Kota Bundar Baghdad: Megapolitan Pertama Islam

in Monumental

Kota bundar Baghdad adalah metropolitan kedua terbesar pada masanya. Ia dibangun di areal selaus  40 Km2, dengan bangunan-banguna megah di dalamnya, mulai dari perpustakaan, lembaga penelitian (Bayt Al Hikmah), hingga markas kekuatan militer Abbasiyah.”

—Ο—

 

Keputusan membangun Baghdad dibuat oleh Khalifah Abbasiyah kedua, Al-Mansur. Pada tahun 762, Al Mansur menyatakan akan membangun sebuah ibu kota baru untuk kekaisaran Abbasiyah. Secara politis, keputusan ini diambil untuk menarik simpati penduduk Persia yang sudah banyak memeluk agama Islam, mengingat ketergantungan dinasti Abbasiyah terhadap orang-orang Persia memang cukup tinggi.

Sebelum memilih Baghdad, Al Mansur sudah melakukan survey dan memikirkan masak-masak keputusannya. Secara strategis, menurut Al Tabari, keputusan Mansur terhadap Baghdad didasarkan pada tiga hal, yaitu pertama, tempat ini cocok dijadikan sebagai basis kekuatan militer; kedua, mudahnya akses ke sungai Tigris dan Eufrat yang merupakan urat nadi ekonomi dan pelayaran masa itu; ketiga, mudahnya akses ke sector produksi pangan. Wilayah Baghdad pada masa itu terkenal sebagai wilayah yang subur sebab ditopang oleh sistem irigasi yang baik. Sumber air dari irigasi ini adalah sungai-sungai yang mengalir di sekitarnya.[1]

Jarak Baghdad dengan bekas kota Uruk, yang dibangun bangsa Sumeria 4000 tahun sebelumnya, hanya 250 Km. Sedangkan dari bekas kota Babilonia Kuno hanya sekitar 80 Km. Dua kota ini, bagi masyarakat Persia merupakan legenda yang membanggakan. Menurut Eamon Gaeron, ide mambangun Baghdad sebenarnya memiliki tujuan yang kompleks, salah satunya adalah menghilangkan sepenuhnya pengaruh dinasti Sasanid dengan mendekatkan secara psikologis hubungan kekhalifahan Abbasiyah dengan imperium Persia kuno. Dan benar saja, tidak perlu waktu lama, kemegahan Baghdad langsung mengalahkan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia, yang terletak sekitar 30 km (19 mil) ke tenggara. [2]

Peta Kota Baghdad. Sumber Gambar: en.wikipedia.org

Ketika mendeklarasikan Baghdad sebagai ibu kota, Al Mansur menjuluki tempat ini dengan nama Darussalam atau Madinat As-Salam (kota yang damai). Kota Baghdad dalam rancangan Al Masur berbentuk bulat melingkar, yang merupakan design khas Persia. Design bentuk melingkar inipun merupakan perhitungan yang cukup cermat. Selain pola itu merupakan pola khas Persia, pola ini juga ternyata lebih murah. Secara strategis, pola bundar lebih sulit ditembus, sebab tidak memiliki sudut yang dalam beberapa hal, justru menjadi titik lemah sebuah bangunan.[3]

Contoh design kota khas Persia. Gambar di atas merupakan artefak kota Firuzabad, Iran ( 224-241M) pada pemerintahan dinasti Sasanid. Sumber gambar: http://islamic-arts.org

Di tengah lingkaran terdapat Masjid, Istana dan rumah-rumah pribadi Khalifah. Termasuk di dalam ini adalah Bayt Al Hikmah dan perpustakaan Baghdad yang terkenal itu. Kawasan inti ini dikelilingi oleh garnisun yang jaraknya hingga 8 mil, berisi prajurit yang merupakan pengawal pribadi khalifah. Pintu masuk ke kawasan inti ini disepuh dengan emas, sejarawan barat menyebutnya dengan Golden Gate Palace. Orang-orang yang biasa keluar masuk gerbang Golden Gate Palace biasa para duta besar, cendikiawan, dan tamu-tamu VIP baik yang datang untuk berkunjung ataupun bernegosiasi.

Maket Kota Baghdad. Sumber Gambar: www.amusingplanet.com

Istana khalifah, merupakan bangunan termegah di kawasan ini. Langit-langitnya terdiri dari rangkaian kubah-kubah yang bervariasi ukuran dan tingginya. Kubah yang tertinggi adalah 40 meter, dan tidak ada bangunan penduduk yang melampuinya. Sehingga dari kubah ini memungkinkan visibilitas hingga 360 derajat ke cakrawala.

