Puasa Kaum Sufi (11): Al-Hujwiri dan Para Sufi Lainnya (2)

in Ramadania

Ibadah ini adalah rahasia yang tidak ada kaitannya dengan ibadah lahiriah. Suatu rahasia yang tak ada yang mengetahuinya selain Allah, dan karena itulah pahalanya tak terkira. Manusia memasuki surga karena rahmat Allah, dan tingkatan mereka bergantung ibadahnya. Sementara menetapnya mereka di dalam surga untuk selamanya dikarenakan pahala puasanya

Oleh

Khairul Imam

(Staf Pengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta)

Gambar ilustrasi. Sumber: hipwallpaper.com

Lapar menjadi dominan dalam bangunan tirakat dan tarekat kaum sufi. Dengan lapar, mereka merasakan terbukanya satu dimensi ruhani. Sehingga teranglah segala hal yang selama ini terhijab. Bukan sekadar lapar tanpa pemahaman mendalam, terlebih tanpa kesadaran untuk suatu kebangkitan jiwa dan mata hati menuju Allah SWT. Namun meniti lapar dengan seperangkat nilai-nilai Ilahiah, menapaktilasi Rasulullah Saw sebagai panutan dan manusia terbaik. Karena dengan itu, dia yang lapar akan memperoleh makna lapar yang sesungguhnya, serta mendapat balasan sebagai seorang mujahid di jalan Allah.

Muara lapar ada pada perut. Konon, perut merupakan tempat kontrol utama dalam pengendalian nafsu syahwat. Dia menjadi sumber syahwat dan tempat segala penyakit dan ketercelaan. Dari sinilah segalanya bermula, diikuti dengan syahwat kemaluan dan menguatnya libido senang kawin. Gairah pada makanan dan pernikahan ini mengantarkan pada cinta kedudukan dan harta. Keduanya membentangkan jalan pada kegemaran nikah dan makanan. Kemudian memperbanyak harta dan meninggikan kedudukan ini pun diikuti berbagai tingkah laku, persaingan, dan saling dengki. Di antara keduanya ini akan memunculkan potensi riya, saling bangga-banggan, banyak-banyakan, dan kesombongan. Semua ini akan melahirkan gejolak hati, dengki, permusuhan dan perseteruan. Ini melapangkan pengidapnya menuju masuknya permusuhan, kemungkaran, dan tindakan keji. Demikian keterangan al-Ghazali dalam Ihya.[1]

Jauh sebelumnya, persoalan ini telah diulas oleh Al-Hujwiri. Menurut sebagian orang, lapar menghendaki seseorang menghindari makanan selama dua hari dua malam. Ada pula yang mengatakan tiga hari tiga malam. Bisa juga seminggu, atau bahkan empat puluh hari. Sebab sufi sejati meyakini bahwa orang-orang yang benar hanya akan lapar dalam empat puluh hari. Dan itu sekadar menjaganya agar tetap hidup. Selebihnya merupakan bentuk godaan nafsu dan kebiasaan alamiah.”[2]  

Pernyataan di atas diamini oleh Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab al-Firasat, sebuah petunjuk pada pengetahuan tentang perilaku dan kebiasaan manusia yang sangat gamblang. Dia mengatakan bahwa perut yang lembek (tipis) mengisyaratkan sehatnya akal pikiran, dan sebaliknya, perut yang besar memperlihatkan orang yang senang kawin. Namun dia pun mengkritik orang yang terlalu kurus, hingga tulang rusuknya tampak dan terbalut kulit yang tipis menunjukkan lemahnya kalbu.[3] Kemungkinan tafsiran ini berdasarkan pengalaman ar-Razi selama bertemu dengan banyak orang. Kesimpulan ini tidak lantas menegasikan para sufi yang menjadikan lapar sebagai laku riyadhah-nya, yang menyebabkan tubuhnya kurus hingga tampak tulang rusuknya.

