Kisah Abu Dzar al-Ghifari (9): Dialog dengan Malaikat Maut

in Tokoh

“Wahai malaikat maut! Di mana saja engkau selama ini? Aku telah menunggumu. Wahai temanku, engkau datang pada saat aku sangat membutuhkan.”

–O–

Abu Dzar tinggal di Rabzah bersama Istri dan kedua anaknya. Dzar, anak lelakinya, meninggal terlebih dahulu karena sakit. Tidak lama kemudian, istrinya pun meninggal karena memakan rumput beracun. Abu Dzar pun sama-sama sakit karena sebab yang sama. Rabzah merupakan tempat yang terisolir dari peradaban, tidak ada siapapun di sana terkecuali Abu Dzar dan keluarganya.[1]

Unta yang dulu mengantar Abu Dzar ke Rabzah telah disembelih dan dagingnya diawetkan untuk kebutuhan makan di hari-hari berikutnya. Di Rabzah tidak ada sumber makanan lainnya selain tinggal beberapa potong daging unta tersebut. Sehingga Abu Dzar dan keluarganya terpaksa makan rerumputan di sekitar sana, dan ternyata itu beracun.[2]

Setelah kematian anak lelaki dan istrinya, Abu Dzar merasa lebih kesepian. Dia hanya memiliki anak perempuan bersamanya. Ketika orang-orang mengetahui tentang penyakit Abu Dzar, beberapa orang datang menemuinya. Menurut pernyataan putri Abu Dzar mereka mengatakan kepadanya, “wahai Abu Dzar, apa yang engkau derita dan apa keluhanmu?” Abu Dzar menjawab, “aku memiliki keluhan terhadap dosa-dosaku.” Mereka berkata, “jika engkau suka, kami bisa memanggil dokter”. Dia berkata, “Allah adalah penyembuh mutlak, penyakit dan juga obatnya ada dalam kuasa-Nya, aku tidak memerlukan dokter.”[3] Dia telah yakin bahwa kematian akan segera menghampirinya.

Berita tentang sakitnya Abu Dzar sampai juga ke Khalifah Ustman bin Affan. Kemudian Ustman mengirim utusannya untuk menemui Abu Dzar, atas perintah Ustman utusan tersebut menawarkan untuk mengabulkan apapun keinginan Abu Dzar. Namun Abu Dzar menolaknya, dia lebih memilih untuk tinggal di Rabzah sampai akhir hayatnya.[4]

Kini Abu Dzar sudah dalam kondisi sakaratul maut, anak perempuannya berkisah, “kami melewati hari-hari kami dengan penderitaan yang tak terkira di padang gurun. Suatu hari kami tidak dapat makan apapun. Kami terus mencari-cari di sekitar hutan tapi tidak dapat menemukan apapun. Ayah yang sedang sakit berkata kepadaku, ‘Anakku, kenapa engkau begitu khawatir hari ini?’ Aku berkata, ‘Ayah! Aku sangat lapar dan lemah. Engkau juga dalam keaadaan sangat lapar. Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan tapi tidak dapat menemukan apapun sehingga aku merasa tidak enak kepadamu.’ Abu Dzar berkata, ‘Jangan khawatir. Allah adalah penentu besar urusan kita.’ Aku berkata, ‘Ayah! Ini benar tapi tidak ada yang terlihat untuk memenuhi kebutuhan kita.’ Dia berkata, ‘anakku, pegang aku di bahu dan bawalah aku ke arah itu. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana’. Aku memegang tangannya dan mulai berjalan ke arah yang dimintanya. Dalam perjalanan ayahku memintaku untuk membuatnya duduk di tanah. Aku mendudukkannya di atas pasir yang panas. Dia mengumpulkan beberapa pasir dan berbaring dengan kepalanya di atasnya.

Begitu dia berbaring di tanah, matanya mulai berputar dan dia mengalami penderitaan menjelang kematian. Melihat ini aku mulai menangis dengan suara serak. Kemudian sambil memegang kendali atas dirinya sendiri dia berkata, ‘Kenapa kamu menangis, anakku?’ Aku berkata, ‘Apa lagi yang bisa aku lakukan Ayah?’ Di sini adalah padang pasir dan tidak ada satu orang pun yang terlihat di sini. Aku tidak memiliki kafan untukmu dan juga tidak ada penggali kubur di sini. Apa yang akan aku lakukan jika engkau menghembuskan napas terakhirmu di tempat yang sepi ini?’”[5]

Selanjutnya Abu Dzar berkata, “janganlah menangis, pada suatu hari, ketika aku berada di sisi Rasulullah bersama beberapa orang sahabatnya, aku dengar beliau bersabda, ‘pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman.’ Semua yang ada di majlis Rasulullah itu telah meninggal di kampung dan di hadapan jamaah kaum Muslimin, tidak ada lagi yang  hidup di antara mereka kecuali aku. Nah, inilah aku sekarang menghadapi maut di padang pasir, maka perhatikanlah olehmu jalan, siapa tahu kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak pula dibohongi.”[6]

Kemudian putrinya melanjutkan lagi kisahnya, “dia sedang berbicara denganku saat malaikat maut memandang wajahnya. Ketika ayahku menatapnya, wajahnya memerah dan dia berkata, ‘wahai malaikat maut! Di mana saja engkau selama ini? Aku telah menunggumu. Wahai temanku, engkau datang pada saat aku sangat membutuhkan. Wahai malaikat maut! Semoga mereka yang tidak berbahagia melihatmu tidak pernah mendapatkan pembebasan. Demi Allah, bawalah aku segera kepada Allah yang maha pengasih sehingga aku dapat terbebas dari kesulitan dunia.’ Setelah itu dia berkata kepada Allah, ‘wahai Pemeliharaku, aku bersumpah dengan keberadaan-Mu, dan Engkau tahu bahwa aku mengatakan kebenaran sehingga aku tidak pernah takut akan kematian dan selalu berharap untuk bertemu dengan-Mu.’

Setelah itu keringat kematian muncul di dahi Ayahku dan dia melihat ke arahku, wajahnya memperlihatkan bahwa dia telah meninggalkan dunia selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.[7] (PH)

Bersambung ke:

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (10): Nubuwwat Rasulullah

Sebelumnya:

Kisah Abu Dzar al-Ghifari (8): Kehidupan di Rabzah

Catatan Kaki:

[1] The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), (Islamic Seminary Publications: 2017), hlm 114.

[2] Ibid.

[3] Hayat ul-Qulub, vol. 2, hlm 1049, dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), (Islamic Seminary Publications: 2017), hlm 114.

[4] The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 114-115.

[5] RauzatuI Akhyar dinarasikan dari Rabiul Abrar, dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 116-117.

[6] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (Bandung: CV Penerbit Diponegoro: 2001), hlm 96-97. Ada perbedaan versi, pada saat momen ini, di dalam buku ini dikatakan yang berada di samping Abu Dzar adalah istrinya, bukan anaknya.

[7] RauzatuI Akhyar, Ibid., dalam The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra), Ibid., hlm 116-117.