Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (18)

in Islam Nusantara

Ketika komunitas Hadrami pada akhirnya merasa bahwa dirinya adalah pemimpin natural kaum Muslimin Nusantara. Dengan demikian secara tidak langsung, mereka sudah dengan sendirinya melakukan redefinisi terhadap identitas mereka, bukan sebagai bagian dari masyarakat nusantara, tapi sebagai satu etnis yang berada pada kelas berbeda.”

—Ο—

 

Sebagaimana sudah kita bahas dalam edisi sebelumnya, pada akhir penelitiannya van den Berg menyatakan kebingungannya dengan paranoia pemerintah kolonial terhadap orang-orang Arab di Nusantara. Sebab berdasarkan pengamatannya, orang-orang Arab tersebut tidak memiliki satu hal apapun yang patut diperhitungkan apalagi di takutkan. Adapun bagi pemerintah kolonial yang membaca hasil penelitiannya menyatakan bahwa Berg tidak memahami trauma yang dialami oleh pemerintah kolonial akibat perlawanan rakyat yang dipimpin oleh para keturunan Arab tersebut. Dan secara substansial, hasil penelitian Berg tidak bisa diimplementasinya.

Setelah penelitian van den Berg, fokus perhatian pemerintah kolonial tidak lagi pada keberadaan orang-orang Arab ini. Pemerintah kolonial mulai memberi pehatian lebih pada ajaran agama Islam yang menjadi sumber energi perlawanan bangsa Indonesia, ketimbang orang Arab yang sudah relatif mereka jinakkan. Studi lanjutan dalam rangka menjinakkan Nusantara kemudian dilakukan oleh Snoke Hugronje yang fokus membedah Islam secara intensif. Terkait dengan studi yang dilakukan oleh Snoke Hugronje tersebut, redaksi ganaIslamika.com sudah pernah secara khusus membahas mengenai sosok ini dalam serial tulisan berjudul “Snouck Hurgronye dan Islam Nusantara,”[1]

Kembali pada hasil penelitian yang dilakukan oleh van den Berg. Dari hasil yang penelitian tersebut setidaknya kita bisa menyimpulkan, bahwa metode pecah belah yang dilakukan bangsa kolonial sebelum datangnya Berg memang berhasil. Orang-orang Arab di nusantara tidak hanya terpisah dengan masyarakat lokal secara horizontal melalui koloni, tapi juga terpisah secara vertikal, ketika mereka dinaikkan kelasnya menjadi warga Negara kelas dua (kelas menengah).


Foto berjudul The Kapitein der Arabieren of Pekalongan at his terrace, circa 1920. Kapitein sendiri adalah sebutan bagi kepala koloni Arab pada masa pemerintahan kolonial. Sumber gambar: wikipedia.org

Terkait dengan posisi mereka sebagai kelas menengah ini, sebenarnya fenomena ini merupakan pattern kebijakan kolonialisme hampir di seluruh wilayah di dunia. Bangsa Eropa –karena keterbatasan sumberdaya manusia – umumnya mengunakan metode penjajahan secara tidak langsung di wilayah-wilayah taklukannya. Untuk itu mereka memerlukan kelas menengah agar menjadi penghubung antara kebijakan Negara induk ke masyarakat yang paling bawah sekalipun. Dalam kasus Indonesia, ini terjadi dengan golongan Arab dan Tionghoa.

Orang Arab di Talise 1920. Koleksi Het Geheugen van Nederland.jpg. Sumber gambar: wikipedia.org

Meskipun begitu, khusus untuk orang-orang Arab di nusantara, mereka masih memegang supremasi keilmuan di tengah-tengah masyarakat, khususnya terkait tentang agama Islam. Bagaimanapun, agama Islam sudah mengisi ceruk terdalam kesadaran spiritual masyarakat Nusantara. Spirit agama inilah yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat di Nusantara. Sehingga sangat wajar bila kesamaan di masalah ini, membuat komunitas Arab masuk dalam imajinasi kebersamaan masyarakat di ruang geografis Nusantara. Inilah yang kemudian menjadi faktor pembeda antara dua golongan kelas menengah ini.