Berkenaan dengan lapar, riyadhah ini terbilang berat. Tidak semua salik mampu menjalaninya. Kalaupun mampu menjalaninya, itu sebatas anjuran dari mursyid atau guru spiritualnya. Biasanya para salik diberikan wazhifah atau amalan ini melalui puasa. Dan itu pun tidak selamanya. Begitu selesai satu wazhifah tersebut, mereka ingin segera berbuka, kecuali bagi para ahli makrifat yang mengetahui manfaatnya. Karena itulah, Yahya bin Muadz ar-Razi pernah mengatakan, “Seandainya diketahui bahwa “lapar” dijual di pasar-pasar, niscaya para salik tidak akan membeli selainnya.”[4]

Dalam hal ini, Ibrahim bin Adham berkisah, “Aku berteman dengan para wali (rijal Allah) di pegunungan Lebanon. Mereka menyuruhku jika kembali ke masyarakat untuk menasihati mereka dengan empat hal: siapa yang banyak makan tak akan pernah menemukan manisnya ibadah; barang siapa yang banyak tidur, dia tidak akan mendapatkan keberkahan dalam usianya; siapa saja yang mencari ridanya manusia, dia tak akan pernah menantikan keridaan Allah SWT; siapa pun yang ucapannya berlebihan dan membincangkan keburukan orang lain (ghibah), maka tidak akan mati kecuali dalam keadaan keluar dari Islam.

Abdullah bin Sahl at-Tustari juga menegaskan bahwa berkumpulnya kebaikan ada dalam empat hal, yang dengan itu pula seseorang akan menduduki posisi sebagai wali abdal[5]. Keempat hal tersebut adalah: pertama, mengosongkan perut dengan lapar; kedua, diam dari segala yang tak berfaedah; ketiga, uzlah atau mengasingkan dari manusia; ketiga, begadang dalam rangka ibadah. Bahkan sebagian ahli makrifat mengatakan, “lapar adalah harta utama kita.” Dalam arti, kekosongan waktu sehingga mereka bisa beribadah, keselamatan duniawi, manisnya ibadah, ilmu dan aktivitas yang bermanfaat yang mereka dapatkan tidak lain karena lapar dan bersabar atasnya karena Allah SWT. Dan karena itu pula Sahl at-Tustari menyatakan bahwa puncak dari segala kebaikan yang pernah diturunkan dari langit ke bumi adalah lapar, dan puncak segala keburukan di antara keduanya adalah kenyang (as-syab’).[6]

Para ahli makrifat terbiasa dengan lapar. Mereka menjadikannya sebagai hartanya yang paling utama. Ketika mereka lapar semua pembuluh darah dalam tubuhnya menjadi bukti-bukti dan rahasia-rahasia Ilahi. Hati mereka pun menjelma persemayaman penglihatan Tuhan Yang Mahatinggi. Kalbu-kalbu mereka pun menjadi pintu-pintu yang terbuka tempat akal dan hawa nafsu. Akal dibantu oleh ruh, sementara hawa nafsu oleh jiwa rendah. Ketika indera-indera alamiah dituruti kemauannya dengan pemenuhan makanan, maka akan semakin menguat jiwa rendahnya.

Sebaliknya, tatkala jiwa rendah tidak dipenuhi kebutuhan makanannya, ia menjadi lemah, dan akal memperoleh kekuatannya. Sehingga tersingkaplah rahasia-rahasia dan bukti-bukti Ilahiah. Jika keadaan jiwa rendah bertambah lemah hingga tak mampu bekerja, maka hawa nafsu pun lenyap. Dari sinilah setiap kehendak hati yang sia-sia terhapus dalam manifetasi Kebenaran, dan para pencari Tuhan akan mendapatkan seluruh keinginannya.

