Penyebaran Islam di Tanah Sunda (1): Kerajaan dan Agama pra-Islam

in Islam Nusantara

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Sunda memang sudah menjadi masyarakat yang religius. Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan bahwa di tanah ini pernah hidup beberapa kepercayaan, mulai dari kepercayaan kepada roh-roh, hingga agama Hindu yang pernah menjadi agama resmi kerajaan.”

—Ο—

 

Bumi Jawa Barat merupakan bagian dari Sunda Island, yang luas wilayahnya hampir sepertiga dari Pulau Jawa, terjadi setelah munculnya Benua Asia. Sebutan Sunda Islands, maksudnya tentu saja adalah kepulauan Sunda. Hal tersebut masih sejalan dengan peta yang di buat Portugis dan Belanda di masa silam yang membagi Nusantara menjadi dua Gugusan kepulauan, yaitu kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil.[1]

Jauh sebelum agama Hindu lalu Islam masuk, masyarakat Sunda telah memiliki bentuk kepercayaan. Kepercayaan pertama yang mereka kenal adalah kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang dan kepada kekuatan alam pada benda-benda. Kepercayaan tersebut mendapatkan bentuknya pada zaman Neolitikum dan zaman perunggu-besi, ketika kehidupan masyarakat telah mulai menetap dan telah berlaku budaya cocok tanam (mulai 1.500 S.M)[2]

Sejak berabad-abad lamanya di Pulau Jawa berdiri Kerajaan-kerajaan yang berdasarkan agama Hindu dan Budha. Meski demikian, kerajaan yang berdasarkan agama Budha tidak ditemukan di Jawa Barat. Sedangkan Kerajaan yang berdasarkan agama Hindu yang ada di Jawa Barat telah berdiri sejak Abad ke-IV atau tahun 358 M. Umumnya wilayah pemerintahanya kecil, sistem pemerintahannya masih sederhana, Raja-rajanya kurang terkenal, satu dan lainnya juga kurang erat hubungannya, serta peninggalan-peninggalannya sedikit yang bisa dilihat sampai hari ini.[3]

Beberapa kerajaan Hindu tersebut antara lain:

  1. Kerajaan Salakanagara, tahun 130-258 M pusat Kerajaan berada di dekat Muara Sungai Citarum.
  2. Kerajaan Tarumanagara, tahun 358-669 M pusat berada kerajaan di Sundapura (Bekasi).
  3. Kerajaan Kendan, tahun 526-619 M, pusat kerajaan berada di wilayah Nagreg, Kabupaten Bandung. Kerajaan ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Galuh.
  4. Kerajaan Galuh tahun 612-852 M , pusat kerajaan berada di wilayah Karang Kamulian Ciamis. Pusat kerajaan Galuh berpinda-pindah, dan terakhir berada dekat kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis hingga awal abad ke-15.
  5. Kerajaan Sunda, tahun 669-825 M, pusat kerajaan berada di Pakuan Bogor.
  6. Kerajaan Kawali, tahun 1333-1475 M, pusat kerajaan berada di Kawali.
  7. Kerajaan Pajajaran, tahun 1482-1579, pusat kerajaan berada di wilayah hulu sungai Ciliwung dekat prasasti batu tulis Kota Bogor. Raja yang termasyhur di kalangan orang Sunda berasal dari kerajaan ini yaitu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Kerajaan ini menjadi kerajaan terakhir yang bercorak Hindu di Jawa Barat dan selanjutnya wilayah Jawa Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Mataram serta pengaruh Cirebon sangat mendominasi dalam penyebaran agama Islam di wilayah ini.[4]
Peta wilayah kerajaan-kerajaan di tanah sunda. Sumber gambar http://sundalandgeografi.blogspot.co.id/2015/11/kerajaan-salakanagara-tarumanagara.html

 

peta kerajaan salakanagara. sumber gambar https://indocropcircles.wordpress.com/2017/04/17/salakanagara-kerajaan-tertua-nusantara-leluhur-suku-sunda/

