Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (2)

in Tasawuf

Dia adalah putra dari seorang yang sudah mencapai maqam mencerap ‘Napas Sang Maha Pengasih’. Ia diberi nama Muhammad, sebuah isyarat cinta untuk Baginda Nabi Muhammad SAW.

Leluhur

Ibn Arabi lahir tahun 1165 Masehi (560 Hijriah) dalam sebuah kota benteng bernama Mursia, di timur Andalusia. Di saat kelahirannya, kota ini sedang terguncang. Perebutan kekuasaan tengah berkobar di sana. Ibn Mardanisy, penguasa Mursia, bertekad memisahkan diri dari kekuasaan dinasti Almuwahhidun. Keganasan Ibn Mardanisy dan sejumlah tentara bayaran dari kalangan Kristen seperti tak pernah berujung. Tanpa lelah dia mencari perkara dengan penguasa Almuwahhidun kala itu, Abu Ya’qub Yusuf.

Setelah berkali-kali gagal meraup kemenangan telak, Abu Ya’qub, penguasa dinasti Almuwahhidun, mengambil langkah terakhir. Dia mengirim pasukan besar untuk menembus benteng pertahanan Ibn Mardanisy. Mencium gelagat kekalahan, Ibn Mardanisy pun keluar gilanya. Seluruh sahabat dekatnya dia siksa, saudarinya dia bunuh, anak-anaknya dia tenggelamkan di kolam, dan dua penasihatnya dia pasung. Orang-orang di sekitarnya bernafas lega setelah Ibn Mardanisy meregang nyawa di tahun 1170. Bersamaan dengan itu Mursia kembali ke pelukan Almuwahhidun untuk waktu yang cukup lama.

Ayah Ibn Arabi, Ali, menamai anaknya dengan Muhammad—sebuah isyarat cinta untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kecintaan ini kelak melahirkan salah satu ekspresi paling mistis tentang kedudukan Muhammad SAW dalam pemikiran Islam. Gagasannya tentang “Manusia Sempurna” memperkaya khazanah pengagungan Baginda Nabi.[1]

Ibn Arabi berasal dari suku Arab yang terkenal dengan keluhuran dan budi pekertinya. Kakeknya dari garis ayah adalah Hatim Ath-Thai: lambang kemurahan hati dan keksatriaan Arab sebelum Islam. Kedermawanan Hatim menyebabkan masyarakat mengira bahwa dia adalah orang paling kaya di tanah Arab. Padahal Hatim hanyalah pedagang kelas teri.

Hujr bin Adiy al-Kindi, sahabat setia Nabi, juga memiliki hubungan darah dengan Ibn Arabi. Inilah sahabat yang pernah menyatakan kesiapannya berjuang bersama Nabi meski tubuhnya dicincang dan dibuang ke tungku api lalu dihidupkan lagi untuk diperlakukan serupa sebanyak seratus kali. Setelah Nabi wafat, Hujr menjadi sahabat setia Ali bin Abi Thalib. Dalam banyak kesempatan, dia menentang mesin propaganda Muawiyah yang bekerja mendikreditkan Ali. Dan demi semua itu, dia membayarnya dengan nyawa.

Ayah Ibn Arabi, Ali, bekerja sebagai pegawai pemerintahan dinasti Almuwahhidun. Hidupnya bersahaja dan suka bergaul dengan kalangan cendikiawan. Salah satu teman dekatnya adalah filosof besar Islam, Ibn Rusyd. Kelak dia mempertemukan anaknya, Ibn Arabi, dengan Ibn Rusyd, untuk bertukar pikiran. Banyak orang di sekitarnya menganggap Ali sebagai wali Allah. Ibn Arabi sendiri memandangnya sebagai pesuluk yang telah mencerap ‘Napas Sang Maha Pengasih’ (an-nafas Ar-Rahmany).[2]

Dalam salah satu karyanya, Ibn Arabi menuturkan kisah kematian sang ayah. “Salah satu ciri orang yang sampai maqam[3] (mencerap ‘Napas Sang Maha Pengasih’) ini ialah di saat matinya dia ditetapkan sebagai orang hidup… Saya menyaksikannya dalam diri almarhum Ayahanda. Cukup lama kami ragu untuk menguburnya. Airmukanya begitu mirip dengan orang hidup, sekalipun jantung dan nafasnya telah berhenti layaknya orang mati… Di hari kematiannya, dia memang sakit parah. Dia bangun dari pembaringannya tanpa dibantu dan berkata, ‘Anakku, hari ini adalah hari keberangkatan dan pertemuan.’ Aku menyahut, ‘Semoga Allah menetapkan keselamatan bagi perjalananmu ini.’ Dia sangat gembira dengan kata-kataku dan berkata, ‘Semoga Allah memberimu pahala!’

