Metode Memahami Islam: Soal Cermin Diri dan Perspektif (3)

in Studi Islam

Last updated on March 14th, 2019 07:37 am

Ada saja penganut mazhab yang berdalil, tidak ada manusia yang sempurna. Kemaksuman (keterjagaan dari dosa) Nabi hanya bermakna beliau sukses menyampaikan wahyu. Selebihnya, Nabi Agung yang selayaknya menjadi manusia par excellence ini sama saja dengan kebanyakan orang: berbuat segala rupa aib dan nista layaknya manusia biasa. Tidak berhenti di sini, mereka menyatakan bahwa Nabi belum mampu mewujudkan Islam sebagai Rahmat sekalian alam.

—Ο—

Memilih Perspektif

Setelah kita pahami bahwa penilaian dan kesimpulan kita tentang Islam lebih mencerminkan jati-diri kita, patutlah kita bertanya: mengapa kita sering tidak habis pikir dengan cara sebagian orang mengambil kesimpulan tentang Islam? Tentu saja ada banyak faktor yang dapat melahirkan perbedaan dalam mengambil kesimpulan ini. Tapi, tak ayal lagi, perbedaan perspektif atau sudut-pandang merupakan salah satu faktor utama. Lain perspektif, lain pula cara orang mengambil kesimpulan. Kedangkalan dan kerancuan perspektif akan melahirkan kedangkalan dan kerancuan kesimpulan.

George Adolphus Storey dalam bukunya yang berjudul The Theory and Practice of Perspective menjelaskan betapa esensial memilih perspektif dalam melihat dan memahami objek—konkret maupun abstrak. Storey menuliskan, “Perspective up to a certain point is a pure science, not depending upon the accidents of vision, but upon the exact laws of reasoning. Nor is it to be considered as only pertaining to the craft of the painter and draughtsman. It has an intimate connexion with our mental perceptions and with the ideas that are impressed upon the brain by the appearance of all that surrounds us..”

(Perspektif pada titik tertentu adalah sains murni, tidak bergantung pada tindak penglihatan, melainkan pada hukum-hukum pasti penalaran. Ia juga tidak bisa dianggap sebagai hanya berkaitan dengan melukis atau menggambar. Ia memiliki hubungan intim dengan persepsi-persepsi mental kita dan dengan ide-ide yang memberi kesan pada benak kita dari semua tampilan yang mengitari kita.) [1]

Problem perspektif ini, menurut saya, adalah salah satu kelemahan utama dalam ekposisi para “advokat” beberapa kelompok Islam, mulai dari yang ekstrim kanan hingga ekstrim kiri, terkait dasar-dasar keyakinan Islam. Tak jarang, argumentasi yang mereka bangun memantulkan kecenderungan memandang Islam dengan perspektif yang timpang, inkonsisten, dangkal, dipaksakan, dan terkadang menghina. Gara-gara perspektif seperti itulah maka Islam dalam pandangan mereka tampak demikian karut-marut.

Ambillah contoh keyakinan tentang “manusia sempurna” (insan kamil) dan kemaksuman Nabi. Sebagian besar Muslim, dari mazhab manapun, percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna yang maksum (terjaga) dari segala kekurangan. Tentu yang dimaksud kekurangan di sini adalah yang dalam batas manusiawi, bukan Ilahi, sehingga kesempurnaan yang layak disandangnya pun adalah kesempurnaan manusiawi dan bukan Ilahi.

Tapi, ada saja penganut mazhab yang menolak konsep Nabi yang sempurna ini. Mereka berdalil, tidak ada manusia yang sempurna. Kemaksuman (keterjagaan dari dosa) Nabi hanya bermakna beliau sukses menyampaikan wahyu. Selebihnya, Nabi Agung yang selayaknya menjadi manusia par excellence ini sama saja dengan kebanyakan orang: berbuat segala rupa aib dan nista layaknya manusia biasa. Tidak berhenti di sini, mereka menyatakan bahwa Nabi belum mampu mewujudkan Islam sebagai Rahmat sekalian alam.

Artikel terkait:

Muhammad Sang Cahaya

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (2)

Bila kita perhatikan secara seksama, penolakan terhadap konsep insan kamil dan doktrin kemaksuman ini ternyata sama sekali tidak didukung oleh pembuktian apapun, melainkan disampaikan langsung dalam bentuk vonis. Gugatan ini lebih menunjukkan pesimisme—untuk tidak menyebut agnostisisme—terhadap batas akhir kesempurnaan manusia. Boleh jadi juga  seperti akan kita uraikan, pendapat ini muncul dari pemahaman yang keliru tentang kesempurnaan Tuhan dan bahkan konsep Ketuhanan itu sendiri.