 

peta kerajaan tarumanagara. sumber gambar https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tarumanagara_id.svg

 

situs kerajaan kendan di daerah Nagreg, kabupaten bandung. sumber gambar http://kilatnews.com/2016/12/29/7485/

 

batas kerajaan sunda dan kaerajaan galuh. sumber gambar https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda

 

wilayah kerajaan Pajajaran. sumber gambar https://www.paranormal.or.id/2002/02/18/lenyapnya-kerajaan-pakuan-lama/

Pada abad-abad awal masehi, pengaruh India (Hindu-Budha) mulai masuk di Indonesia. Tanah Sunda pun tidak terlepas dari pengaruh tersebut. Masuknya pengaruh Hindu di tanah Sunda terungkap dengan ditemukannya beberapa prasasti peninggalan Punawarman, seorang raja dari kerajaan Tarumanegara, di Desa Tugu, sungai Ciareuteun, Muara Cianten, Kebon Kopi, Jambu (Ciampea-Bogor). Dari beberapa prasasti dapat diketahui bahwa agama Hindu menjadi agama resmi kerajaan Tarumanegara (Punawarman). Prasasti Ciareuteun secara lebih jelas menyebutkan bahwa Punawarman adalah penganut Hindu aliran Waisnawa (menyembah Dewa Wisnu) termasuk pemujaan terhadap Surya atau mazhab Saura.[5]

prasasti ciareuteun. sumber gambar http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-tarumanagara.html

Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadikan seluruh penduduk Tarumanegara memeluk agama Hindu. Dilihat dari prasasti peninggalannya, Purnawarman diketahui merupakan penganut agama yang telah menyatu dengan kepercayaan pribumi. Prasasti tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada raja-raja yang sudah meninggal. Penempatan prasasti di sungai-sungai juga merupakan tradisi leluhur masyarakat Sunda.[6]

Dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian menyebutkan bahwa pengaruh Hindu dan unsur ajaran Budha telah bercampur dengan kepercayaan setempat, dimana masyarakat Sunda lebih menjunjung tinggi roh leluhur atau Hyang. Pada masa kerajaan Pajajaran, agama mereka sudah bersendikan Hyang atau Batara Seda Niskala dan menempatkan dewa-dewa penting Hindu dibawahnya. Ini menunjukan bahwa agama Hindu kehilangan vitalitasnya di masyarakat Sunda pada waktu itu. Sisa-sisa agama itu mungkin dianggap tradisi tanpa dikaitkan lagi dengan India. Sejak abad ke 14 Masehi, agama tersebut telah tertelan oleh unsur-unsur asli kepercayaan penduduk.[7](SI)

Bersambung ke:

Penyebaran Islam di Tanah Sunda (2): Para Perintis

Catatan kaki:

[1] Lihat, Yosep Iskandar, Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), CV Geger Sunten, Bandung, 1997, hal 4

[2] Lihat, R. Moh. Ali, Sedjarah Djawa Barat ; Suatu Tanggapan, Pemda Jawa Barat, Bandung, 1972, hal 52

[3] Lihat, Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa barat, Selayang Pandang Provinsi Jawa Barat, Bappeda cetakan ke-I, Bandung, hal 5.

[4] Lihat, Hoesein Djajadiningrat, “Beberapa Catatan Mengenai Kerajaan Jawa Cirebon Pada Abad-Abad Pertama Berdirinya” Dalam Masa Awal Kerajaan Cirebon, Bharata, Jakarta, 1973, hal 23-40

[5] Lihat, Sri Yoeliwati, Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Daerah Banten dan Sekitarnya, Universitas Padjajaran, Bandung, 1987, hal 38

[6] Lihat, Op.cit, R. Moh. Ali, Sedjarah Djawa Barat, hal 58

[7] Lihat, Saleh Danasasmita, Sejarah Jawa Barat : Rintisan Penelusuran Masa Silam Jilid ke-3, Sundanologi dan Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat, Bandung, 1983-1984, hal 44-45