Kisah Uzair: Orang yang Dianggap “Anak Allah” Oleh Kaum Yahudi (5)

in Studi Islam

M. Quraish Shihab berpendapat; “Memang hampir semua uraian Alquran tentang peristiwa tidak menjelaskan siapa pelakunya, kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Sebab yang dipentingkan adalah pelajaran yang harus diambil dari peristiwa itu. Di sisi lain, hal tersebut juga untuk menunjukkan bahwa peristiwa serupa dapat saja terjadi pada setiap orang, kapan, dan di mana saja.

Gambar ilustrasi. Sumber: wikipedia.org

Terkait narasi kisah Uzair setelah kembali dari kematian, merupakan kisah yang cukup populer di tengah masyarakat. Ibnu Katsir mengemukakan salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, berkata: “Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT: Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 259) yaitu bagi Bani Israil. Yaitu ketika dia duduk bersama anak-anaknya yang telah berusia lanjut sedangkan dirinya masih muda. Sebab, ketika anak-anaknya meninggal, dia baru berumur empat puluh tahun. Lalu Allah mengutus seorang pemuda yang sepadan dengan dirinya ketika dia meninggal dunia. Ibnu Abbas berkata: “Dia diutus setelah masa Bukhtanashar.” Demikian halnya yang diungkapkan oleh Al-Hasan.[1] Abu Hatim As-Sajastany mengungkapkan sebuah syair yang mengandung makna seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas:[2]

Rambutnya masih hitam yang didahului oleh anaknya

Bahkan didahului oleh cucunya, padahal dia lebih tua

Dia melihat anaknya telah usia lanjut berjalan dengan tongkat

Padahal jenggotnya masih hitam kepalanya masih kuat

Anaknya tidak lagi memiliki kekuatan dan tidak memiliki keutamaan di tengah-tengah kaumnya

Sebagaimana seorang anak yang tertatih-tatih dan sangat susah

Anaknya telah berusia sembilan puluh tahun

Padahal dia belum genap dua puluh tahun

Cucunya berusia sembilan puluh tahun

Bila kamu mengetahuinya niscaya tidak mempercayainya

Namun bila kamu tidak tahu, maka karena kebodohanlah kamu memiliki uzdur.

Terlepas dari beberapa perbedaan di antara ulama terkait siapa sesungguhnya sosok yang dikisahkan Alquran (QS. Al-Baqarah: 259), M. Quraish Shihab berpendapat; “Memang hampir semua uraian Alquran tentang peristiwa tidak menjelaskan siapa pelakunya, kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Sebab yang dipentingkan adalah pelajaran yang harus diambil dari peristiwa itu. Di sisi lain, hal tersebut juga untuk menunjukkan bahwa peristiwa serupa dapat saja terjadi pada setiap orang, kapan, dan di mana saja. Itu sebabnya – menurut Asy-Syarawi – jika ada kisah Alquran yang menyebut nama pelakunya, maka peristiwa itu tidak dapat terjadi lagi.”[3]

Tentang Kenabian Uzair

Adapun terkait tentang status kenabian Uzair, berikut ini pendapat Ibnu Katsir:[4]

Yang populer bahwa Uzair adalah seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil. Dan dia hidup pada masa antara Daud dan Sulaiman dan antara Zakaria dan Yahya. Dan ketika di tengah-tengah Bani Israil tidak ada seorang pun yang hafal Taurat, maka Allah SWT memberikan ilham kepadanya untuk menghafal Taurat dan mengajarkannya kepada Bani Israil. Sebagaimana yang dikatakan Wahab bin Munabbih, “Allah SWTmenyuruh malaikat untuk turun dalam wujud cahaya, lalu malaikat itu melemparkannya kepada Uzair, hingga akhirnya dia menghapus Taurat huruf demi huruf sampai selesai.”

Ibnu Asakir meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Salam mengenai firman Allah SWT, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah,’ “ mengapa mereka mengatakan hal seperti itu? Maka Abdullah bin Salam menyebutkan, bahwa dulu tidak ada seorang pun dari bani Israil yang hafal Taurat. Dan dulu Bani Israil pernah berkata, “Musa tidak sanggup mendatangkan taurat kepada kami kecuali yang terdapat di dalam kitab, sedangkan Uzair telah mendatangkan Taurat kepada kami tanpa melalui kitab.” Lalu ada sekelompok dari mereka yang melemparkan Taurat seraya berkata, “ Uzair putera Allah.”

