Mengenal Nabi Khidir AS (2)

in Studi Islam

Last updated on March 1st, 2018 05:21 am

“Dia ingin sebuah kemesraan abadi dengan Tuhan Yang Kuasa, apapun ongkosnya. Dia ingin tak ada lagi mendengar kata perpisahan. Dia mendambakan kebaktian abadi. Tuhan Yang Kaya rupanya menjawab semua keinginannya. Zat Agung menarik jiwanya ke Kerajaan-Nya, mendudukkannya di dekat Singgasana sebelum akhirnya mengambil alih seluruh dirinya…”

—Ο—

 

Untuk memulai tulisan ini, kami ingin mengutip pemaparan yang sangat apik tentang jejak ruhani Nabi Khidir, yang ditulis oleh Musa Kazhim & Alfian Hamzah dalam buku “Menyerap Energi Ketuhanan”, halaman 2-4. Berikut  tulisnya:

(Terlahir sebagai seorang pangeran, Khidir sebenarnya sudah mendapatkan semua kemewahan dunia yang diinginkannya). Tapi keinginan Khidir bukan itu. Dia ingin sesuatu yang sempurna, yang abadi, yang bisa menjawab segala ketakpuasan – sekali untuk selamanya. Tapi, dia juga sadar bahwa dunia ini terlalu licin untuk keinginan besarnya itu. Toh singgasana bisa lapuk, kekayaan bisa hangus, kecantikan bisa memudar, hasrat bisa surut, umur lebih-lebih. Tapi jiwanya sudah terlanjur gelisah. Pasti ada sesuatu seperti yang dia inginkan itu. Pasti ada dan dia harus menemukannya sebelum usianya habis.

Dia kemudian meneruskan pencariannya. Dia mencari dan terus mencari. Hingga akhirnya dia berhenti di sebuah titik; dia menemukan Tuhan. Awalnya dia hanya melihat kehadiran Tuhan pada hal-hal yang tampak besar di mata; pada awan yang berarak, pada langit yang tak bertiang, pada bumi yang membentang, pada sungai yang berkelok, pada burung yang melayang, pada manusia yang beragam. Dia terpukau dan mulai menenggelamkan dirinya dalam kebaktian. Ini wujud syukurnya.

Dari situ, ia mulia merasakan kejernihan hati dan pikiran; merasa mulai terhubung langsung dengan Tuhan Yang Tinggi. Dia juga senang bisa menyadari betapa kasih sayang dan perhatian Tuhan terus menyokong kehidupannya, membuatnya bisa hadir dan menikmati segala yang ada di dunia ini – dari sebelumnya tak pernah ada sama sekali. Dia lalu semakin tenggelam dalam peribadatan. Syukurnya menjadi tak putus-putus.

Hingga suatu ketika. Dia tiba-tiba merasa seperti orang yang sedang digulung tsunami kesadaran baru. Dia mendadak bisa merasakan bahwa dunia yang sedang dia pijak, dunia yang berputar, dunia tempat miliaran orang bergerak ke sana kemari, dunia yang menampung segala keragaman dan tingkah penghuninya, hanyalah sebuah mimpi! Ya, mimpi, ilusi. Semua ini di matanya hanyalah mimpi. Mimpi yang terlihat “nyata” pada mereka yang nuraninya tertidur pulas.

Kini, dalam kesadaran barunya itu, yang dia saksikan hanyalah Tuhan. Dia bisa melihat Tuhan hadir di segala penjuru; di tikungan jalan, di tembok yang tegak, pada laut yang bergelok, pada tubuhnya sendiri. Dia bisa merasakan Tuhan hadir di kedua matanya, dalam desah napasnya, pada lengkung alisnya, pada pori-pori wajahnya, dalam detak jantungnya, dalam denyut nadinya…, ‘bahkan lebih dekat lagi’.

Dia terpesona dengan semua itu sebelum akhirnya menyadari batapa dia tidak bisa lagi mengenali dirinya. Dia bahkan tak mampu berkata-kata lagi. Dia bisu layaknya buih yang pingsan dalam dekapan samudera. Tapi dalam kesadarannya yang baru itu – dan perasaan dekat dan akrab kepada Tuhan yang menyertainya – dia masih goyah seperti nyiur di tepi pantai. Dia belum mampu mengendalikan kesadaran barunya itu sepenuhnya. Dia belum bisa berlama-lama dalam kemesraan dengan Tuhan.

