Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (8)

in Tasawuf

 

Oleh : Musa Kazhim

Bila para pecinta dunia saja demikian bersemangat mengejar impiannya, lantas bagaimana dengan manusia yang sudah terbakar cinta pada Sang Khaliq?

—Ο—

 

Syahwat Mencintai

Sejak remaja Ibn Arabi memang suka berdoa yang aneh-aneh. Dia, misalnya, sering meminta ‘syahwat untuk mencintai’. Begini persisnya: “Tuhanku, karuniai daku dengan syahwat untuk mencintai dan bukan dengan Cinta itu sendiri.” Syahwat dalam bahasa Arab berarti gairah yang tak bisa ditunda-tunda atau ditahan lagi. Ibarat bara yang tak mungkin padam sebelum membakar. Melawannya seperti menahan rasa kebelet yang luar biasa atau melawan gravitasi. Hanya ada dua pilihan: terus-menerus menderita dan akhirnya musnah atau memuaskan syahwatnya.

Sekalipun terdengar vulgar, doa itu setidaknya mengungkapkan tiga sikap penting dalam suluk. Pertama, tekad mencintai Allah dengan risiko apapun. Kedua, kesadaran bahwa hanya dengan syahwat yang sedemikian membuncah itulah orang bisa menghanguskan segala sesuatu selain Kekasihnya. Tanpa syahwat yang seperti ini, jiwa manusia yang lemah bakal mudah sekali lancung di ujian lalu sesat di jalan, melemah lalu susut ke belakang atau kehilangan konsentrasi dalam mengejar matlamat. Dan ketiga, dan ini yang terpenting, ia mengungkapkan kerendahan hati sekaligus kesadaran bahwa Cinta Sejati tak bisa diperoleh tanpa pengorbanan yang sebesar-besarnya—sebesar kesirnaan diri yang kerap disebut sebagai fana.

Ibn Arabi seakan ingin menyatakan bahwa meminta Cinta Ilahi sama saja dengan membual. Meminta Cinta tanpa perasaan menggebu yang diikuti kegilaan tertentu sama saja dengan memperolok-Nya. Dan semua itu bertentangan dengan naluri Ibn Arabi sebagai pelancong ruhani yang liar, nekat dan flamboyan.

Sedari awal menjejakkan kaki di jalan Allah, Ibn Arabi menyadari bahwa untuk menghampiri Allah dia harus siap dengan segala sesuatu. Dia harus siap dengan segenap huru-hara; siap mengedor-gedor ruhnya dan merontokkan kerak-kerak jasmani. Pokoknya, dia harus tak punya beban, pasrah bulat, dan sirna musnah di jalan-Nya.

Orang yang ingin dunia dan harta saja sering mengendarai syahwat untuk meraihnya. Siang malam harta itu terbayang di matanya. Tak ada waktu berlalu tanpa memikirkan, merencanakan dan bekerja untuk memperolehnya. Dalam proses itu, banyak yang sampai kehilangan diri sendiri, lantaran di dalam dirinya yang ada hanya bayangan harta yang sedang dikerjanya. Nah, bagaimana lantas dengan orang yang ingin meraih Cinta Ilahi? Sudah tentu suasananya bakal jauh lebih seru dan melelahkan.

Hanya melalui totalitas seperti itulah manusia mampu lahir kembali secara sukarela di alam-alam lain setelah sebelumnya lahir secara terpaksa atau secara kebetulan di dunia ini. Tanpa kepasrahan mutlak yang dibarengi dengan syahwat yang meronta-ronta itu, kelahirannya di alam-alam lain hanya akan seperti bayi prematur yang sudah setengah mati atau bangkai yang justru sudah membusuk. Allah yang Maha Adil memberi pilihan tiap manusia: lahir kembali di alam yang lebih luas dan megah dengan sehat dan utuh atau terus membusuk di sana sebagai bangkai.

Sebelum lahir kembali di alam lain, syahwat mencintai mungkin melarutkan kenyataan dan menimbulkan apa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai “kegilaan”. Kegilaan ini sebenarnya bagian dari proses merobek tirai-tirai yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai kenyataan. Ujungnya, rangkaian kesadaran akan kenyataan yang selama ini sudah terbingkai di hadapannya perlahan tapi pasti runtuh berantakan. Maka tak tersisa lagi di depannya apa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kenyataan, melainkan muncul kenyataan lain yang sama sekali jauh lebih kaya dan luas dari sebelum-sebelumnya.

Kelahiran kembali itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan hari kebangkitan. Ibn Arabi pernah menuturkan visi berkenaan dengan kebangkitannya kelak. “Aku melihat sebuah visi yang melukiskan bahwa Hari Kebangkitan terjadi. Orang-orang berlarian ke depan; sebagian berbusana, sementara yang lain telanjang; sebagian berjalan dengan kaki, sementara yang lain berjalan dengan wajah mereka.

“Lantas Allah datang ‘dalam naungan awan yang kelam bersama para malaikat’ (QS 2: 210). Dia duduk di Arsy yang diusung oleh para malaikat. Lalu mereka meletakkan Arsy di sebelah kananku. Ketika semua ini berlangsung, aku tak mengalami kegelisahan, ketakutan atau kengerian.