Maka dari itu, lapar para sufi tidak sebatas menahan diri dari makanan dan minuman. Mereka menggunakan laparnya sebagai jalan ibadah dengan berpuasa. Dan sepertinya al-Hujwiri memandang puasa sebagai sesuatu yang istimewa, sebagaimana pemahamannya terhadap penggalan hadis qudsi “ash-shaumu li wa ana ajzi bihi” bahwa ibadah ini adalah rahasia-yang tidak ada kaitannya dengan ibadah lahiriah. Suatu rahasia yang tak ada yang mengetahuinya selain Allah, dan karena itulah pahalanya tak terkira. Kalimat “ana ajzi bihi” dikaitkan dengan riwayat bahwa manusia memasuki surga karena rahmat Allah, dan tingkatan mereka berdasarkan ibadahnya. Sementara menetapnya mereka di dalam surga untuk selamanya dikarenakan pahala puasa.[7]

Kedahsyatan ibadah puasa ini, hingga al-Junayd mengatakan bahwa puasa adalah separoh tarekat. Maka al-Hujwiri mengatakan bahwa dirinya melihat para syeikh sufi yang berpuasa terus-menerus, karena mereka berusaha menjauhi sikap keras kepala dan riya. Sedangkan yang lainnya berpuasa hanya pada bulan Ramadan, sekadar untuk mencari pahala.

Dia menegaskan bahwa berpuasa terus-menerus tanpa melanggar perintah Allah merupakan sebentuk karamah. Dan karamah mengikuti aturan khusus, bukan umum. Lain halnya dengan mukjizat yang memang untuk ditampakkan, sebagaimana Rasul yang menampakkan puasa beliau yang terus-menerus. Karamah para wali dilarang untuk ditampilkan karena karamah menghendaki kerahasiaan. Inilah yang membedakan mukjizat kenabian dan karamah para wali.

Dalam tingkatan tertentu, karamah juga memberikan kemampuan para wali berbicara dengan Tuhan. Para wali biasanya akan berpuasa empat puluh hari seperti Musa (Lihat QS Al-A’raf [7]: 142) bila ingin mendengar Perkataan Tuhan secara batiniah. Setelah tiga puluh hari berpuasa, mereka akan menggosok gigi mereka. Lalu berpuasa kembali selama sepuluh hari, dan Tuhan akan berbicara kepada kalbu mereka. Sebab apa yang dialami para nabi secara terbuka, para wali pun dapat mengalaminya secara diam-diam.

Maka dari itu, untuk dapat mendengar Kata-kata Tuhan tak akan tercapai tanpa melepaskan tabiat alamiahnya. Yaitu dengan melepaskan diri dari makanan dan minuman selama empat puluh hari agar dapat menundukkan sepenuhnya, hingga terwujudlah kesucian cinta dan kelembutan ruhani. Demikian penjelasan al-Hujwiri.

Pada intinya, ibadah puasa melatih manusia untuk menahan. Tak sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana menjadikan puasa sebagai simbolisme ibadah dengan menahan diri dari segala sikap tercela terhadap diri sendiri maupun dalam hubungannya dengan sesama. Semakin khusyuk puasa seseorang, hatinya akan semakin halus dan kepekaan dalam pergaulannya semakin terasah.

Puasa harus mengantarkan seseorang pada kesadaran sosial dan individual. Semakin tinggi tingkat sosial dan kedudukan seseorang, bukan gaya hidup yang ditingkatkan, tapi amal kebajikannya semakin melangit menuju Tuhan. Menahan diri untuk tidak bersikap riya, sombong, suka mencela, dan merendahkan. Bukan sekadar ibadah tanpa makna yang mengulang ketercelaan selepas puasa, namun melanggengkan sikap empati dan selalu berbagi kebahagiaan kepada para fakir dan miskin hasil olah puasa ruhani. Wallahu a’lam bish shawab.

Selesai…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1]Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, juz. III, hlm. 80

[2] Al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, juz. II., hlm. 570

[3] Fakhruddin ar-Razi, al-Firasat, tahqiq. Mustafa Asyur (tt: Maktabah al-Quran, tt), hlm. 101

[4] Yahya bin Muadz ar-Razi, Jawahir at-Tasawwuf., hlm. 135

[5] Wali abdal yaitu para pengganti dalam heirarki sufi, yang konon ada tujuh, atau ada yang mengatakan empat puluh wali abdal dari kalangan laki-laki dan perempuan.

[6] Syekh Ikhsan al-Jampesi, Siraj ath-Thalibin ‘ala syarh Minhaj al-‘Abidin, juz. II (Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971), hlm. 36-37

[7]Al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, juz. II., hlm. 564 d

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*