Sean Stone (2): Tugas Setelah Masuk Islam

in Mualaf

“Mereka membuat tuduhan bahwa saya bergabung dengan agama kekerasan. Orang-orang tidak memahami Islam. Saya memiliki pekerjaan menolong orang agar mengerti tentang ajaran (Islam) dan membantu mencerahkan sesama manusia, insya Allah.”

–O–

Sean Stone lahir di New York City di negara bagian New York. Ia lahir dengan nama ‘Sean Christopher Stone’ pada tanggal 29 Desember 1984.[1] Ayahnya adalah sutradara ternama Oliver Stone, seorang keturunan Yahudi, sedangkan Ibunya Elizabeth Burkit Cox , seorang Kristen.[2]

Sean memulai karirnya di dalam dunia perfilman dari sejak usia yang sangat muda, yaitu saat berusia 2 tahun. Pada tahun 1986, ia melakukan debutnya sebagai aktor di film Salvador. Tahun berikutnya di tahun 1987, ia tampil di Wall Street. Begitu pula, ia berperan dalam beberapa film lainnya sebagai aktor muda. Beberapa di antaranya adalah JFK (1991) , The Doors (1991), Heaven and Earth (1993), dan lain-lain. Kebanyakan dari film yang diperankannya disutradarai oleh ayahnya.[3]

Sean Ali Stone kecil ketika bermain di beberapa film garapan ayahnya. Photo: http://seanalistone.com

Sean kuliah di Universitas Oxford dan Princeton mengambil jurusan Sejarah Amerika, dia lulus dari Princeton pada tahun 2006 setelah menyelesaikan thesisnya yang berjudul New World Order. Setelah lulus dia bekerja di berbagai organisasi kemanusiaan, di antaranya Save the Children di Somalia, dan Unity One di Los Angeles yang bergerak dalam program pencegahan gangster.[4]

Sean memulai karir sebagai film produser ketika mengambil gambar untuk cuplikan tambahan film dokumenter yang digarap oleh ayahnya. Selain itu dia juga membantu ayahnya menyutradarai film tentang dokumentasi di balik layar beberapa film yang dibuat oleh ayahnya. Saat ini Sean sedang menggarap beberapa film dokumenter di Iran dan Brazil.[5]

 

Setelah Masuk Islam

Sean memeluk Islam pada bulan Februari, 2012. Setelah bersyahadat, dalam sebuah konferensi pers dia berkata, “adalah suatu kesalahan untuk percaya bahwa Islam bertentangan dengan Yudaisme dan Kekristenan. Yang kita butuhkan adalah memahami keyakinan masing-masing dan untuk membangun dialog. Hal yang terpenting adalah, saya berharap saya dapat membantu orang-orang Amerika untuk memahami ajaran yang sebenarnya tentang Islam. Saya merasa nyaman ketika masuk ke dalam masjid. Saya meyakini hanya ada satu Tuhan.”[6]

Sean Ali Stone, konferensi pers setelah dia mengucap syahadat, Iran, 17 Februari 2012. Photo: Atta Kenare/AFP/Getty Images

Setelah Sean masuk Islam, ayahnya berkomentar, “dia tidak pernah berkonsultasi ke saya. Padahal itu adalah sesuatu yang normalnya dibicarakan kepada orang tua.” Oliver Stone yang merupakan seorang pemeluk Buddha menambahkan, “agama Muslim jelas meyakini Tuhan yang satu, saya tidak (meyakininya).”[7]

Sean kecil dibesarkan dengan tiga tradisi keagamaan, secara garis keturunan dari ayahnya dia seorang Yahudi, secara keagamaan dia seorang Kristen sebagaimana ibunya. Kemudian setelah orang tuanya bercerai, dia ikut serta ayahnya dalam pencarian kebenaran di agama Bhudda. Oliver Stone adalah seseorang yang terobsesi dengan kebenaran dari suatu peristiwa atau ajaran, hal tersebut tercermin dari film-filmnya yang seringkali mengungkap sisi-sisi lain dari sebuah peristiwa yang sebelumnya tidak pernah diungkap. Karakter tersebut tampaknya menurun kepada Sean, semenjak muda Sean adalah seorang pencari kebenaran dan pada akhirnya di usianya yang ke 27 dia memeluk Islam.[8]

