering secara eksistensial.

Simbol, makna, dan ideologi yang diserap, karena itu, tidak dapat mereka terjemahkan menjadi sikap. Massa hanya bekerja melahap “rangsangan-rangsangan” dari luar. Sebelum ada yang dicerna, santapan lain sudah disikat. Sedemikian rupa hingga santapan-santapan membludag tanpa bisa diubah menjadi sikap atau keyakinan yang dipertahankan.

Massa, kata Jean Baudrillard, bagaikan black hole (lubang hitam) yang senantiasa menyosor. Lambat alun, mereka menjadi “Gembrot” dan tergeletak kuyu, layaknya orang yang kekenyangan. Hubungan sosial, sebagai salah satu daya sosial, menjadi sirna. Luruh tanpa daya. Tiba-tiba terjadilah implosion yang meluluh-lantakkan pusat identitas.[5] 

Edward Shils, seorang peneliti kebudayaan, menilai massa sebagai masyarakat yang mempunyai sistem yang khas. Massa mengungkapkan sejenis keterikatan atau afinitas terhadap sesamanya.[6] Seperti hawa nafsu itu sendiri, sistem kebudayaan massa mempunyai semacam daya pikat, daya jerat, dan daya cekik di satu sisi, dan daya dorong sisi lain. Hubungan ini mirip dengan cerita cahaya panas dan laron. Di saat cahaya panas memancar, laron akan beterbangan mengitarinya seraya menikmati kehangatannya. Namun, di dalam euforia kehangatan itu pula laron-laron ini gosong terbakar menemui ajalnya.

Beberapa kesimpulan perlu saya pertegas. Pertama, kebudayaan ialah gugusan pengalaman hasil proses belajar sepanjang hidup. Kedua, massa ialah kerumunan manusia yang sudah tidak lagi memegang nilai-nilai adiluhung. Nilai-nilai seperti mempertahankan kebenaran dan menolak kesalahan, tidak lagi digubrisnya. Ketiga, kebudayaan massa itu bersifat semu dan majazi, lantaran ia sendiri adalah sebuah antitesis terhadap kebudayaan sebagai buah pengalaman belajar manusia dari lingkungannya.

Keempat, dengan ciri-ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan ini bersumber dari hawa nafsu manusia akan pseudo-realities. Kelima, karenanya, wajar saja kalau kemudian kebudayaan massa bertema-utamakan seks, obat terlarang (drug), kekerasan (violence), kejahatan (crime), reproduksi (Ingat: cyberspace; hyper-reality; simulacrum), plesetan (parody/recycled culture) dan obsesi yang besar terhadap kenikmatan, keunggulan dan kecepatan, kenyamanan, euforia-gaya, mabuk-komunikasi, dan lain-lain.

Bersambung…

Kematian Manusia: Sebuah Karikatur (6)

Sebelumnya:

Kematian Manusia: Sebuah Karikatur (4)

Catatan kaki:

[1] Kuntowijoyo, Budaya Elit dan Budaya massa,  dalam Idi Subandy Ibrahim (editor), “Ecstasy” Gaya Hidup, Mizan, 1997.

[2]Danah Zohar & Ian Marshall, Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence, Bloomsbury, London, 2000, hlm. 22.

[3] Ibid. hlm. 22-23.

[4] Peran utama iklan ialah mengubah keinginan (wants) menjadi kebutuhan (needs). Dengan memanipulasi kesadaran, selera, dan nilai, iklan diproyeksikan untuk meningkatkan penjualan dan konsumsi sebuah produk sebesar-besarnya. Lihat: World Executive’s Digest, edisi Mei 1990 dan Matra, No. 49, Agustus 1990.

[5] Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat,  1998, Mizan, hlm. 195.

[6] Edward Shils, “Mass Society and Its Culture” dalam Rosenberg dan White (ed.), Mass Culture Revisited New York, Van Nostrand Reinhold Company.