“Lalu seberkas cahaya berpendar di dahinya—kontras dengan warna pucat di sekujur tubuhnya. Ayah juga menangkap cahaya terang itu. Perlahan cahaya itu menyebar ke seluruh wajahnya dan menyelimuti sekujur tubuhnya. Aku memeluknya dan berkata, ‘Aku akan pergi ke Masjid Agung (untuk mengaji dan berdoa). Aku akan di sana sampai aku dengar kabar kepergianmu.’ Dia menjawab, ‘Iya, pergilah kesana dan jangan biarkan siapa pun menjengukku.’ Persis tengah hari, kabar kematiannya kudengar. Aku balik ke rumah dan menemukannya dalam keadaan yang membuat siapa saja bingung apakah dia masih hidup atau benar-benar sudah mati. Dalam keadaan seperti itulah kami menyemayamkannya.”

Jauh sebelum babak kematian itu, Ibn Arabi telah menyaksikan ketinggian ruhani ayahnya. Sewaktu berumur 12 tahun, Ibn Arabi pernah terserang penyakit mematikan. Dia koma untuk waktu yang lama. Banyak orang mengira dia telah mati. Dalam keadaan itu, Ibn Arabi melihat beberapa sosok berwajah seram yang mencoba mengganggunya. Tiba-tiba dia melihat sosok yang tampan, gagah dan berbau harum membelanya dan berhasil mengalahkan mereka semua. “Siapa kau?” tanya Ibn Arabi. Sosok itu menjawab, “Aku adalah surah Ya Sin; aku adalah penjagamu!” Sesaat kemudian Ibn Arabi tersadar dan melihat ayahnya yang duduk di samping kasurnya baru saja kelar membaca surah Ya Sin sambil bercucuran airmata.

Bersambung ke:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (3)

Sebelumnya:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (1)

Catatan kaki:

[1] Toshihiko Izutsu pada akhir bukunya berjudul “Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi”, menyatakan bahwa “Maqam paling ideal Manusia Sempurna adalah ketentraman dan kedamaian ruhani dari kedalaman yang tak dapat ditembus. Dia adalah pendiam yang puas dengan pasivitas dimana dia memercayakan dirinya dan segala sesuatu kepada keputusan Allah. Manusia Sempurna adalah seorang manusia yang memiliki dalam dirinya sendiri kekuatan ruhani yang menakjubkan dan dihiasi dengan makrifat tertinggi akan Wujud, memberi kesan samudera tenang yang jeluk. Demikian itu karena dia adalah citra paling sempurna, dalam bentuk individual konkret, Manusia Sempurna kosmik yang meliputi dan mengejawantahkan semua Nama dan Sifat Sang Mutlak”. Lihat, Toshihiko Isutzu, “Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi”, Bandung, Mizan, 2015, Hal. 77-101

[2] Menurut Ibn Arabi, nafas sang Maha Pengasih tersebut setiap saat berhembus keras dalam bentuk ciptaan, anugerah, dan kasih sayang. Ia menyebut keadaan sebelum berhembusnya napas Sang Pengasih sebagai karb; kelebihan beban dalam perut yang terlalu kenyang. Inilah tekanan dahsyat yang disebabkan oleh penuhnya rahmat Allah. Mustahil Allah menahan rahmatnya, seperti juga tidak mungkin orang menahan napas terlalu lama dalam dadanya. Lihat, Musa Kazhim & Alfian Hamzah, Menyerap Energi Ketuhanan; Syarah Do’a Nabi Khidir as Untuk Kejayaan Dunia dan Akhirat, Jakarta, Hikmah, 2009, Hal. 38. Tampaknya orang yang sudah sampai bisa merasakan napas Sang Pengasih akan memiliki karakter yang sangat lembut, pemurah dan sangat penyayang. Sudah barang tentu, ia akan menjadi pribadi yang selalu bahagia, dan terbebas dari segala bentuk kegundahan. Inilah yang tampaknya ada dalam diri ayah Ibn Arabi. Meski apa yang dimaksud dan dilihat oleh Ibn Arabi dengan napas Sang Pengasih pada diri ayahnya, tentu jauh berbeda dengan anggapan awam seperti ini. Wallahu’alam..

[3] Diantara istilah ‘irfan yang terkenal adalah hal dan maqam. Hal adalah apa yang menghinggapi hati seorang ‘arif tanpa diinginkannya, sementara maqam adalah apa yang dicapai oleh seorang ‘arif melalui upayanya. Hal melintas secara cepat sementara maqam bersifat permanen. Dalam Nahjul Balaghah, Kitab, No- 220, h. 337, di sebutkan “Seorang wali menghidupkan kalbu dan membunuh egonya sampai-sampai sifat kekasarannya menjadi lunak, perangai kerasnya menjadi lembut. Dan kilatan cahayapun menembus ke dalam dadanya, menunjukinya jalan…”. Lihat, Murtadha Muthahhari, Mengenal ‘Irfan; Meniti Maqam-Maqam Kearifan, Jakarta, Penerbit Iman, 2002, Hal. 100-101