Menafsirkan Kembali Arsitektur Islam (2)

in Studi Islam

 

“Kemegahan arsitektural dan kerumitan ornamentasi tak lain sekadar perlambang akan kebesaran sekaligus kekhasan di dalam Islam. Bisa jadi ini tidak bermakna apa-apa ketika manusia telah menghadap Sang Ilahi. Karena sejatinya shalat tidak memerlukan objek visual. Shalat adalah kepasrahan total, mengikatkan hati dan kedirian kita hanya kepada Allah tanpa memandang bentuk dan akurasi sebuah bangunan.”

—Ο—

 

Dalam sejarah Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, diskusi keagamaan, perbincangan sosial, ekonomi, kebudayaan, bahkan sebagai tempat untuk menggalang massa dan siasat politik hingga peperangan. Lebih dari itu, masjid juga berfungsi sebagai tempat tinggal, terutama bagi para pendatang (Muhajirin) yang belum punya tempat tinggal maupun mereka yang hendak menemui Rasulullah saw.

Maka dari itu, pasca pengalihan arah kiblat tembok yang semula berada di depan menjadi di belakang.  Beliau pun memerintahkan agar tempat itu diberi atap meski dibiarkan tanpa penutup bagian samping. Di situlah orang-orang papa yang tidak punya rumah dari kaum Muhajirin bertempat tinggal. Karena itulah, orang-orang yang tinggal di emperan masjid ini dikenal sebagai ahlus shuffah (para penghuni [emperan] masjid), yang didominasi oleh kaum Muhajirin dengan sebutan Shuffatul Muhajirin.

Luas area shuffah ini tidak diketahui secara pasti, hanya saja tempat tersebut mampu menampung banyak orang. Bahkan, Nabi Saw. pernah menjadikan tempat itu sebagai tempat walimah yang dihadiri oleh 300 orang, meski sebagian yang hadir terpaksa duduk di kamar sebagian istri-istri Nabi saw. yang bersebelahan dengan masjid.[1] Inilah hubungan unik antara kegiatan ibadah dan arsitektur, antara fungsi dan bentuk bangunan yang jarang menjadi pertimbangan para arsitektur.[2] Bahwa konsep arsitektural dalam Islam, terutama masjid, tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik semata, posisi bangunan, pertimbangan sosial, religius, dan spiritual-mistisisme juga harus menjadi acuan dalam pendiriannya.

Dari masjid Quba sebagai bentuk peletakan dasar ideologi keummatan yang dicanangkan Rasulullah inilah maka masjid semakin meluas dan berkembang. Model masjid Nabi ini sekaligus menjadi inspirasi embrionik bagi arsitektural masjid-masjid setelahnya. Tata letak dan rancang bangun masjid-rumah Nabi yang berdampingan ini membawa dampak yang sangat luas bahwa kepemimpinan umat seharusnya di mulai dari masjid. Meski dari aspek mistik tidak sesakral bangunan Ka’bah dikarenakan minimnya narasi al-Quran dan hadis, namun pendirian dan konstruksi masjid ini jelas menunjukkan sebuah bangunan yang didasarkan atas model ilahi (divine model). Sehingga masjid ini dari keseluruhan aspek, baik eksterior maupun interior menjadi legitimasi bagi berdirinya masjid-masjid di kemudian hari.

Setelah Islam meluas, para khalifah dan gubernur berlaku sebagai perancang arsitektural masjid pertama di wilayah-wilayah penaklukan. Mereka mengadopsi dan menyesuaikan tradisi budaya yang mereka taklukkan untuk memandu pembentukan dan gaya masjid baru. Tak dipungkiri bahwa Kekaisaran Bizantium dan Sassanian merupakan dua sumber pertama yang menginspirasi bentuk dan gaya masjid awal. Di daerah-daerah yang ditaklukkan yang sebelumnya didominasi oleh budaya non-Muslim, oleh orang-orang Arab didirikan masjid-masjid guna menyediakan ruang bagi umat Islam untuk bertemu dan shalat.

Masjid-masjid yang muncul pada abad pertama sejarah Islam merupakan bangunan yang direnovasi dari bentuk sebelumnya, misalnya, gereja-gereja Kristen diubah menjadi masjid-masjid, atau bangunan baru yang dibangun di atas puing-puing bekas reruntuhan, terutama kolong reruntuhan Romawi. Beberapa penguasa Islam, seperti arsitektural Bani Umayyah di Dome of the Rock (selesai tahun 692 M.) dan Masjid Damaskus (706-714 m), telah menggunakan perancang Bizantium yang dipraktikkan pada disain mosaik untuk menghias bangunan mereka. Dilengkapi dengan gambar pemandangan, perhiasan, dan prasasti al-Quran yang memesona.

