Perjalanan Intelektual Imam Muslim, Saudagar Kain yang Ahli Hadis (1)

in Tokoh

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Demikian Muslim bin Alhajjaj tumbuh di bawah naungan keilmuan sang ayah. Ketekunannya dalam belajar sejak belia menjadikan Muslim kelak sebagai salah satu pilar ilmu hadis.

Sumber ilustrasi: islamicity.org

Nama lengkapnya Muslim bin Alhajjaj bin Muslim bin Wardi bin Kushadh Alqushayri[1] Annaysaburi. Dia bernasab Alqushayri, beretnis Arab, lahir dan bertempat tinggal di Naysabur.[2]

Para sejarawan berbeda pendapat mengenai tahun kelahiran Imam Muslim. Tidak heran jika Ibnu Khalkan berkata, “Aku tidak melihat para alhuffaz mengingat tahun kelahiran dan berapa usianya saat wafat, namun mereka sepakat bahwa kelahirannya setelah 200 Hijriah…”[3]

Jika menengok usia dan tahun wafat Muslim, pembaca akan mengetahui tahun kelahirannya. Sejarah mencatat, Imam Muslim menghembuskan nafas terakhir di usia 55 tahun pada tahun 261 H/ 874 M. Bersandar pada riwayat ini, Imam Muslim lahir pada  206/821.[4]  

Namun menurut catatan Imam Addahabi, Muslim wafat pada 261/874 di usia 60 tahun. Maka tahun kelahirannya jatuh pada tahun 201/816. Sementara Attawalibah berpendapat, data paling akurat tentang tahun kelahirannya adalah 206/821, pada masa kekahalifaan Almakmun[5] yang kemudian riwayat ini dikukuhkan pula oleh Fakhuri (1352-1438/1933-2016).[6]

Muslim tumbuh dewasa di bawah naungan keluarga berpengetahuan. Ayahnya bernama Alhajjaj seorang guru.[7] Sejak usia 12 tahun, Muslim telah belajar pada ulama-ulama di negerinya.

Seperti jejak Imam Bukhari, Muslim merantau ke berbagai negeri demi menggali ilmu dari para ulama. Dalam petualangannya ke Hijaz, Mesir, Irak, Syam, ia berjumpa dengan para pakar hadis. Ia juga acap kali singgah di Kota Baghdad. [8]

Muslim mengunjungi hampir seluruh pusat kajian hadis. Perjalanan pertamanya ke Kota Makkah untuk menunaikan haji dan belajar pada Abdullah bin  Maslamah Alqanabi pada 220/835[9]. Sepuluh tahun kemudian, ia bepergian ke Irak, Syam, Hijaz, Mesir dan terakhir menuju  Baghdad pada 259/872.[10]

Tentang ilmu hadis, Muslim sejatinya telah menekuninya sejak usia belia. Dia berguru pada beberapa tokoh seperti Yahya bin Yahya Annaysaburi[11], Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawayh, dan Abdullah bin Maslamah Alqanabi.

Seiring berjalannya waktu, ia telah menjadi salah seorang pilar dalam bidang hadis yang memiliki banyak murid. Di antara muridnya yang kemudian menjadi ulama di zamannya ialah Imam Tirmidzi, Ibrahim bin Abi Thalib, Ibnu Khuzaymah, Abdurahmah Ibn Abi Hatim, dan Muhammad bin Makhlad Attar.

Selain melahirkan murid-murid yang sukses, perjalanan intelektual Muslim menghasilkan beragam karya ilmiah. Di antaranya Almusnad Assahih, Almusnadl Al Kabir Ala Asma Arrijal, dan Aljami Alkabir Alal abwab.[12] [YS]

Bersambung…

Catatan kaki:


[1] Menurut Imam Nawawi, Qushayri berasal dari Bani Qushayri, salah satu suku Arab yang cukup dikenal. Lihat; Yahya bin Sharaf Annawawi, Tahdhib Alasma wal Lughat, juz 2 (Bairut: Darul Kutub Alalamiyah, 2010) hlm. 89

[2] Abu Umar wa Uthman bin Abdurrahman Assahrazuri, Siyanah Sahih Muslim min Alikhlal wal Ghalat wa Himayatuhu minal Aqsat wa Saqat, tahqiq Muwaffaq bin Abdullah bin Abdul Qadir (tk, Darul Gharab Alislami, 1984), hlm. 56

[3] Ahmad bin Muhammad bin Khalkan, Wafiat alayan wa Anba Abna Zaman, tahqiq Ihsan Abbas juz 5 biografi nomor 717 (Bairut: Darul Sadr, 1977) hlm. 195.

[4] Abu Umar wa Uthman bin Abdurrahman Assahrazuri. Op.Cit, hlm. 64.

[5] Muhammad Abdurrahman Attawalibah, Aliman Muslim wa Manhajahu fi Sahihihi, cetakan kedua (Alurdun: Dar Ammar, 2000), hlm. 16.

[6] Mahmud Fakhuri, Alimam Muslim bin Alhajjaj Hayatuhu wa Sahihuhu (Alqahirah: Darussalam li Attabaah wa Nashr wa Tawzi), hlm. 36.

[7] Ali bin Alhasan bin Hibat Allah, Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Damasq, tahqiq Umar bin Gharamah Alamrawi, cetakan pertama juz 58 biografi nomor 7417 (Bairut: Darul Fikri, 1997) hlm. 89.

[8] Muhammad Ajjaj Alkhatib,  Ushul Alhadis, Ulumuhu wa Mustalahuhu, cetakan terbaru (Bairut: Darul Fikri, 2006), hlm. 205

[9] Alqanabi merupakan sosok imam dan guru besar bagi Muslim. Abu Zuhrah Arrazi berkata, “Tak ada orang yang aku tulis dapat menenenangkan mataku melebihi Alqanabi”. Lihat; Muhammad bin Ahmad Addahabi, Syiar Alalam Annubala, tahqiq  Syuaib Alarnaut, cetakan pertama, juz 10 biografi nomor 68 (Bairut: Muassasah Arrisalah, 198), hlm. 257.   

[10] Muhammad Mustafa Alazami,  Studies in Hadith Methodology and Literature. Sumber; http://tinyurl.com/ycbmmsyf pdf hlm 94. Diakses pada 1 September 2017.

[11] Yahya bin Yahya bin Abu Bakar bin Abdurrahman, seorang ulama da

ri Khurasan Attamimi Annaysaburi. Lihat; Muhammad bin Ahmad Addhahabi. Op.Cit, hlm. 512

[12] Yahya bin Sharaf Annawawi. Op.Cit, hlm. 89.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*