Akibatnya, fakta-fakta ilmiah ihwal ketidakterbatasan potensi manusia harus runtuh dihantam palu godam “manusia pasti bersalah”. Kita tahu bahwa konsekuensi pernyataan “manusia pasti bersalah” adalah “manusia tak mungkin sempurna”. Padahal, temuan-temuan ilmiah terus mengguyur kita dengan limpahan bukti akan potensi kesempurnaan manusia yang tidak terbatas.

Vonis di atas sejalan dengan ungkapan umum: “Saya kan juga manusia”. Maksud ungkapan ini sepertinya punya dua pesan: A) Ajakan moral untuk melapangkan dada dan membangun toleransi—sebuah ajakan yang harus kita junjung setinggi-tingginya; B) Ajaran untuk memaklumi keburukan, kejahatan dan kelemahan manusia. Ada kesan bahwa dua hal ini sering bercampur-baur dalam wacana keagamaan, sehingga muncul pandangan bahwa manusia wajar saja berbuat buruk dan jahat. Bahkan, tidak mustahil, di balik ungkapan itu terselip fatalisme yang menetapkan keburukan dan kejahatan sebagai watak bawaan manusia.

Tetapi, benarkah demikian? Benarkah manusia itu makhluk buruk dalam watak bawaannya?

Sebagai makhluk, manusia tentu punya banyak kelemahan. Namun, menurut pandangan Islam, manusia jelas adalah makhluk yang sempurna. Segenap ciptaan lain dihadirkan untuk menyempurnakan makhluk agung ini. Jadi, ia sudah barang tentu bukan makhluk yang memiliki cacat bawaan, sehingga ada alasan untuk memaklumi keburukannya tanpa syarat.

Selanjutnya, timbullah asumsi bahwa kalau makhluk sesempurna manusia saja sudah memiliki cacat-cacat bawaan, bagaimana dengan makhluk-makhluk lain yang secara esensial lebih rendah dibanding manusia? Implikasi lanjutannya, muncul gugatan yang tampak absah atas keadilan Ilahi dan hikmah di balik penciptaan: mengapa Allah yang diasumsikan sebagai Tuhan yang Maha Sempurna menciptakan tatanan yang penuh dengan kelemahan intrinsik dan sistemik seperti ini? Dan lebih gawatnya lagi, untuk apa kemudian Allah menetapkan siksa atas kejahatan manusia yang sudah bawaan itu di suatu lingkungan hidup yang secara inheren cacat dan penuh kekurangan?

Pandangan yang melekatkan segala kelemahan dan keburukan pada manusia itu sebenarnya merupakan pesimisme psikis yang berkembang menjadi nihilisme dan absurdisme yang sangat merusak. Bagi orang seperti ini, manusia sejatinya adalah sebuah virus—mengutip ungkapan Agent Smith dalam film The Matrix. Ungkapannya begini: “I’d like to share a revelation I’ve had during my time here. It came to me when I tried to classify your species, I realized that you’re not actually mammals. Every mammal on this planet instinctively develops a natural equilibrium with their surrounding environment, but you humans do not. You move to an area, and you multiply, until every natural resource is consumed. The only way you can survive is to spread to another area. There is another organism on this planet that follows the same pattern. Do you know what it is? A virus. Human beings are a disease, a cancer of this planet. You are a plague, and we … are the cure.” Singkatnya, manusia hadir untuk merusak tatanan. Ia adalah penghambat, bukan pendorong, evolusi alam. Dan karenanya, kehidupan manusia pasti berakhir dengan kehancuran dan kemusnahan.

Sikap nihilis Agent Smith terhadap manusia itu sialnya menyusupi pandangan sebagian pemikir Islam ihwal manusia. Ada banyak cara kita memandang manusia. Tapi cara paling nista adalah dengan mengutuk manusia itu sendiri dan membebankan segala keburukan dan kesalahannya pada pola kejadiannya, pada asal-usul wujudnya. Cara ini tentu dapat berujung pada mempersalahkan Tuhan yang menciptanya, serta hilangnya semangat perbaikan dari dalam diri manusia.

Absurdisme inikah hasil akhir yang ingin diambil oleh orang yang berperspektif bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible”, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal?! Wallahu a’alam. (MK)

Bersambung…

Memahami Islam: Soal Cermin Diri dan Perspektif (4)

Sebelumnya:

Metode Memahami Islam: Soal Cermin Diri dan Perspektif (2)

Catatan kaki:

[1] Storey, George Adolphus. The Theory and Practice of Perspective, 2006. Project Gutenberg (http://www.gutenberg.org/files/20165/20165-h/20165-h.htm#chapI). Hal. 9.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*