Adapun sebagai arsitek mega proyek ini, Al Mansur menyewa dua orang ahli terbaik pada zamannya. Pertama adalah seorang yahudi bernama Mashallah, dari Khorasan di Persia, sementara yang lainnya adalah seorang penganut Zoroaster bernama Naubakht. Dibutuhkan setidaknya 100.000 tenaga kerja untuk menyelesaikan proyek ini. Dan yang menjadi salah satu bangunan paling penting di kawasan ini adalah design dinding-dinng kotanya.

Dinding ini berfungsi sekaligus sebagai benteng pertahanan. Dinding ini dibuat berlapis ganda, yang di tengahnya mengalir parit berisi air. Tinggi dinding ini 90 kaki atau sekitar 27,5 meter, dengan ketebalan 12 meter. Uniknya, dinding bagian dalam kota dibuat agak miring sebagai upaya mempermudah pasukan kaveleri naik ke atas. Untuk jalan masuk, hanya terdapat 4 gerbang kota.[4]

Empat gerbang Kota Baghdad. Sumber Gambar: www.amusingplanet.com

Nama gerbang-gerbang ini dibuat berdasarkan nama kota atau wilayah acuan yang searah dengan gerbang tersebut. Gerbang pertama bernama Basrah. Letaknya di bagian tenggara kota. Pada masa itu, Basrah merupakan kota pelabuhan besar; Gerbang kedua bernama Kufah, yang letaknya berada di bagian barat. Kufah merupakan bekas ibu kota dinasti Abbasiyah, dan salah satu kota paling penting umat Islam Mazhab Syiah; Gerbang ketiga letaknya di barat laut, yang bernama gerbang Syiria; dan gerbang keempat terletak di timur laut dinamakan Gerbang Khurasan.[5]

Dalam sejarahnya, kota Baghdad berkembang sedemikian rupa dari waktu ke waktu, dan menjadi salah satu metropolin terbesar di dunia masa itu. Pada abad 9 M, Baghdad sudah menjadi kota kedua terpadat bumi, setelah China. Dalam areal sekitar 40 Km2, terdapat sekitar 500.000 penduduk. Dan angka ini terus meningkat, sampai pada tahun 1258 atau ketika kota ini diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol, jumlah populasinya sudah melampuai 1 juta orang.[6]

Ironisnya, kota yang pernah pencapai peradaban paling tinggi itu, harus mengalami kehancuran yang parah oleh invasi bangsa Mongol tahun 1258 M, dibawah pimpinan Hulagu Khan. Konon, Hulagu dan pasukannya meninggalkan Baghdad dalam keadaan hancur berantakan, dan nyaris tanpa penghuni. Asap membumbung tinggi dan menyebar sejauh hampir 50 Km. Perpustakaan Besar Baghdad, yang berisi banyak dokumen sejarah berharga dan buku tentang topik mulai dari kedokteran hingga astronomi, dihancurkan. Korban selamat mengatakan bahwa air sungai Tigris menghitam karena tinta dari sejumlah besar buku yang dilempar ke sungai, dan bercampur warna merah yang berasal dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh.[7] (AL)

 

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 61

[2] Kekaisaran Sasanid Persia berhasil ditaklukan oleh tentara Muslim pada tahun 637 M. tapi meski sudah ditaklukkan, pengaruh keturunan Sasanid masih cukup kuat di tengah masyarakat Persia yang umumnya sudah memeluk Islam. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Round_city_of_Baghdad, diakses 12 November 2017

[3] Lihat, Andrew Petersen, Baghdad (Madinat al-Salam), http://islamic-arts.org/2011/baghdad-madinat-al-salam/, diakses 12 November 2017

[4] Lihat, Eamonn Gearon, Op Cit, hal. 63

[5] Selama masa khilafah Abbasiyah kemudian (dua belas sampai tiga belas), sebuah tembok pertahanan besar dibangun di sekitar Baghdad timur yang selama berabad-abad menandai batas kota. Dindingnya memiliki empat gerbang yang hanya tersisa satu, Bab al-Wastani. Gerbang itu berdiri di tengah parit dan terhubung ke tembok kota dan di luar oleh dua jembatan bata. Lengkungan pintu masuk utama dihiasi dengan antrean geometris dan diapit oleh dua ekor singa lega. Lihat, Andrew Petersen, Baghdad (Madinat al-Salam), http://islamic-arts.org/2011/baghdad-madinat-al-salam/, diakses 12 November 2017

[6] Lihat, Eamonn Gearon, Op Cit

[7] Tentang jatuhnya Baghdad oleh invasi bangsa Mongol, Lihat, https://ganaislamika.com/invasi-mongol-ke-baghdad-1258-m-1/