Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Ibrahim (7): Berdebat dengan Azar dan Kaumnya

in Sejarah

Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.”

Lukisan karya József Molnár yang berjudul The March of Abraham dari abad ke-19. Sekarang koleksi milik Hungarian National Gallery, Budapest. Foto: G. Dagli Orti—DeA Picture Library/age fotostock

Sudah dikisahkan pada edisi sebelumnya, bahwa perdebatan Nabi Ibrahim dengan Azar, berujung dengan keluarnya ancaman dari Azar terhadap Ibrahim.

Ancaman ini direkam oleh  Alquran sebagai berikut: “Berkata bapaknya, ‘Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.’.” (QS Maryam [19]: 46)

Menurut Ibnu Abbas, maksud dari “waktu yang lama” dalam ayat tersebut, adalah “selamanya”.[1] Dengan kata lain, jika Ibrahim tidak menghentikan dakwahnya, maka dia akan diusir oleh Azar dari rumahnya atau dia akan dirajam sampai mati dengan batu. 

Namun demikian, Ibrahim adalah sosok nabi yang penuh kasih sayang. Menanggapi ancaman Azar, Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS Maryam [19]: 47-48)

Dalam Tafsir al-Qurthubi dikatakan, bahwa sesungguhnya istighfar Ibrahim untuk Azar karena dia sudah berjanji sebelumnya untuk beriman dan meninggalkan ibadah kepada patung.[2]

Hal senada juga dikatakan oleh Thahir Ibnu ‘Asyur yang menegaskan: “Tidak dapat diragukan bahwa janji itu datang dari orang tua Nabi Ibrahim as.” Orang tuanya ketika itu, berkedudukan sebagai seseorang yang sedang dijinakkan hatinya untuk beriman (al-mu’allafah qulubuhum) dengan istighfar Nabi Ibrahim untuknya.[3]

Tapi setelah jelas bagi Ibrahim kekafiran dalam hati Azar, maka dia meninggalkan istighfar untuknya. Hal ini dijelaskan oleh Alquran, Allah Swt berfirman:

Dan bukanlah permohonan ampun Ibrahim untuk bapaknya kecuali hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya, maka tatkala telah jelas baginya bahwa dia adalah musuh Allah, dia berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS at-Taubah [9]: 114)

Meski sudah diancam dan usir oleh bapak asuhnya, Ibrahim  tidak pernah menghentikan dakwahnya. Dengan ketajaman logika yang sempurna dan kasih sayang tanpa batas, Nabi Ibrahim tetap menyeru kaumnya untuk kembali ke jalan yang benar. Hingga tak jarang, ajakan-ajakan Ibrahim menuai pertentangan dari kaumnya, yang berujung pada perdebatan.

Hal ini direkam oleh Alquran, Allah Swt berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya.” Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakan-Nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.’.” (QS al-Anbiya [21]: 52-56)

Dalam surat yang lain, Allah Swt berfirman:

“Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: ‘Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku mengendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui)?’.” (QS al-An’am [6]: 80-81)

Pada ayat selanjutnya Allah Swt menjelaskan, bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari kaumnya, Ibrahim justru mendapatkan kedamaian dan mendapat kedudukan yang terpuji.  Allah Swt berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang men­dapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’am [6]: 82-83). (AL)

Bersambung….

Sebelumnya…

Catatan kaki:


[1] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk), VOLUME II, Prophets and Patriarchs, translated and annotated by William M. Brinner, University of California, Berkeley, State University of New York Press, 1987, hal. 55

[2] Lihat, Dr. Abdul Karim Zaidan, Hikmah Kisah-Kisah Dalam Al-Quran: Dari Nabi Adam – Isa Beserta Kaumnya, Jakarta, Darus Sunnah Press, 2010, footnote hal. 232

[3] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Volume 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)., hal. 734-735

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*