Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (1)

in Tasawuf

 Oleh : Musa Kazhim

 

Aksioma Dasar

Kau tentu sudah sadar, sobat, bahwa apa yang kau tahu itu bukan segalanya. Bahkan, bisa dipastikan bahwa dunia yang kau lihat ini bukan segalanya. Apa yang belum kau ketahui dan belum kau lihat itu jauh lebih banyak ketimbang yang sudah kau ketahui dan kau lihat. Dunia yang kau ketahui dan kau lihat ini hanyalah serpihan; pecahan kecil dari alam gaib yang lebih luas dan kaya. Atau kasarnya, dunia ini tak lebih dari limbah alam-alam lain yang jauh lebih agung dan lebih mulia.

Para pelancong ruhani tahu bagaimana menengok ke bagian-bagian lain yang tak terlihat itu. Mereka mencoba sebisa mungkin mengintip ke sana, lantaran mereka merasakan betapa pengap, sempit dan terbatasnya dunia ini. Kerinduan mereka semata-mata tertuju pada dunia lain itu; dunia yang jauh lebih megah dan luas itu. Di lubuk hati terdalam mereka berkobar api hasrat untuk melebur ke sana; menyatu dengan Sang Kekasih Mutlak itu. Mereka itulah, kawan, manusia-manusia terhebat dalam sejarah, karena cita-cita mereka yang terlalu tinggi dan suci untuk bisa ditampung di dunia wadag yang serba kurang ini.

 

Andalusia

Di Andalusia yang makmur dan subur, lahir seorang pelancong ruhani yang liar. Ahli-ahli sejarah hanya menyebutnya dengan nama Ibn Arabi. Sebutan ini secara harfiah berarti ‘putra Arab’. ‘Arab’ di sini lebih ditujukan untuk menandakan bahasa ketimbang asal-usul etnis, mengingat bahasa Arab menjadi senjata utamanya dalam menuangkan pengalaman-pengalaman ruhani dan mistis yang maha hebat.

Andalusia adalah bagian dari semenanjung Iberia yang punya posisi istimewa dalam sejarah Islam. Letak geografis, susunan demografis dan keindahan panoramanya membuat Andalusia berbeda dengan kota-kota Islam lain.

Seorang musafir Arab abad kelima pernah menggambarkan Andalusia sebagai “jazirah yang memukau”. Katanya, “(ada) laut luas yang seolah memeluk daratan Andalusia yang penuh buah-buahan, binatang dan burung. Berbeda dengan negeri kepulauan lain, di sini air terasa lezat dan segar. Hampir semua bagian jazirah ini berpenghuni. Di sana sini ada rumah, istana dan benteng. Buminya mengandung beragam sumber alam: pasir koarsa, biji besi, belerang, timah dan logam. Inilah kawasan yang menandai kemajuan peradaban manusia.”

Tapi Andalusia menyimpan ironi: penduduknya tak pernah hidup tenang. Berbagai kerajaan dan imperium saling berebut kekuasaan, meninggalkan tragedi dan drama di tiap sudutnya. Para sejarawan mencatat bahwa warga jazirah itu termasuk paling susah ditaklukkan. Julius Caesar pun harus jatuh bangun menguasainya. Pelbagai perang yang terjadi sebelum dan sesudah masa Islam membuktikan kenyataan tersebut.

Boleh jadi, paradoks keindahan dan kekisruhan Andalusia justru menyuburkan penghayatan spiritual atau yang belakangan lebih dikenal dengan tasawuf. Di sanalah tokoh-tokoh besar sufi seperti Abu Madyan, Abul Abbas al-Uryabi, Abu Imran al-Mirtuli, dan guru-guru Ibn Arabi lainnya. Di tengah konflik sosial, masyarakat akhirnya mencoba untuk lebih melihat ke dalam diri dan batin; mencoba keluar dari banalitas dunia yang tak menjanjikan kesejatian itu.

Tradisi agama yang berbeda-beda membuat tasawuf Andalusia berciri bebas, individual, tanpa struktur dan fleksibel di satu sisi. Di sisi lain, ia bersifat liar, rumit, flamboyan dan menghebohkan. Representasi utama tasawuf ini tak lain adalah Ibn Arabi sendiri—orang yang diberi gelar sebagai syaikh akbar atau muhyid-din (penghidup agama).

Bersambung ke:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (2)