Masjid Agung Xian (1): Masjid Berbentuk Kuil di China

in Arsitektur

“Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya di China, masjid ini memiliki tata letak ruangan seperti kuil-kuil tradisional China, yakni dengan bentuknya yang memanjang, dan mulai dari pintu gerbang sampai ke ujung bangunan terdapat 5 jenis halaman yang bertema tertentu.”

–O–

Masjid Agung Xian. Photo: Blazej Mrozinski

Masjid Agung Xian adalah masjid terbesar dan paling terpelihara apabila dibandingkan dengan masjid-masjid tua lainnya yang berada di China. Masjid ini mengalami rekonstruksi ulang secara besar-besaran pada saat era Dinasti Ming berkuasa. Gaya arsitekturnya merupakan gaya arsitektur tradisional China yang diadaptasikan ke dalam bentuk arsitektur Masjid.[1]

Sama seperti Masjid Agung di Hangzhou, Quanzhou, dan Guangzhou, Masjid Agung Xian diperkirakan sudah ada sejak abad ketujuh. Walaupun demikian, sebenarnya bangunan masjidnya yang dapat kita lihat pada hari ini dibangun pada tahun 1392 atau pada tahun ke dua puluh lima Dinasti Ming berkuasa. Tidak ada yang tahu dengan pasti siapa sebenarnya orang yang berinisiatif untuk membangun masjid Masjid Agung Xian sehingga bentuknya menjadi seperti yang dapat kita lihat hari ini, namun beberapa pendapat mengatakan dia adalah Haji Cheng Ho, seorang Laksamana Angkatan Laut China yang namanya sangat termasyur karena jasanya dalam mengamankan perairan China dari ancaman bajak laut.[2]

Sejak abad keempat belas, Masjid Agung Xian telah mengalami banyak rekonstruksi. Sebagian besar bangunan yang masih ada saat ini berasal dari Dinasti Ming dan Qing pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Masjid ini dibangun di Hua Jue Lane, sebuah tempat yang berada di luar tembok kota yang dibangun oleh Dinasti Ming. Dulunya area ini merupakan area yang disebut dengan nama Jiao-Fang, yakni sebuah tempat untuk orang-orang asing yang terletak di bagian barat laut kota. Namun hari ini, lokasi Masjid Agung Xian secara territorial merupakan bagian dari kota Xian itu sendiri, lokasinya hanya berjarak sekitar satu blok dari Menara Gendang Xian (Drum Tower of Xi’an) yang terkenal.[3]

Bangunan Masjid Agung Xian berukuran 48 x 248 meter, dan apabila digabungkan dengan dinding-dindingnya yang mengelilingi areal masjid, luasnya mencapai 12.000 m2.[4] Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya di China, masjid ini memiliki tata letak ruangan seperti kuil-kuil tradisional China, yakni dengan bentuknya yang memanjang, dan mulai dari pintu gerbang sampai ke ujung bangunan terdapat 5 jenis halaman yang bertema tertentu. Tidak lupa, di salah satu halamannya terdapat pagoda tradisional China juga. Namun sama seperti masjid manapun di dunia, masjid ini tetap menghadap ke arah Mekah.[5]

Denah Arsitektur Masjid Agung Xian. Photo: Eraz

 

Halaman Pertama

Setelah masuk ke gerbang pertama yang menjadi pintu masuk ke areal masjid, terdapat halaman pertama. Tembok bagian timurnya terbuat dari bata yang digiling halus dan dipoles serta memiliki dinding lebar di bagian tengahnya, diukir dengan pola bunga yang disusun menjadi tiga bentuk berlian. Proyeksi hias yang menyerupai kurung dougong kayu diukir ke batu bata di bawah atap yang ditinggikan dari dinding lebar yang beratap. Lalu, di tengah-tengah halaman, terdapat gerbang kayu yang mengesankan, atau disebut pailou. Pailou ini berdiri menjulang setinggi 9 meter dengan struktur empat kolom beratap yang semua sisinya terbuat dari kayu, sementara bagian bawahnya menapak kuat pada batu yang dijadikan pondasi. Dougong kurung bertingkat yang diukir dengan sangat cermat tampak serasi dengan atap genteng kacanya yang berwarna biru.[6]

Pailou yang terletak pada halaman pertama masjid. Photo: thetempletrail

Ruangan-ruangan yang berada di sepanjang dinding utara memiliki muka bangunan yang menakjubkan, di bagian tengahnya terdapat  Paviliun Yizhen, atau suka disebut dengan “Paviliun Tiada Tanding”. Paviliun tersebut difungsikan sebagai tempat untuk belajar, dia memiliki tiga lengkungan yang lebar dan memiliki atap berpinggul yang menghadap ke sebuah proyeksi pusat dengan atap lebar yang terangkat. Pintu masuk pavilion diukir oleh ukiran yang halus, jendelanya persis dengan jendela khas China yang dihiasi oleh lubang angin yang berjeruji. Masuk kea rah areal tempat belajar, di sepanjang jalannya terdapat ukiran dengan motif bunga. Pada bagian atapnya terdapat pahatan bunga dan naga. Khusus untuk patung-patung yang berbentuk figur tertentu, hanya terdapat pada bagian atap komplek masjid.[7] Meskipun di dalam Islam ada larangan untuk membuat lukisan atau patung yang terkait dengan figure tertentu, tapi untuk masjid ini tampaknya ada semacam “kompromi” kultural, figure-figur tersebut tetap ada, namun diposisikan di atas, tidak dalam posisi yang terlihat sejajar dengan mata manusia.[8] (PH)

Paviliun Yizhen. Photo: thetempletrail

Bersambung ke:

Masjid Agung Xian (2): Perpaduan Budaya China dan Islam

Catatan Kaki:

[1] “Great Mosque of Xi’an”, dari laman http://islamic-arts.org/2012/great-mosque-of-xian/, diakses 30 Maret 2018.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Eraz, “Nuijie Great Mosque”, dari laman https://www.slideshare.net/erazedrus/nuijie-great-mosque, diakses 30 Maret 2018.

[6] “Great Mosque of Xi’an”, Ibid.

[7] Ibid.

[8] “Xi’an Great Mosque”, dari laman https://thetempletrail.com/xian-great-mosque/, diakses 30 Maret 2018.