Oleh karena itu, banyak ulama yang mengatakan, “sesungguhnya kemutawatiran taurat itu terputus pada zaman Uzair.”

Dan yang terakhir ini sejalan dengan pendapat yang menyatakan bahwa uzair bukan seorang Nabi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Atha bin Abi Ribah dan Hasan Bashari.

Ishak bin Basyar menceritakan, Sa’id memberitahukan kami, dari Qatadah, dan Al Hasan, dia mengatakan, “Uzair ini satu zaman dengan Bukhtanashar.”

Dalam hadits shahih telah ditegaskan bahwasanya tidak ada seorang nabi pun antara Rasulullah Saw dengan Nabi Isa as., sebagaimana yang beliau sabdakan ini:

“Sesungguhnya orang yang paling dekat masanya dengan putera Maryam (Isa) adalah aku. Dan sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun antara diriku dengan dirinya.”

Wahab bin Munabbih mengemukakan, bahwa Uzair itu hidup pada masa antara Sulaiman as., dengan Isa as.

Ibnu Asakir pernah meriwayatkan, dari Anas bin Malik dan Atha bin Saib, bahwa Uzair hidup pada zaman Musa bin Imran, dan dia pernah meminta izin kepadanya tetapi Musa tidak memberikan izin kepadanya, karena pertanyaan yang pernah diajukannya tentang takdir. Lalu dia kembali dengan mengucapkan, “Seratus kematian lebih ringan daripada terhina sesaat.”

Sedangkan apa yang diriwayatkan Ibnu Asakir dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas, Nauf Al Bikali, Sofyan Al-Tsauri, dan lain-lainnya, bahwa Uzair pernah bertanya tentang takdir, maka namanya dihapus dari deretan nama para nabi, maka sesungguhnya riwayat tersebut berstatus munkar, seolah-olah hal itu diambil dari israiliyat.

Abdurrazak dan Qutaibah bin Said meriwayatkan, dari Jafar bin Sulaiman, dari Abi Imran Al-Juni, dan Nauf Al-Bikali, dia menceritakan:

Dalam munajatnya kepada Tuhannya, Uzair berkata, “Ya Tuhanku, Engkau yang menciptakan mahluk ini, sehingga dengan demikian itu Engkau layak menyesatkan siapa saja yang Engkau kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki?”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Hindarilah hal semacam itu.”

Lalu dia mengulanginya kembali dan kemudian dikatakan kepadanya “Engkau hindari hal itu atau akan Aku hapus namamu dari deretan para Nabi. Sesungguhnya Aku tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Aku kerjakan dan merekalah yang akan dimintai pertanggungjawaban.”

Hal itu mengharuskan pemberlakuan apa yang diancamkan kepadanya jika dia mengulanginya kembali.

Para perawi jamaah meriwayatkan selain dari Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Yunus bin Yazid, dari Said dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Demikian juga yang diriwayatkan dari Syuaib dari Abu Zanad, dari Al-Araj, dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah Saw bersabda: “Ada seorang nabi yang singgah di bawah sebatang pohon, lalu dia digigit oleh seekor semut. Kemudian dia menyuruh mengambil semua perbekalannya dan menjauhkannya dari bawah pohon dan kemudian dia menyuruh agar semut tersebut dibakar. Maka Allah pun menurunkan wahyu kepadanya, “Bukankah dia itu hanya seekor semut?”

Dan diriwayatkan Ishak bin Basyar dari Ibnu Juraij, dari Abdul wahab bin Mujahid, dari ayahnya, bahwa dia itu Uzair. Demikian halnya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hasan Bashri, bahwa orang itu adalah Uzair. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya. Terjemahan Bahasa Indonesia berjudul “Kisah Para Nabi dan Rasul”, Abu Hudzaifah. Lc (penj), (Jakarta: Pustaka as-Sunah, 2007), hal. 776

[2] Ibid

[3] Lihat, M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 1 (Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2005), hal. 558-559

[4] Lihat, Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2005), hal. 596-597

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*