Alim algadri – Kapitein der Arabieren of Pasuruan. Sumber gambar: wikipedia.org

Pada periode abad ke 19, Kesultanan Utsmani mengaungkan semangat Pan-Islamisme ke seluruh jazirah Arab dan Negara-negara Islam. Jargon-jargon persatuan Islam pun menyebar dan mendapat sambutan luas di sejumlah wilayah, termasuk Nusantara. Dimana hal tersebut secara cepat menjadikan Islam sebagai arus utama pemikiran perlawanan pada masa itu.

Menurut Ismail Fajrie Alatas, ketika itu banyak juga komunitas Hadrami (Arab-Hadramaut) yang menyambut seruan tersebut dan mengasosiasikan dirinya dengan garis perjuangan Utsmani. Mereka berhasil menjalin komunikasi yang intens dengan Konstantinopel, serta meraih dukungan mereka atas perjuangan nasional di Nusantara. Gayung pun bersambut. Retorika anti-Belanda pun mulai digaungkan oleh Konstantinopel dalam rangka meraup simpati kaum Muslimin di Hindia Belanda. Jargon-jargon nasionalisme dan kemerdekaan mulai terdengar keras. Para saudagar Arab, bersedia menyokong perjuangan masyarakat dan menjadi penyandang dana kegiatan organisasi mereka.[2]

Tapi dari sini justru muncul ironi, yaitu ketika komunitas Hadrami pada akhirnya merasa bahwa dirinya adalah pemimpin natural kaum Muslimin Nusantara. Dengan demikian secara tidak langsung, mereka sudah dengan sendirinya melakukan redefinisi terhadap identitas mereka, bukan sebagai bagian dari masyarakat nusantara, tapi sebagai satu etnis yang berada pada kelas berbeda.

Sebagaimana dikatakan oleh Ismail Fajrie Alatas, bahwa pada masa ini terjadi dua perkembangan yang berlangsung secara simultan pada komunitas Hadrami di Nusantara. Pertama, mereka mendukung dan mendanai berbagai organisasi dan publikasi modern Islam yang turut membantu kebangkitan nasional, seperti Sarekat Islam. Tetapi pada saat yang sama bantuan mereka pada gerakan-gerakan ini karena didasari oleh redefinisi diri sebagai pemimpin natural umat Islam di Hindia Belanda. Oleh karena itu, mereka bertanggungjawab kepada saudara-saurdara seagama mereka guna meraih kemajuan. Walaupun organisasi-organisasi dan publikasi tersebut memberi manfaat besar bagi kaum Muslimin pada umumnya, namun penggunaan Bahasa Arab, transmisi ideologi Arabisme dari Timur Tengah, dan fungsi surat kabar dalam menopang dominasi kelompok membantu proses redefinisi kultural komunitas Hadrami di Nusantara.[3]

Kedua, redefinisi ini berakibat pada terbentuknya identitas Arab modern, yang juga muncul akibat kebijakan rasialis pemerintah kolonial serta kemunculan nasionalisme di Timur Tengah. Hasil dari semua perkembangan ini adalah identitas komunitas Arab sebagai pemimpin kaum Muslimin di HIndia Belanda, yang akhirnya menyebabkan semakin tersingkirnya mereka dari imajinasi nasional masyarakat pribumi. Dengan demikian, kita melihat terjadinya proses pembentukan identitas yang tidak lagi berdasarkan pada silsilah, namun berdasarkan pada etnisitas dan ras, yang merupakan dua konstruksi modern yang diajarkan dan diberlakukan oleh pemerintah kolonial.[4]

Alhasil, komunitas Hadrami mulai mengafirmasi superioritas mereka dalam dua kerangka tersebut. Tampaknya, ilmu pengetahuan kolonial telah diinternalisasi oleh komunitas Hadrami dan dikuatkan melalui berbagai aparatus modern. Dan komunitas Hadrami pun akhirnya menjadi Arab. (AL)

 

Bersambung…

Sebelumnya:

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara; Studi Kiprah Keturunan Arab Meracik NKRI (17)

Catatan kaki:

[1] Untuk membaca bisa mengakses melalui link berikut: https://ganaislamika.com/snouck-hurgronye-dan-islam-nusantara-1-memetakan-sejarah/

[2] Lihat, Ismail Farie Alatas, “Menjadi Arab: Komunitas Hadrami, Ilmu Pengetahuan Kolonial dan Etnisitas”, dalam L. W. C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta, Komunitas Bambu, 2010, hal. xlii

[3] Ibid, hal. xliii

[4] Ibid