Belakangan, dia menyadari kalau ternyata dunia dan alam kesadaran baru yang hadir dalam jiwanya adalah perempuan yang dimadu. Perhatian kepada yang satu menimbulkan iri kepada yang lain. Dia harus memilih. Dan pilihannya jatuh pada yang terakhir; dia ingin sebuah kemesraan abadi dengan Tuhan Yang Kuasa, apapun ongkosnya. Dia ingin tak ada lagi mendengar kata perpisahan. Dia mendambakan kebaktian abadi. Tuhan Yang Kaya rupanya menjawab semua keinginannya. Zat Agung menarik jiwanya ke Kerajaan-Nya, mendudukkannya di dekat Singgasana sebelum akhirnya mengambil alih seluruh dirinya dan menjadikannya “Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Jalannya kini sudah terbuka lebar. Ilmu langsung dari Tuhan membuat dia bisa menahan kematian tak kunjung bisa mendekatinya, hingga hari ini. Ilmu juga yang membuat dia bisa membawa napas kehidupan ke manapun kakinya melangkah, hingga detik ini. [1]

Pada akhirnya, ilmu yang dimiliki Khidir-lah inti dari semua cerita yang diurai oleh Alquran tentang dirinya. Allah SWT mengurai kisah tentang hamba yang istimewa ini cukup panjang dalam surat Al Kahfi dari ayat 60 hingga ayat 82. Tidak tanggung-tanggung, sosok yang datang untuk berguru padanya adalah salah seorang nabi yang berkualifikasi ulul Azmi.

Kisah ini dimulai dengan komitmen Nabi Musa As untuk mencari sosok ‘abid yang Allah SWT perintahkan Musa As untuk menemuinya. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra, asal mula munculnya komitmen ini yaitu ketika Nabi Musa As ditanya oleh kaumnya tentang, ‘siapakah orang yang paling alim? Ia menjawab, ‘aku’, maka Allah SWT menegurnya karena tidak memiliki ilmu tentang itu. Kemudian Allah SWT mewahyukan pada Musa As agar berguru kepada seorang ‘abid yang tinggal di pertemuan dua laut (majma’ al-Bahrain). Tentang siapa nama hamba yang dimaksud dan dimana persisnya laut itu berada, tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Alquran. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu terletak di wilayah Suriah dan Palestina, ada juga yang mengatakan tempat tersebut di wilayah dekat Azarbaijan,[2] dan ada juga yang mengatakan tempat tersebut adalah wilayah Torjah di ujung Maroko.[3]

Selain tempat, Allah SWT juga memberikan tanda lain bagi Musa As tentang tempat tersebut, yaitu apabila ikan yang dibawanya menjadi hidup dan melompat ke laut. Terkait dengan tanda yang kedua ini, beberapa riwayat ada yang mengatakan bahwa pertemuan dua laut yang dimaksud adalah sumber air kehidupan (ma’ al-hayah), sehingga orang yang meneguknya akan kekal abadi dan bangkai yang berada di sekitarnya akan hidupa kembali.[4]

Alquran menceritakan bahwa ketika tanda itu sudah muncul, murid Nabi Musa As tidak menyadarinya. Ia baru menyadari ketika Nabi Musa bertanya padanya tentang makanan yang dibawanya. Muridnya lalu menceritakan peristiwa luar biasa yang disaksikannya, dimana ikan yang dibawanya tiba-tiba melompat keluar dan berenang ke laut. Mendengar ini, Nabi Musa gembira karena sudah sampai pada tujuannya. Akhirnya mereka kembali menyusuri jejak yang mereka lalui sebelumnya, hingga akhirnya sampai ke tempat yang di maksud. Di sanalah kemudian ia bertemu dengan Khidir.

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan kita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari’; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi: 61-65)

Bersambung…

Mengenal Nabi Khidir AS (3)

Sebelumnya:

Mengenal Nabi Khidir AS (1)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Musa Kazhim & Alfian Hamzah, Menyerap Energi Ketuhanan, Jakarta, Hikmah, 2009, hal. 2-4

[2] Lihat, Musa Kazhim, Belajar Menjadi Sufi, Jakarta, Lentera, 2002, hal. 114

[3] Lihat, DR. Abdul Karim Zaidan, Hikmah Kisah-Kisah Dalam Alquran; Dari Nabi Adam – Isa Beserta Kaumnya, Jakarta, DarusSunah, 2010, hal. 467

[4] Lihat, Musa Kazhim, Op Cit

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*