Sean menceritakan pengalamannya mengenai pandangan orang-orang Barat terhadap dirinya setelah dia masuk Islam, “saya pikir saya ingin mengambil beban yang ditimpakan kepada saya dari beberapa sudut pandang. Di Barat, Islam sedang diserang, hanya karena telah memeluk Islam, saya telah dihinakan di Barat oleh orang-orang yang tidak mengenal saya, mereka membuat tuduhan-tuduhan tentang siapa saya. Mereka tidak pernah bertemu dengan saya, dan mereka tidak tahu tentang hal pertama yang saya pikirkan, dan mereka membuat tuduhan bahwa saya bergabung dengan agama kekerasan, bahwa saya hanya anak manja yang kurang asuhan.”[9]

Kemudian dia menambahkan, “maksud saya, ini seperti ketidakwarasan yang sedang dialami oleh orang-orang Barat yang ketakutan terhadap pengaruh Islam. Orang-orang tidak memahami itu. Ketika saya bersyahadat kepada Islam, saya berkata bahwa Muhammad adalah seorang Nabi, Al-Quran adalah kata-kata yang indah, Ali adalah seorang hamba dengan tradisi yang sama dengan Muhammad.”[10]

Mengenai pemaknaan setelah masuk Islam, Sean menjelaskan, “saya menerima ini (Islam) dua tahun yang lalu. Tujuan saya adalah menjadi hamba Tuhan, untuk menjadi alat Tuhan. Saya percaya bahwa masing-masing dari kita, jika kita menerima bahwa kita ada di sini untuk melayani apa yang lebih tinggi, di dalam diri kita sendiri, di tempat lain, itu ada di sana. Tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya untuk menjadi anti-Muslim; Saya selalu menerima Muhammad dan Islam, selama saya belajar agama dan mempelajari sejarah dari tempat ini.”[11]

Sean juga menjelaskan, bahwa sebelum masuk Islam dia tidak pernah berprasangka buruk terhadap Islam, dia berkata, “…. kita semua adalah manusia, dan saya memahami tingkah laku manusia. Maksud saya, pekerjaan saya adalah pembuat film, tugas saya adalah mempelajari manusia, berinteraksi dengan semua orang, untuk berbicara dengan semua orang. Tidak terpikir olehku untuk berprasangka buruk. Saya pikir saya memiliki pekerjaan besar di depan, saya telah memilihnya. Saya memiliki pekerjaan menolong orang agar mengerti tentang ajaran (Islam) dan membantu mencerahkan sesama manusia, insya Allah.”[12] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Sean Stone (1): Aktor Hollywood yang Mengucap Syahadat di Masjid Isfahan

Catatan Kaki:

[1] “Sean Stone Bio”, dari laman https://marriedbiography.com/sean-stone-biography/, diakses 11 Januari 2018.

[2] Lebih lengkap lihat “Sean Stone (1): Aktor Hollywood yang Mengucap Syahadat di Masjid Isfahan”, dari laman https://ganaislamika.com/sean-stone-1-aktor-hollywood-yang-mengucap-syahadat-di-masjid-isfahan/, diakses 11 Januari 2018.

[3] “Sean Stone Bio”, Ibid.

[4] “Biography of Sean Christopher Ali Stone”, dari laman http://seanalistone.com/en/works/114920/, diakses 11 Januari 2018.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Daniel Edward Rosen, “The Son Also Kneels: Hanging with Oliver Stone’s Kid Sean, Newly Minted Muslim”, dari laman http://observer.com/2012/03/the-son-also-kneels-sean-stone-olivers-kiddo-accepts-allah/, diakses 11 Januari 2018.

[8] Ibid.

[9] Wawancara Sean Christopher Ali Stone dengan Nasr TV, dari laman http://seanalistone.com/en/works/114967/, diakses 11 Januari 2018.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.