Kisah Nabi Ibrahim (6): Kelahiran dan Masa Kecil (4)

in Sejarah

Sejak kecil, Ibrahim memeram kebencian pada berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya. Kebencian ini semakin memilukan setelah memahami bahwa ayahnya adalah kreator yang membuat sembahan-sembahan tersebut.”

Gambar ilustrasi. Sumber: www.churchofjesuschrist.org

Sebagaimana sudah dikisahkan pada edisi sebelumnya, bahwa Nabi Ibrahim dibesarkan di dalam keluarga pembuat berhala. Kepala keluarga ini bernama Azar, yang dipanggil oleh Ibrahim dengan sebutan “ayah”. Menurut Ibnu Katsir, Azar bukan hanya penyembah berhala biasa, tapi sosok yang secara total menolak Allah, dan dengan tangannya sendiri membuat berhala-berhala (untuk menjadi sembahan lain selain Allah SWT), lalu menjualnya ke masyarakat luas.[1]

Pada masa itu, menyembah patung adalah salah satu ritual populer yang dijalankan kaum Nabi Ibrahim. Sedemikian sehingga, hampir di setiap suku dari mereka memiliki patung yang khusus, baik itu raja maupun rakyat biasa.[2] Bila kita korelasikan, situasi ini agaknya mirip dengan kondisi masyarakat Jahiliyah di masa Rasulullah Muhammad Saw. Dimana tiap suku memiliki berhala masing-masing yang dipuja dan dipajang di sekitar Kabah. Bahkan di Makkah berjejer 360 berhala – satu untuk sehari – yang semuanya mengelilingi Hubal, sang dewa tertinggi, yang terbuat dari batu akik merah.[3]

Menurut Ibnu Katsir, sejak kecil Ibrahim sudah mengetahui bahwa ayahnya seseorang yang membuat patung-patung aneh. Pada suatu hari, dia bertanya tentang apa yang dibuat oleh ayahnya. Ayahnya menjawab, bahwa patung-patung itu adalah tuhan-tuhan yang disembahnya. Ibrahim kecil sangat keheranan mendengar hal tersebut, dan seketika timbul dalam dirinya penolakan terhadap konsep yang dipahami ayahnya. .[4]

Di lain waktu, Ibrahim sering bermain-main dengan patung-patung ciptaan ayahnya saat ia masih kecil, bahkan terkadang dia menunggangi pung­gung patung-patung itu seperti orang-orang yang biasa menung­gang keledai dan binatang tunggangan lainya. Hingga pada suatu hari, ayahnya melihatnya saat menunggang punggung patung yang bernama Mardukh. Saat itu juga ayahnya marah dan memerintahkan anaknya agar tidak bermain-main dengan patung itu lagi.[5]

Ibrahim bertanya: “Patung apakah ini wahai ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.” Ayahnya menjawab: “Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan wahai anakku, dan kedua telinga yang besar itu sebagai simbol dari kecerdasan yang luar biasa.” Ibrahim tampak tertawa dalam dirinya padahal saat itu beliau baru menginjak usia tujuh tahun.[6]

Sejak kecil, Ibrahim memeram kebencian pada berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya. Dia tidak bisa memahami bagaimana manusia bisa membuat patung, lalu menyembahnya, dan kemudian merasa dirinya sebagai hamba dari patung-patung tersebut. Kebencian ini semakin memilukan setelah memahami bahwa ayahnya adalah kreator yang membuat sembahan-sembahan tersebut.

Menurut Ibnu Katsir, kaum Nabi Ibrahim memiliki sebuah kuil besar yang dipenuhi dengan berhala. Di bagian tengahnya ada ceruk yang menampung berhala-berhala terbesar dengan beragam jenis, kualitas dan bentuknya. Sewaktu kecil, Ibrahim pernah diajak ayahnya ke kuil tersebut. Yang mengejutkan Ibrahim, adalah cara orang-orang berprilaku ketika memasuki kuil tersebut; mereka membungkuk dan mulai menangis, memohon dan memohon kepada berhala mereka, meminta bantuan seolah-olah para berhala tersebut bisa mendengar atau memahami permintaan ini![7]

Awalnya, pemandangan seperti itu tampak lucu bagi Ibraham, tetapi kemudian dia mulai merasa marah. Yang lebih membuatnya kesal, bahwa ayahnya justru mengharapkan agar Ibrahim kelak menjadi salah satu pendeta di kuil itu, sehingga dia sangat menginginkan Ibrahim agar mulai menghormati patung-patung tersebut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, sejak kecil, Ibrahim tak pernah berhenti menunjukkan kebencian dan penghinaannya terhadap patung-patung tersebut.[8]

Pernah satu ketika, Ibrahim dan saudaranya disuruh oleh Azar (ayahnya) menjual berhala yang dibuatnya. Tapi selama menjajakan berhala tersebut, Ibrahim malah berteriak, “Siapa di antara kalian yang mau membeli sesuatu yang tidak bisa membahayakannya, dan tidak pula bisa memberikan kebaikan padanya?”

Terang saja, sampai matahari tenggelam tak satupun orang yang sudi membeli berhala yang dibawa Ibrahim. Kejadian ini kemudian dilaporkan oleh saudaranya kepada ayahnya. Mendengar laporan tersebut, ayahnya langsung naik pitam, dan menanyakan maksud Ibrahim dengan berkata seperti itu? Ibrahim menjawab, “Oh ayah ku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, bahkan tidak bisa memberikan pertolongan sedikitpun terhadap mu?”[9]

Nabi Ibrahim adalah kekasih dari Dzat Yang Maha Pengasih. Meski benci dan marah dengan perilaku keji yang dilakukan oleh ayah dan kaumnya, namun selama bertahun-tahun Ibrahim selalu santun dan sabar dalam mendidik mereka. Dengan akal yang sempurna, Ibrahim senantiasa berusaha mengerakkan kesadaran ayahnya agar menyembah kepada Allah SWT. Alquran yang mulia mengisahkan betapa lembut dan santun cara Ibrahim mengajak ayahnya kepada jalan yang benar, sebagai berikut:

(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya,Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Qs. Maryam: 42-45)

Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Qs. Maryam: 46)

Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku” (Maryam: 47-48)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Mustapha Geme’ah (Darussalam: Riyadh, e-book version), Chapter 5, Prophet Ibrahim (Abraham).

[2] Lihat, Dr. Abdul Karim Zaidan, Hikmah Kisah-Kisah Dalam Al-Quran: Dari Nabi Adam – Isa Beserta Kaumnya, Jakarta, Darus Sunnah Press, 2010, hal. 225

[3] Lihat, https://ganaislamika.com/kaum-quraisy-2/

[4] Lihat, Ibnu Katsir, Op Cit

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Lihat, The History of al-Tabari (Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk), VOLUME II, Prophets and Patriarchs, translated and annotated by William M. Brinner, University of California, Berkeley, State University of New York Press, 1987, hal. 54-55

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*