Sejarah Islam di Jepang (4): Ryoichi Mita, Samurai yang Memeluk Islam (2)

in Sejarah

Last updated on April 9th, 2018 12:14 pm

“Setelah hampir 30 tahun mengembara di China, Ryoichi Mita di bawah bimbingan Imam Wang, memutuskan untuk masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Umar Mita.”

–O–

Tahun 1941 adalah sebuah tahun titik balik bagi Ryoichi Mita, di tahun tersebut Ryoichi akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ketika itu Ryoichi oleh kantornya dipindahkan ke Peking, di sana dia bertemu dengan Imam Wang Reilan dari Nyuchie Masjid Peking. Di bawah bimbingan Imam Wang, Ryoichi secara resmi menyatakan imannya dalam Islam dan mengubah namanya menjadi Umar Mita. Tiga puluh tiga tahun setelah peristiwa itu Haji Umar Mita selalu mengingat kembali momen besar tersebut dengan kegembiraan. Tidak lupa dia juga mengucapkan terimakasih yang tulus kepada Imam Wang yang telah menjadi inspirasi serta membimbingnya, bahkan setelah dia masuk Islam.

Langkah Ryoichi Mita untuk memeluk Islam memberikan kita sebuah pelajaran yang sangat berharga bahwa masuk Islam tidak cukup dari sekedar mendengarkan khotbah ataupun mengamati kegiatan-kegiatan ritual, tetapi itu berasal dari rasa cinta terhadap kemanusiaan yang bersumber dari dasar hati dan pengalaman personal  untuk menemukan jalan kebenaran. Adalah benar bahwa Ryoichi Mita terkesan dengan apa yang dikatakan oleh Haji Omar Yamaoka. Tetapi, terkait keputusan seseorang untuk memeluk Islam, tidak ada khutbah atau pun orang lain yang dapat mendorongnya melainkan hatinya sendiri. Umar Mita masuk Islam di usianya yang ke-49 tahun setelah hampir selama 30 tahun mempelajari dan melakukan pengamatan terhadap ajaran Islam.

Oleh kantor tempat di mana dia bekerja, kemudian dia ditugaskan untuk menjadi penasihat bagi Dewan Tertinggi Federasi Asosiasi Muslim Tiongkok. Dia diberi tugas tersebut lantaran dianggap memiliki pengetahuan yang luas, pengalaman langsung, dan kedekatan dengan orang-orang Islam di China. Umar Mita tinggal di Peking sampai sampai tahun 1945 ketika perang China-Jepang berakhir, dan dia mengundurkan diri dari jabatan resminya dan kembali ke Jepang.

Umar Mita kembali ke Jepang setelah selama 30 tahun kehidupan yang panjang di Tiongkok. Di Jepang dia mengambil pekerjaan menjadi dosen Bahasa Mandarin di Universitas Kansai di Osaka dan kemudian pindah ke Universitas Kita-Kyushu di pulau Kyushu. Selang beberapa waktu, istrinya meninggal, dan karena peristiwa tersebut dia mengundurkan diri dari pekerjaannya pada tahun 1952. Dia kemudian menetap di Tokyo dan memutuskan untuk menetapkan hati dan jiwanya dalam pengabdian terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan agama Islam. Tidak lama setelah itu, setelah sekian lama para muslim Jepang hidup dan beragama secara masing-masing, mereka akhirnya mendirikan Asosiasi Muslim Jepang, bekerja sama dengan orang-orang Islam asing yang tinggal di Jepang.

Umar Mita pada tahun 1951, baris terdepan, kedua dari kanan.

 

Perkembangan Islam di Jepang

Ketika Umar Mita selama 30 tahun tinggal di China dan mempelajari Islam, di Jepang sendiri Islam justru mulai berkembang dan mengakar. Hal tersebut disebabkan oleh: kegigihan Haji Omar Yamaoka yang telah bekerja keras untuk membangun fondasi bagi Islam melalui ceramah-ceramah dan publikasinya; orang-orang Jepang yang selama Perang Dunia II yang terpengaruh oleh orang-orang Islam di Asia Tenggara dan akhirnya memeluk Islam; dan pengungsi Muslim Turki yang menetap di Jepang setelah meninggalkan rumah mereka di Uni Soviet.

Faktanya, kelompok Muslim terakhir yang disebut di ataslah, yaitu para pengungsi Tartar yang telah memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi kehidupan Muslim Jepang. Melalui upaya mereka yang antusias dan sungguh-sungguh, dan dengan kerjasama dengan beberapa orang Jepang yang bersahabat lainnya, Masjid pertama di Jepang didirikan di kota Kobe pada tahun 1935, dan masjid yang kedua didirikan di Tokyo pada tahun 1938.

Ketika Umar Mita tiba dan menetap di Tokyo pada tahun 1952, dia sudah berusia 60 tahun. Pada masa itu, sisa-sisa kehancuran akibat perang dunia II masih terlihat di seluruh Jepang. Orang-orang Jepang masih hidup dalam kondisi serba sulit, mereka kekurangan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Bahkan meskipun dalam kondisi sulit seperti itu, Umar Mita memilih untuk mengabdikan dirinya pada agama Islam dan belajar bahasa Arab.

Ketika kelompok-kelompok Tabligh asing mengunjungi Jepang, Umar Mita selalu ringan tangan dalam membantu mereka, dia juga aktif berpartisipasi dalam semua kegiatan pekerjaan mereka. Pada tahun 1957, dia diundang ke Pakistan, di sana dia melakukan berbagai perjalanan sehubungan dengan kegiatan Tabligh di negara itu dan bertukar pikiran dengan kaum Muslimin dari berbagai kelompok masyarakat. Perjalanan tersebut sama sekali tidak mudah dan aman, khususnya bagi kesehatan Umar Mita yang sejak kecil memiliki fisik yang lemah. Meskipun demikian, Umar Mita yang sekarang tidak takut apapun kecuali kepada Allah, dia tidak gentar untuk melanjutkan perjalanannya di jalan Allah. (PH)

Bersambung ke:

Sejarah Islam di Jepang (5): Ryoichi Mita, Samurai yang Memeluk Islam (3)

Sebelumnya:

Sejarah Islam di Jepang (3): Ryoichi Mita, Samurai yang Memeluk Islam

Catatan:

Artikel ini merupakan adapatasi dan terjemahan bebas dari “Introducing a Japanese Muslim-1: Haji Umar Mita”, dari laman http://islamjp.com/library/icf2p10.htm, diakses 8 April 2018.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*