Seiring berjalannya waktu, praktik penggunaan teknik bangunan lokal, praktik dekoratif, dan bentuk arsitektural mengakibatkan masjid dari berbagai wilayah dan periode dunia Islam tampil secara visual berbeda. Bentuk-bentuk arsitektural masjid menerima infiltrasi kebudayaan setempat yang dipengaruhi dari khazanah literatur dan kecenderungan artistik masyarakat di tempat tersebut.

Pada dasarnya,  bentuk rancang bangun dari sebuah masjid yang terinspirasi dari masjid-masjid pada masa Islam awal semua menujukannya pada satu titik kesadaran ilahiah, di mana setiap Muslim harus menghadapkan wajah ke arah kiblat yang divisualkan dalam bentuk mihrab. Mihrab secara sengaja diletakkan di bagian tengah yang menghadap arah kiblat menandakan pusat orbit dari segala sesuatu. Sehingga ini tidak lain hanya sebagai penanda lahiriah guna menujukan konsentrasi di tempat persemayaman Allah swt.

Di dalam mihrab semua mata manusia tertuju sebagai bentuk ketundukan diri. Di situlah tempat imam melantunkan ayat-ayatNya, dan makmum mendengarkan dengan penuh kekhusyukan. Ada lantunan, ada nada, ada getaran. Semua tertuju pada satu titik, yaitu Allah. Biasanya mihrab dibuat dengan bentuk melengkung dan sedikit menjorok ke dalam yang berfungsi untuk menghasilkan efek suara sehingga terdengar oleh jamaah di belakangnya. Ada suara, ada nada, ada getaran yang memantul ke arah setiap orang di belakangnya akan memberikan efek memilukan dari sebuah peribadatan. Meski semua kembali kepada setiap orang yang melaksanakannya.

Adapun mimbar menjadi perlambang ‘Arsy yang membentuk tingkatan tempat berpijak dalam setiap langkah manusia menuju Tuhannya. Mimbar divisualisasikan semacam kotak segi empat dengan tangga menuju tempat duduk. Ini sekaligus menandai zona transisi, mengambil posisi di antara alam fisik dan metafisik; pusat tempat manusia tinggal dan batas terluar di mana Tahta Ilahi berdiri dengan jumawa yang meliputi segalanya.

Ruang dan waktu, seperti yang kita kenal, diakhiri di dalam ‘Arsy yang Suci, yang membentuk ambang batas menuju keberadaan alam ilahi. Di dalam tatanan kosmik yang didefinisikan secara geometris, teratur, dan saling terkait; perlambang dari sosok yang berkuasa yang menduduki posisi yang pasti dalam hierarki yang rumit. Seorang khatib (preacher) akan menyampaikan ayat-ayat Ilahi dan menyadarkan manusia kembali menjadi manusia seutuhnya; sebagai hamba dan makhluk Tuhannya.

Seperti ungkapan Ibnu ‘Arabi bahwa untuk meraih percakapan intim antara hamba dan Tuhanya, maka seseorang harus menghadirkan Tuhan di dalam dirinya. Membayangkan Dia hadir di kiblat tempat shalatnya, menggambarkan Dia dalam batinnya, lalu mendengarkan suara-Nya yang menggetarkan seluruh jagad semesta. Maka, itulah syuhud, sebuah penyaksian batiniah yang mendorong manusia untuk menggunakan imajinasi visual. Dengan begitu, maka keterlibatan objek visual  lainnya semakin berkurang.

Kemegahan arsitektural dan kerumitan ornamentasi tak lain sekadar perlambang akan kebesaran sekaligus kekhasan di dalam Islam. Bisa jadi ini tidak bermakna apa-apa ketika manusia telah menghadap Sang Ilahi. Karena sejatinya shalat tidak memerlukan objek visual seperti patung, ikon, dan gambar. Shalat adalah kepasrahan total, mengikatkan hati dan kedirian kita kepada Allah tanpa memandang bentuk dan akurasi dari sebuah bangunan. Jika demikian halnya, lantas apa fungsi arsitektural dari sebuah masjid. terlebih ketika mengembalikan statemen Nabi yang mengatakan bahwa “Di mana pun tiba waktu shalat, maka dirikanlah, karena di situlah masjid.” []

Selesai..

 

Sebelumnya:

Menafsirkan Kembali Arsitektur Islam (1)

 

Catatan:

[1] Mengenai Shuffatul Muhajirin, lihat Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, hadis no. 3489 dalam Al-Maktabah asy-Syamilah, versi 2.11

[2] Samer Akkach, Cosmology and Architecture in Premodern Islam: An Architectural Reading of Mystical Ideas (New York; Albany Press, 2005), hlm. 193.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*