Malcolm X (14): Menikahi Betty Shabazz (1)

in Tokoh

Last updated on April 25th, 2018 02:19 pm

“Aku memiliki terlalu banyak pengalaman, bahwa perempuan hanyalah makhluk yang rumit, licik, dan tidak dapat dipercaya. Aku telah melihat terlalu banyak laki-laki yang hancur, atau setidaknya terikat, atau dengan cara lain dikacaukan oleh perempuan. Perempuan terlalu banyak bicara.

~Malcolm X

Potret Betty Shabazz. Photo: Michael Ochs Archives/Getty Images

Pada awalnya Malcolm belum berniat untuk menikah, terlebih, Elijah Muhammad pun memintanya untuk sementara jangan dulu menikah. Namun, walaupun Elijah mempunyai permintaan seperti itu, dan Malcolm sendiri pun memiliki pemikiran negatif yang spesifik tentang perempuan, toh pada akhirnya dia malah menikah dalam waktu yang dekat.

Siapakah perempuan yang dapat melelehkan gunung es di hati Malcolm? Dia adalah Betty Dean Sanders, dia bergabung dengan Nation of Islam (NOI) pada tahun 1956. Setelah bergabung dengan NOI, dia membuang nama belakangnya, sehingga namanya menjadi Betty X. Dia adalah seorang perempuan negro bertubuh tinggi, bermata coklat, dan berkulit coklat namun lebih gelap dibanding Malcolm. Di kemudian hari dia lebih dikenal dengan nama Betty Shabazz.

Betty berasal dari Detroit dan merupakan mahasiswa pendidikan akademi keperawatan. Di NOI, dia mempunyai tugas untuk melatih para wanita Muslim mengenai kebersihan dan ilmu-ilmu tentang medis. Dengan massif dan militannya anggota NOI ketika sedang menyelenggarakan acara, banyak orang yang menyangka bahwa NOI semacam organisasi yang memilki dasar-dasar kemiliteran. Memang, NOI membuat semacam pelatihan bela diri seperti Judo dan Karate bagi para anggotanya, tapi itu hanya salah satu kegiatan di antara kegiatan lainnya yang bersifat mendidik dan membangun para anggotanya.

Pada faktanya, NOI menghabiskan lebih banyak waktu dalam ceramah dan diskusi mengenai bagaimana seharusnya untuk menjadi seorang laki-laki. Mereka diajari tentang tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah; apa yang diharapkan oleh wanita; hak-hak wanita yang tidak boleh diambil oleh suami; pentingnya citra ayah/laki-laki dalam rumah tangga yang kuat; peristiwa-peristiwa terkini; mengapa kejujuran dan kesucian sangat penting dalam kehidupan seseorang, rumah, komunitas, bangsa, dan peradaban; mengapa seseorang harus mandi setidaknya sekali setiap dua puluh empat jam; prinsip bisnis; dan hal-hal lainnya yang semacam itu. Betty adalah salah seorang instruktur dalam kegiatan-kegiatan seperti itu.

Sebagai sesama pengurus di NOI, awalnya, Malcolm mengaku tidak memiliki ketertarikan apapun terhadap Betty sebagai perempuan. Dia hanya mengagumi intelektualitas dan latar belakang pendidikannya. Sebagai sesama pengurus, Malcolm seringkali terlibat bersamanya dalam beberapa kali penyelenggaraan acara. Namun suatu waktu, Betty memiliki masalah, dan dia tidak bercerita sama sekali terhadap Malcolm.

Salah satu perempuan sahabat Betty di NOI bercerita kepada Malcolm bahwa orang tua angkat Betty ketika mengetahui bahwa dirinya sudah masuk Islam mengancam. Dia diberi pilihan: tinggalkan Islam atau mereka akan memutus proses belajarnya di akademi. Untuk biaya sekolah, Betty sepenuhnya dibiayai oleh orang tua angkatnya, dan saat ini adalah tahun-tahun terakhir Betty untuk menyelesaikan studinya. Untuk mengatasi ini Betty melakukan pekerjaan sampingan menjadi pengasuh anak, namun itu tidak cukup membantu.

Pada waktu itu Malcolm sudah menjadi menteri di Kuil Nomor Tujuh, New York. Adalah suatu hal yang biasa apabila seorang Menteri mendengarkan berbagai keluh kesah bagi para anak muda muslim dan membantu mencarikan solusinya. Setelah berbicara dengan Betty, Malcolm mencoba mencarikan solusi untuknya. “Dalam posisiku (sebagai Menteri), saya tidak akan pernah bergerak tanpa memikirkan bagaimana hal itu akan mempengaruhi organisasi Nation of Islam secara keseluruhan,” kata Malcolm.

Namun dalam situasi seperti itu, tiba-tiba saja entah datang dari mana, Malcolm terpikir untuk menikah. Dan Betty tampak sangat cocok dengan kriteria yang dibutuhkan oleh Malcolm. Malcolm bertubuh tinggi besar, Betty juga tinggi, dan secara usia, Betty juga lebih muda dibandingkan dengan Malcolm.

Malcolm teringat ajaran dari Elijah Muhammad, bahwa jika seorang laki-laki tinggi menikah dengan perempuan pendek, atau sebaliknya, itu akan terlihat aneh dan tidak cocok. Dia juga mengatakan bahwa usia ideal istri bagi seorang laki-laki adalah setengah plus tujuh tahun dari usia laki-laki, karena menurutnya perempuan lebih cepat tua dibandingkan laki-laki. Selain itu, Elijah juga mengatakan kunci sukses pernikahan adalah penghormatan istri terhadap suaminya. Dan bahwa laki-laki harus memiliki sesuatu yang secara nilai berada di atas istrinya, supaya si istri secara psikologis dapat merasa aman.

Malcolm juga dibalik segala pesona dan kecerdasannya tetaplah seorang manusia. Dia sendiri terkejut dengan pemikiran ini. Dalam segala hal Betty tampak cocok untuknya. Dia malu, juga merasa khawatir akan kemungkinan penolakkan dari Betty. Malahan, di mana ada Betty, Malcolm malah menghindarinya. Malcolm menjadi sangat berhati-hati.

Akan hal ini, akhirnya Malcolm memutuskan untuk menemui Elijah Muhammad untuk berkonsultasi. Ketika diceritakan tentang rencana Malcolm untuk menikah, Elijah tersenyum, dan dia meminta Malcolm untuk membawa Betty bertemu dengannya. Meskipun Betty merupakan anggota NOI, namun secara personal Elijah belum mengenal Betty. (PH)

Bersambung ke:

Malcolm X (15): Menikahi Betty Shabazz (2)

Sebelumnya:

Malcolm X (13): Menjaring Orang-orang Kristen

Catatan:

Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan bebas dari buku karya Malcolm X dan Alex Haley, The Autobiography of Malcolm X, (Ballantine Books: New York 1992), hlm 145-148.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*