Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (2): Dakwah Damai Alawiyin

in Islam Nusantara

Last updated on December 30th, 2017 12:00 pm

Islam disebarkan para penyiarnya dalam dakwah damai dengan pendekatan inklusif dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya lokal

–O–

Pada tahun 2017, di Indonesia diperkirakan terdapat sebanyak 500 ribu – 1,5 juta jiwa keturunan Alawiyin asal Hadhramaut. Pendataan terhadap kaum Alawiyin tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 1932-1940. Dari hasil pendataan tersebut, tercatat terdapat 68 marga atau kabilah (kaum dari satu ayah) kaum Alawiyin. Sementara, di luar itu terdapat 239 marga Arab di Indonesia yang tidak termasuk keturunan Alawiyin. Artinya, jumlah marga keturunan Nabi lebih kecil dibanding marga Arab lainnya.[1]

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas bahwa para Habib tersebut sudah ada sejak lama di Indonesia, bahkan mereka sudah ada jauh hari dari sejak sebelum masa kemerdekaan. Namun, kapankah tepatnya para habib tersebut masuk ke Indonesia?

Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Azyumardi Azra merangkumnya ke dalam empat teori, yaitu Pertama, Islam dibawa langsung dari Arabia, yakni pada masa-masa awal tahun Hijriah; kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyair “profesional”—yakni mereka yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam; ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; dan keempat, kebanyakan para penyebar Islam “profesional” ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Mungkin benar bahwa Islam sudah diperkenalkan ke dan ada di Nusantara pada abad-abad pertama Hijriah, tetapi hanyalah setelah abad ke-12 pengaruh Islam kelihatan lebih nyata. Oleh karena itu, proses Islamisasi tampaknya mengalami akselarasi antara abad ke-12 dan ke-16.[2]

(ki-ka) Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Habib Ali bin Husein al-Attas, dan Habib Hussein bin Muhammad Shihab dalam acara peringatan Maulid Nabi di Kwitang tahun 1950. Photo: Wikimedia

Dari empat teori tersebut, pada bagian manakah para Habib masuk ke Indonesia? Tahap pertama kedatangan para Habib dijelaskan oleh dua habib terkemuka, yaitu Sayid Alwi bin Thahir Al-Haddad (1957) dan Sayid Muhammad Naquib Al-Attas (1972 dan 2011), dan diamini oleh H. Aboebakar Atjeh, mereka mengemukakan bahwa para pembawa Islam kali pertama adalah para Habib pedagang dari Hadhramaut. Aceh merupakan daerah pertama berlabuhnya para Habib tersebut. Bukti dari kehadiran para Habib tersebut dapat dilacak dari keberadaan kuburan kaum Hadhrami di Aceh.[3]

Tahap pertama proses Islamisasi Nusantara oleh para Habib terjadi pada abad-abad pertama Hijriah. Mengingat jauhnya jarak dari tempat turunnya wahyu dan keterbatasan teknologi transportasi, keberhasilannya masih terbatas pada wilayah-wilayah tertentu yang amat terbatas dan belum lagi mampu mencapai wilayah-wilayah lain di seluruh penjuru negeri.[4]

Pada tahapan kedua, Musa Kazhim menjelaskan bahwa para Habib Alawiyin keturunan ‘Ali dan Fâthimah binti Rasulullah SAW tersebut datang pada abad ke-14 M. Pada periode ini, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga dapat tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Perkembangan tersebut mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga abad ke-17 M.[5]

 

Dakwah Damai Alawiyin

Namun terlepas dari teori mana yang benar, Azyumardi Azra mengatakan, hanya satu hal yang pasti, yaitu Islam disebarkan para penyiarnya dalam dakwah damai dengan pendekatan inklusif dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya lokal.[6] Pengarang Al-Madkhal ilâ Târîkh Al-Islâm bi Al-Syarq Al-Aqshâ sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim mengatakan:

“Islam datang ke pulau-pulau yang jauh ini dibawa oleh orang-orang berakhlak mulia, bermoral tinggi, cerdik pandai, dan semangat kerja keras. Sementara itu, bangsa-bangsa yang menerima kedatangan mereka memiliki hati yang jernih sehingga dengan suka cita menerima ajakan mereka dan menyatakan beriman. Mereka adalah keturunan ‘Ali dan Fâthimah binti Rasulullah Saw. yang menginjakkan kaki di wilayah- wilayah yang belum pernah terjamah oleh tangan Barat. Mereka melakukan itu bukan dengan membawa bala tentara, melainkan semangat iman; bukan pula kekuatan, melainkan sikap percaya diri dan keimanan. Tiada mereka berbekal, kecuali tawakal; tiada perahu motor, tiada pula angkatan perang, yang mereka bawa hanya iman dan Alquran. Mereka berhasil mencapai tujuan yang tak dapat dicapai beribu pasukan dengan segala perbekalan dan fasilitas lengkap sekalipun, padahal mereka hanya beberapa orang.”[7]

Bila ditarik lebih ke belakang lagi, tokoh besar Alawiyin, Muhammad bin ‘Ali (574-653 H), atau juga dikenal dengan sebutan Al-Faqih Al-Muqaddam, tokoh yang menjadi peletak dasar-dasar tasawuf kaum ‘Alawiyin secara demonstratif pernah melakukan “upacara” pematahan pedang. Al-Faqih Al-Muqaddam mematahkan pedangnya sebagai simbol politik dan sosial-religius. Ahli sejarah ‘Alawiyin, Sayid Muhammad bin Ahmad Al-Syathiry mengupasnya, dalam kitab Adwar Al-Tarikh al-Hadhramy, sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim, mengatakan:

“Di masa Al- Faqih Al-Muqaddam dan sebelumya, para penguasa di Hadhramaut menyoroti gerak-gerak ‘Alawiyin karena mereka selalu mendapatkan tempat di hati rakyat (mengingat klaim kuat keimaman sebagaimana dinyatakan dalam berbagai hadis dan dipercayai banyak orang). Mereka khawatir, tokoh-tokoh di kalangan kaum ‘Alawiyin dapat menjadi sumber berkumpulnya kekuatan politik dan ditakutkan dapat menggerogoti kekuasaan mereka. Bukan hanya selalu mengawasi gerak gerik ‘Alawiyin, para penguasa ini juga terus menyudutkan kelompok ini, seperti perlakuan para penguasa sebelumnya, yang bermula sejak Bani Umayyah, Bani Abbas, dan lainnya (inilah juga yang mengakibatkan Ahmad bin ‘Isa hijrah ke Hadhramaut untuk pertama kalinya). Alasan yang sama telah membuat kakeknya, Shahib Mirbath (Muhammad bin Ali) hijrah dari daerahnya; juga kematian pamannya Alwi yang dipercayai diracun oleh Al Qahthany, penguasa Tarim saat itu. Maka, pematahan pedang harus dilihat sebagai simbol peletakan senjata, yang berarti kesediaan untuk menempuh cara-cara damai dalam dakwah dan kemasyarakatan. Penekanan pada tasawuf dan metode dakwah secara damai inilah yang kemudian secara umum mewarnai secara turun temurun “mazhab” kaum ‘Alawiyin di mana pun mereka berada, sampai pada masa sekarang ini.”[8]

Rupanya, metode dakwah damai ini diturunkan dari generasi ke generasi Alawiyin berikutnya, termasuk kaum Alawiyin di Indonesia. Memang sejarah mencatat, terlepas kaum Alawiyin ataupun bukan, sebab ternyata ditemukan juga tokoh dakwah Islam di Indonesia yang berasal dari China,[9] bahwa tidak pernah ditemukan adanya unsur peperangan apapun sepanjang sejarah dakwah penyebaran Islam di bumi Indonesia. (PH)

Bersambung ke:

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (3): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (1)

Sebelumnya:

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (1): Siapakah Habib?

Catatan Kaki:

[1] Reja Hidayat, “Dinamika Menelusuri Silsilah Para Habib”, dari laman https://tirto.id/dinamika-menelusuri-silsilah-para-habib-chda, diakses 25 Desember 2017.

[2] Azyumardi Azra, “Islamisasi Nusantara; Dakwah Damai”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 111.

[3] Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 14.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 15.

[6] Azyumardi Azra, Ibid., hlm 101.

[7] Musa Kazhim, Ibid., hlm 15.

[8] Ibid., hlm 6-7.

[9] Tentang pendakwah dari China, lihat “Masjid Muhammad Cheng Ho Palembang (2): Siapakah Cheng Ho?”, dari laman https://ganaislamika.com/masjid-muhammad-cheng-ho-palembang-2/, diakses 26 Desember 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*