Shalahuddin Al Ayyubi (1)

in Tokoh

Dari “bukan siapa-siapa”, karirnya melesat jauh melampaui tokoh-tokoh pada masanya. Bahkan lebih dari itu, sepak terjangnya telah menjadi salah satu titik balik yang mengubah arus sejarah peradaban Islam di Timur Tengah dan Kristen di Eropa.”

—Ο—

 

Diantara sekian nama tokoh Muslim yang dikenal dunia Barat, nama Shalahuddin Al Ayyubi atau barat sering menyebutnya Saladin, mungkin salah satu yang menempati posisi paling atas. Ialah aktor kunci dalam Perang Salib, yang berhasil merebut Yerusalem dari kekusaan pasukan Salib.

Pada saat kelahirannya, dunia Islam sedang mengalami masa pancaroba. Kekhalifahan Abbasiyah sedang menurun pamornya, menyusul meningkatnya pamor dinasti Saljuk di Asia Tengah. Pada masa itu, dapat dikatakan secara de facto, Abbasiyah sebenarnya berada dibawah kendali dinasti Saljuk. Orang-orang Saljuk lah yang dengan gilang gemilang mengakhiri perang panjang antara Bizantium-Arab, pada pertempuran Manzikert tahun 1071 M. Pada tahun 1095 M Paus Urbanus berpidato di Clermont di Prancis selatan, dan mendeklarasikan Perang Salib. Mereka merangsek ke Yerusalem yang saat itu sedang dikuasai oleh dinasti Fatimiyah yang juga sedang “sakit keras”. Pada Mei 1098 M, dinasti Fatimiyah harus menghadapi dua front sekaligus, pasukan Salib dan Pasukan Saljuk yang terus memperluas areal kekuasaannya. Sebagaimana sejarah mencatat, akhirnya Yeruslem jatuh ke tangan pasukan Salib dan berkuasa di sana.[1]

Namanya lengkapnya, Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Ia lahir di kota Tikrit (sekarang Irak), tahun 1138 M. Konon, di dalam darahnya mengalir juga darah Arab, dari sebuah keluarga terhormat di masanya. Tapi yang pasti ia adalah seorang keturunan Kurdi, dan berasal dari keluarga pejabat daerah. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah penguasa Saljuk di Tikrit, pada masa pemerintahan Imaduddin Zanky, penguasa Saljuk untuk wilayah kota Mousul, Irak.[2]

Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 1139 M, Najmuddin Ayyub kemudian diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah, Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Disamping itu, ia dikenal memiliki pengetahuan yang mumpuni di bidang astronomi dan geometri. Setelah cukup dewasa, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari agama selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Dari tempat inilah Shalahuddin memulai karirnya.[3]

Tidak ada yang istimewa dari semua latar belakang yang dimiliki Shalahuddin. Di tengah turbulensi sejarah yang sedang berkecamuk di masanya, kecil sekali potensi capaian monumental yang bisa diraih dengan latar belakang, dan juga posisi jabatannya saat itu. Tapi semua berubah ketika salah satu wazir (penasehat)[4] Fatimiyah datang ke istana Nuruddin untuk memohon bantuan.

Ketika itu, dinasti Fatimiyah sedang dalam masa kemerosotan yang parah. Sejak wafatnya Khalifah Al Hakim pada 1021, para Khalifah dinasti ini naik tahta pada usia sangat belia. Sehingga peran penasehat menjadi krusial dalam mengelola negara.[5] Perebutan posisi wazir Fatimiyah ini menjadi salah satu sebab jatuhnya dinasti tersebut. Dari 15 wazir Fatimiyah, empat belas diantaranya meninggal dengan cara yang tragis. Demikian pentingnya posisi ini, hingga untuk mencapai posisi tersebut, mereka bisa saling membunuh diantara mereka. Dan wazir yang datang ke Nuruddin untuk meminta bantuan, bernama Syawar.[6]

Ia sebelumnya digulingkan dari posisinya, dan bermaksud ingin mengambil kembali posisinya dengan bantuan dari Nuruddin. Pada awalnya Nuruddin sempat enggan masuk dalam urusan internal keluarga dinasti Fatimiyah. Disamping itu, untuk mencapai Mesir juga bukanlah hal yang mudah, karena pasukannya harus terlebih dahulu melewati pasukan Frank yang sudah menduduki wilayah Ascalon (sekarang Ashkelon, wilayah pesisir yang jaraknya sekitar 60 Km dari Yerusalem).[7] Namun akhirnya ia menyetujui untuk membantu wazir tersebut dan memerintahkan paman Shalahuddin yang bernama Asaduddin Syirkuh untuk membantu wazir tersebut merebut kembali posisinya. Mendapatkan perintah ini, pamannya bersikeras mengajak Shalahuddin yang saat itu masih berusia 26 tahun untuk menyertainya dalam misi tersebut.

Pada 15 April 1154, pasukan yang dipimpin oleh Syirkuh mulai bertolak ke Mesir dengan membawa 10.000 pasukan kavaleri. Jarak yang akan mereka tempuh untuk sampai ke wilayah kekuasaan dinasti Fatimiyah adalah sekitar 830 Km. Di dalam jajaran pasukan ini, Shalahuddin bertindak sebagai orang kepercayaan pamannya. Dan bagi Shalahuddin sendiri, ini adalah ekspedisi militer pertamanya, sekaligus langkah pertamanya di panggung sejarah dunia. (AL)

Bersambung

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://id.wikibooks.org/wiki/Abad_Pertengahan/Sejarah/Tinggi/Perang_Salib/I, diakses 1 Desember 2017

[2] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal.

[3] Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_Ayyubi, diakses 1 Desember 2017

[4] Wazir (Arab: وزير‎- wazīr; bahasa Inggris: vizier) adalah seorang penasihat atau menteri (politik dan atau keagamaan) berkedudukan tinggi, biasanya ditemui dalam sistem monarki Islam seperti Khalifah, Amir, Malik (raja) atau Sultan. Istilah ini berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti “pembantu”. Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Wazir, diakses 1 Desember 2017

[5] Lihat, Philip K. Hitti, History of Arab, London, Macmillan, 1970, Hal. 622-623

[6] Konon, komandan pasukan yang bernama Dirgham, mengumpulkan 70 orang pejabat kerajaan, kemudian membunuh mereka semua secara kejam dalam sebuah perjamuan. Diantara orang-orang yang berhasil lolos dari pembantaian tersebut adalah Syawar. Lihat, John Man, “Shalahuddin al-Ayyubi: Riwayat Hidup, Legenda, dan Imperium Islam”, Ciputat, Pustaka Alvabeth, 2017, Hal. 73.

[7] Lihat, Ibid, Hal. 72