Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (17)

in Islam Nusantara

Melalui penelitian yang dilakukan oleh van den Berg, pemerintah kolonial berharap bisa mengetahui lebih cepat apakah dalam diri masyarakat Arab ditemukan unsur berbahaya, khususnya berhubungan dengan ancamanan Pan-Islamisme.

—Ο—

 

Belajar dari pengalaman Perang Diponegoro dan Perang Padri, pemerintah kolonial akhirnya menyadari bahwa karater hibrida yang memadukan unsur ningrat lokal dan keturunan Arab di Nusantara, telah melahirkan tipe kepemimpinan lokal yang sangat berpengaruh dan membahayakan eksistensi proyek kolonialisme.

Dalam nalar kolonialime Eropa, fenomena tanpa kategori ini pada akhirnya harus dihentikan, karena akan menyebabkab mereka gagal dalam memahami tanah jajahan dan penduduknya. Untuk itu, keberadaan orang-orang Arab ini perlu diteliti, diinventarisir dan dipaksa masuk dalam klasifikasi yang definitif. Tujuannya, agar pengaruh mereka di tengah masyarakat bisa dikontrol dan dikanalisasi. Dari sinilah kemudian lahir proyek penelitian L.W.C van den Berg, yang berlangsung pada 1884-1886, tentang orang-orang Arab di Nusantara.

Sebagaimana yang disampaikan sendiri oleh van den Berg dalam proposal penelitian tersebut, “Baru-baru ini saya menerima surat dari DR. Wusten feld di Gottingen, yang meminta melalui saya sebuah risalah mengenai Hadramaut dan penduduknya atas dasar informasi dari orang Arab yang tinggal di sini.” Juga dia memberikan argument politik, melalui penelitian ini pemerintah bisa mengetahui lebih cepat apakah dalam diri masyarakat Arab ditemukan unsur berbahaya, khususnya berhubungan dengan ancamanan Pan-Islamisme.[1]

Foto Kapten Arab dan pengawalnya di Tegal, Jawa Tengah. Istilah Kapten menunjukkan posisi orang tersebut sebagai kepala koloni. Sumber gambar: wikipedia.org

Hanya saja, penelitian van den Berg tersebut dilakukan dalam periode pancaroba. Pada masa itu, Terusan Suez sudah terbuka, dan mobilisasi barang dan manusia semakin masif sejak ditemukannya Kapal Uap. Kedua faktor tersebut mendorong makin derasnya arus migrasi orang-orang Arab ke Nusantara. Ditambah lagi, sejak pemerintah kolonial memberlakukan sistem perkampungan (koloni) dan kartu tanda jalan (wijkenstelsel & passenstelsel) pada tahun 1866, masyarakat Timur Asing seperti komunitas Tionghoa dan Arab sudah dilokasisasi dalam koloni-koloni yang terpisah dari penduduk pribumi.[2]

Sejumlah perubahan tersebut menjadikan gugus fakta yang ditemukan van den Berg dalam penelitiannya, sangat berbeda dengan fakta yang dirasakan langsung oleh pmemerintah kolonial Belanda pada paruh pertama abad ke-19.

Secara garis besar, van den Berg menyimpulkan bahwa orang-orang Arab ini tidak berbahaya, dan paranoia yang dirasakan oleh pemerintah kolonial dianggapnya berlebihan. Tak ayal, kesimpulan tersebut melahirkan polemik, dan pada akhirnya cukup membingungkan pemerintah Belanda dan juga dirinya.

Lebih jauh, dalam penelitian tersebut van den Berg menemukan bahwa masyarakat Arab, baik yang baru datang pada periode tersebut ataupun yang sudah berdarah campuran, sudah berjarak dengan masyarakat pribumi. Mereka yang baru datang, berdiam secara ekslusif di koloni mereka. Sedang mereka yang berdarah campuran sudah terbilang menurun frekuensi asimilasinya dan pribumi setempat.[3]

Koloni masyarakat Arab ini menyebar di sejumlah pulau besar di Nusantara. Dengan memperbandingan angka sensus tahun 1859, 1870, dan yang dilakukannya 1885, van den Berg menemukan persebaran populasi orang-orang di Nusantara, sebagai berikut:

Sumber data: L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. 98

Dari table di atas tampak mobilitas dari Arab, khususnya Hadramaut, meningkat tajam sejak 1859. Di sebagian tempat seperti di Bali, Belitung, serta Pantai Selatan dan Timur Kalimantan, bahkan di temukan populasi baru. Menurut asumsi van den Berg, dari Hadramaut perhentian mereka di Nusantara yang pertama adalah di Aceh. Dari sana mereka memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Lalu baru menyebar ke kawasan timur Nusantara pada 1870. Khusus di Jawa dan Madura, koloni-koloni Arab sudah diperkiraan ada sejak tahun 1820.[4] Di kedua tempat ini, populasi Arab menjadi yang paling pesat perkembangannya, sebagaimana di tunjukkan dalam table di bawah ini:

Sumber data: L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. 96
Sumber data: L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. 97

Sebagai catatan, data sensus di atas mencakup juga orang-orang Arab yang tinggal di daerah sekitarnya; bahwa perempuan pribumi yang kawin dengna orang Arab tidak masuk di dalamnya; dan bahwa campuran Arab yang masuk hitungan hanya yang belum kehilangan kewarganegaraan.

Khusus mereka yang berdarah campuran ini, menurut penilaian van den Berg sudah sulit diklasifikasi secara tegas. Mengingat mereka ini sudah seperti tercerabut dari akar kulturalnya di Hadramaut. Sebagian besar mereka tidak bisa berbahasa Arab, dan secara umum lebih cenderung mengidentifikasi diri sebagai pribumi daripada Arab. Beberapa di antara mereka bahkan sudah sangat larut dengan identitas pribumi sehingga nyaris mustahil mengenali mereka secara persis.[5]

Kalaupun mereka masih bisa diidentifikasi, karena mereka berada di elit kelas sosial, sehingga kesaksian tentang silsilah mereka masih bisa dilacak secara baik. Beberapa mereka itu antara lain bisa ditemukan di Pontianak, Kubu, Siak, dan Palembang. Diperkirakan usia asimilasi mereka baru berjarak sekitar 100 tahun. Sedang mereka yang sudah berasimilasi lebih daripada itu, sudah sulit mengidentifikasinya secara definitif. Tapi bagaimanapun, menurut van den Berg, mereka adalah satu kelompok tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan orang-orang Arab yang datang belakangan.[6] (AL)

Bersambung…

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (18)

Sebelumnya:

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (16)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Karel A. Steenbrink, “Si Glamour-Boy Penasihat Ahli Gubernur Jenderal Hindia Belanda”, dalam L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. xiv

[2] Lihat, Ismail Farie Alatas, “Menjadi Arab: Komunitas Hadrami, Ilmu Pengetahuan Kolonial dan Etnisitas”, dalam L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. xl

[3] Lihat, L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. 194

[4] Ibid

[5] Ibid. hal 99

[6] Ibid, hal. 191-203