Kisah Abu Dzar al-Ghifari (10): Nubuwwat Rasulullah

in Tokoh

“Dia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

–O–

Anak perempuan Abu Dzar bercerita, “ketika Ayahku meninggal, aku berlari sambil menangis ke arah jalan yang menuju ke Irak. Aku duduk di sana menunggu rombongan yang akan datang. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa jenazah Ayah terbaring sendirian. Lalu aku berlari ke Ayah. Kemudian kembali lagi ke sisi lain dari jalan yang seharusnya mereka akan lewati. Aku datang dan pergi beberapa kali.

Sekarang tiba-tiba aku melihat beberapa orang datang dengan unta. Ketika mereka mendekat, aku mendekati mereka juga dengan air mata di mataku dan berkata kepada mereka, ‘Wahai sahabat Nabi! Seorang sahabat Nabi telah meninggal.’ Mereka bertanya kepadaku siapa dia. Aku menjawab, ‘Ayahku, Abu Dzar al-Ghifari.’

Begitu mereka mendengarnya, mereka turun dari unta dan menemaniku yang menangis. Ketika mereka sampai di tempat, mereka menangis dan sangat terkejut dengan kematiannya yang menyedihkan dan segera menyibukkan diri dengan upacara pemakamannya.”[1]

Sejarawan A’tham Kufi mengatakan bahwa rombongan yang akan pergi ke Irak terdiri dari Ahnaf bin Qays Tamim, Sa’sa’ah bin Sauhan al ‘Abdi, Kharijah bin Salat Tamimi, Abdullah bin Muslimah Tamimi, Hilal bin Malik Nazle, Jarir bin Abdullah Bajali, Malik bin Ashtar bin Harits, dan lain-lain. Orang-orang ini memandikan dan memasangkan kain kafan kepada Abu Dzar. Setelah pemakaman, Malik bin Ashtar berdiri di samping kuburan dan menyampaikan pidato mengenai masa hidup Abu Dzar dan mendoakannya. Setelah memuji Allah SWT dia berkata:

“Ya Allah! Abu Dzar adalah sahabat Nabi-Mu dan orang yang beriman terhadap kitab-Mu dan Nabi-Mu. Dia berjuang dengan sangat berani di jalan-Mu, tetap teguh pada hukum Islam-Mu dan tidak pernah mengubah atau menyimpangkan perintah-Mu.

Wahai Tuhanku! Ketika melihat beberapa pelanggaran Kitab Suci dan tradisi dia meninggikan suaranya dan menarik perhatian orang-orang yang bertanggung jawab atas umat untuk melakukan perbaikan, akibatnya mereka menyiksanya, membuatnya pergi dari satu tempat ke tempat lain, menghinanya, menyuruhnya pergi dari negeri Nabi terkasih dan membuatnya mengalami kesulitan yang sangat. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan kesepian di tempat yang sunyi.

Ya Allah! Berikan Abu Dzar sebagian besar dari berkah surgawi yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang beriman….”

“Amiiin,” seru yang lainnya.[2]

Setelah selesai upacara pemakaman, hari sudah sore, dan mereka memutuskan untuk menginap semalam. Keesokan paginya mereka sudah berangkat kembali.[3] Atas keinginannya sendiri, putri Abu Dzar tetap tinggal di sana. Beberapa hari kemudian Khalifah Utsman memanggil dan mengirimnya pulang.[4]

Putri Abu Dzar masih tinggal di sana, di dekat kuburan Ayahnya selama beberapa hari, hingga suatu malam dia melihat Ayahnya di dalam mimpi, dia sedang duduk dan membaca Al-Quran. “Ayah! Apa yang terjadi denganmu, dan sampai sejauh mana Engkau diberkahi oleh Allah yang maha penyayang?” Abu Dzar menjawab, “wahai anakku, Allah telah menganugerahkan kepadaku bantuan tanpa batas, telah memberiku segala penghiburan dan memberikan segalanya kepadaku. Aku sangat senang dengan kemurahan hati-Nya. Sekarang adalah tugasmu untuk sibuk dalam beribadah kepada Allah seperti biasanya, dan jangan biarkan kebanggaan dan kesombongan menghampirimu.”[5]

Sarjana dan sejarawan sepakat Abu Dzar wafat pada tanggal 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah di Rabzah. Pada saat itu usianya sudah 85 tahun.[6]

 

Nubuwwat Rasulullah

Pada waktu perang Tabuk, tahun 9 Hijriyah, Rasulullah beserta sahabat sedang dalam perjalanan dalam rangka menghadang pasukan Romawi yang telah berkumpul di suatu tempat. Karena medan yang sulit dan cuaca yang teramat panas terik, dan ada beberapa Muslim yang pergi belakangan, maka rombongan pasukan Muslim menjadi terpisah-pisah.[7]

Begitu pula dengan Abu Dzar, dia terpisah dari rombongan utama karena keledainya melambat. Keledai tersebut kelelahan karena perjalanan yang panjang ditambah terik matahari membuatnya kelaparan dan kehausan. Maka Abu Dzar memutuskan untuk berjalan kaki saja, lalu dipikulnya sendiri barang-barangnya. Dia mempercepat langkahnya agar dapat segera menyusul Rasulullah.[8]

Di suatu pagi, kaum Muslimin tengah beristirahat di suatu tempat, tiba-tiba salah seorang melihat kepulan debu di kejauhan, sedang di depannya terlihat seorang lelaki yang berjalan cepat. “Wahai Rasulullah, itu ada seorang lelaki berjalan seorang diri!” serunya. “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar,” kata Rasulullah.[9]

Setelah dia dekat dengan rombongan, seseorang berseru, “wahai Rasulullah! Demi Allah dia Abu Dzar!” Tibalah Abu Dzar di hadapan Rasulullah dengan wajah gembira. Maka tersenyumlah Rasulullah, senyuman yang menyiratkan kesantunan dan belas kasihan, seraya berkata:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Dia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Setelah lebih dari 20 tahun lalu sejak kejadian tersebut, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabzah sebatang kara, setelah sebatang kara dia menempuh hidup yang luar biasa yang seorangpun tidak dapat menyamainya. Dan dalam lembaran sejarah, dia muncul hanya sebatang kara—yakni orang satu-satunya—baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita, dan kemudian dia akan dibangkitkan di sisi Allah sebagai tokoh satu-satunya juga, karena dengan segala amalannya, tidak ada seorang pun yang memadai untuk berdampingan dengannya.[10] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (9): Dialog dengan Malaikat Maut

Catatan Kaki:

[1] The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), (Islamic Seminary Publications: 2017), hlm 117.

[2] Tarikh A’tham Kufi, dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 117.

[3] Tarikh Kamil, vol. 3, Izalatul Khulfa vol. 1, Tarikh Tabari, vol. 4, dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 117-118.

[4] The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 117.

[5] Hayat ul-Qulub, vol. 2, dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 118.

[6] The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 118.

[7] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (Bandung: CV Penerbit Diponegoro: 2001), hlm 98.

[8] Ibid., hlm 98-99.

[9] Ibid., hlm 99.

[10] Ibid.