“Lalu Allah meletakkan telapak-Nya di atasku untuk menunjukkan situasi yang kualami (di dunia yang rendah ini). Berkat hadis yang sahih aku mengerti maksud-Nya dan aku berkata: “Tuhanku, para raja menuntut pertanggungjawaban dari rakyatnya karena mereka miskin dan membutuhkan apa yang dibuat rakyat untuk kekayaan mereka. Tapi Engkau Maha Kaya. Kalau begitu katakan padaku apa yang akan bertambah dari kekayaan-Mu dengan menuntut makhluk-makhluk ini?” Dia tertawa lalu berkata: “Apa yang kau mau?” Aku mejawab: “Perkenankan aku masuk Surga (tanpa perhitungan).” Dia pun berkenan.”

Masa Kelesuan

Kegilaan syahwat yang tak beraturan kerap membuat sang pesuluk menemukan kelesuan. Tentu jiwa dan ruh yang berjalin dengan tubuh bakal merasakan kelesuan. Maka itu, seperti kata Ibn Arabi sendiri, dia pernah memasuki masa kelesuan yang dia istilahkan dengan al-fatrah. Inilah masa ketika hamba merasa “ditinggalkan” oleh Tuhannya, masa tenang dari kegilaan mencari dan mencintai Allah.

Secara harfiah, fatrah berarti saat kelesuan setelah melakukan kerja berat. Secara istilah, fatrah berarti fase kosong yang terjadi di antara dua masa kenabian. Kalangan sufi menganggap bahwa tiap pesuluk bakal menemui masa rehat ini; yakni ketika pesuluk merasa seolah Allah meninggalkannya dan khawatir bahwa periode ini berkelanjutan. Bagi sebagian pesuluk memang periode ini berlangsung tanpa ujung.

Ibn Arabi menuturkan: “Ketahuilah bahwa aku menghayati ayat Allah ini (Dan tanah yang baik akan menumbuhkan tanaman dengan seizin Tuhannya…QS 7: 58) sebagai dzikr (ingatan) ketika Dia memanggilku kepada-Nya, dan aku menyahut panggilan-Nya. Aku menghayatinya beberapa waktu, lalu datanglah periode fatrah. Ini adalah fatrah yang dikenal luas di jalan orang-orang yang mengenal Allah; hampir tak ada orang meniti jalan Ilahi lolos dari periode ini. Manakala ia menimpa seseorang, satu dari dua hal ini terjadi: entah ia diikuti dengan (kembalinya) keadaan awal yang penuh gairah dan pertarungan ruhani (mujahadah) sebagaimana terjadi pada orang-orang yang menerima inayah Ilahi yang Dia jaga, atau fatrah ini berlanjut tanpa akhir. Orang-orang yang mengalami keadaan kedua ini tak mungkin lagi berhasil.

Tatkala masa “pembiaran” ini berlangsung dan menguasaiku, aku melihat Tuhan dalam visi (waqia). Dia memperdengarkan ayat-ayat ini (Dan Dialah yang mengirim angin untuk mengirim berita gembira rahmat-Nya…QS 7:57). Aku menyadari bahwa ayat ini merupakan pertanda Allah membimbingku memperoleh keberhasilan awalku dengan bantuan Isa, Musa dan Muhammad—salam sejahtera atas mereka semua.”

Ibn Arabi akhirnya berhasil keluar dari pusaran fatrah ini, padahal banyak pesuluk sebelumnya terperosok jauh di dalamnya. Lewat visi Ilahi yang lebih tajam, dia mampu menyusuri jalan menuju puncak kewalian di zamannya.

Singkatnya, sejak usia dini, Ibn Arabi sudah mengalami banyak guncangan. Di saat masih mempelajari al-Qur’an dan menikmati hidup sebagai remaja, Allah tiba-tiba membetotnya ke arah suluk ruhani. Terhentak oleh tarikan keras itu, dia kabur dan menjauhi keramaian. Dalam kesendirian, dia menerima pencerahan dan pengetahuan ruhani. Dia lalu menjalani pertobatan dengan membuang semua harta miliknya. Dan terakhir, seperti semua pesuluk lainnya, dia harus terseok-seok dan terlantar di gurun sahara ruhani yang tak bertepi; mengalami apa yang dia sebut sendiri sebagai fatrah (fase kelesuan). Barulah setelah itu Allah menyambutnya sebagai hamba yang sepenuhnya.

Ibn Arabi memang melompat jauh dalam suluknya, melewati maqam demi maqam dengan gesit, dan sampai ke ujung dengan cepat. Keadaan ini memang biasa terjadi pada orang majdzûb (mengalami tarikan Ilahi) seperti Ibn Arabi, yakni orang yang diterjang syahwat cinta Ilahi yang gila dan liar. Tapi, berbeda dengan sufi-sufi majdzûb lain, saat dalam fatrah itu dia justru memutar arah dan kembali ke titik nol. Dia ingin melewati tiap maqam dan mencermati apa saja yang ada di sana secara teliti dan perlahan. Tujuannya agar dia bisa melukiskan tiap maqam, tantangan, godaan, disiplin, keadaan dan capaian suluk secara runtut dan rinci lalu merangkumnya menjadi panduan lengkap buat siapa saja yang memerlukannya.

Selesai

 

Sebelumnya:

Perjumpaan dengan Sang Arif; Hagiografi dan Pemikiran Ibn Arabi (7)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*