Shalahuddin Al Ayyubi (2): Lahirnya Dinasti Ayyubiyah

in Tokoh

Setelah merampungkan semua pembangunan kekuatan politik dan militer di Mesir, kuda-kuda kekuasaannya sudah kokoh. Khalifah Fatimiyah wafat, menyusul tiga tahun kemudian Khalifah Abbasiyah juga wafat. Ini momen yang tepat untuk memproklamasikan lahirnya Dinasti Ayyubiyah.

 

Pasukan yang dipimpin oleh Syirkuh berangkat pada 15 April 1154, dan tiba di Belbeis, daerah kekuasaan dinasti Fatimiyah pada 24 April. Jarak yang ditempuh oleh pasukan ini mencapai 830 Km, yang berarti setiap hari mereka telah mengunggang kuda sejauh kira-kira 100 Km/hari. Sebuah ujian ketangguhan yang cukup menantang bagi sebuah pasukan yang akan meraih kemenangan besar di Mesir. Hanya dalam waktu singkat Belbeis dapat ditaklukkan, dan empat hari kemudian, Kairo sudah berada di bawah  kendali pasukan Syirkuh. Tidak ada informasi yang jelas tentang peran strategis Shalahuddin dalam ekspedisi pertamanya ini, selain ia menjadi orang kepercayaan Pamannya.

Setelah berhasil menguasai Mesir, tiba-tiba hal yang tidak diinginkan terjadi. Syawar menginginkan kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menyuruh Syirkuh untuk angkat kaki dari Mesir segera. Atas keinginan Syawar ini, Syirkuh menolak, dan bersikeras tinggal di Mesir, dan menguasai wilayah tersebut. Adapun sultan Fatimiyah yang saat itu masih berusia 13 tahun, tidak berdaya menghadapi situasi konflik yang terjadi di istananya. Merasa tidak memiliki kemampuan menghadapi pasukan Syirkuh, sang Wazir akhirnya bertolak ke Eropa. Di sana ia membangun aliansi dengan tentara Salib dan mengajak mereka untuk bersama-sama merebut kekuasaan dari Syirkuh, sebagaimana yang dulu ia lakukan saat datang ke Istana Nuruddin di Damaskus. Pertempuranpun akhirnya pecah antara pasukan Syirkuh dengan koalisi Syawar dan tentara Salib yang berlangsung selama bertahun-tahun. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan pasukan Syirkuh. Syawar akhirnya dieksekusi, dan pasukan Salib kembali dengan kekalahan.

Praktis setelah itu, Mesir berada di bawah kekuasaan paman Shalahuddin, sekaligus bertindak sebagai wazir dinasti Fatimiyah. Khalifah dan keluarga kerajaan sendiri tetap diizinkan pada posisinya, di bawah pengamanan Syirkuh. Tidak lama setelah itu, Syirkuh wafat, dan Nuruddin kemudian menunjukkan penggantinya. Namun sosok baru ini ternyata tidak disukai oleh keluarga Fatimiyah. Khalifah kemudian memilih Shalahuddin untuk menggantikan posisi wazir menggantikan pamannya. Pada akhir maret 1169 M, Shalahuddin dilantik sebagai Wazir oleh Khalifah Fatimiyah terakhir Al-Adid, yang saat itu masih berusia belasan.[1]

Segera setelah dilantik, Shalahuddin langsung menghadapi berbagai persoalan internal Mesir yang begitu kompleks. Mulai dari perebutan jabatan sebagai wazir, pemberontakan rakyat, hingga ancaman tentara Salib. Hebatnya, di sisi yang lain, Shalahuddin saat itu juga bekerja untuk dua majikan sekaligus, yaitu Al-Adid Khalifah Fatimiyah, dan Nuruddin sultan Turki, di tambah lagi satu majian tidak langsung, yaitu Khalifah dinasti Abbasiyah.[2] Semua situasi ini memang sebuah ujian kepemimpinan yang sangat berat bagi Shalahuddin. Namun secara meyakinkan, satu persatu masalah-masalah ini dapat dihadapinya.[3]

Hanya beberapa hari setelah dilantik, beberapa upaya pembuhunan sudah mulai dialaminya. Pada bulan Agustus 1169 M, pemberontakan 50.000 tentara Mesir terhadap dirinya berhasil dipadamkan. Meksi begitu, gejolak situasi di Mesir tak kunjung reda. Pada waktu yang hampir bersamaan, ia meminta kepada Nuruddin di Damaskus, agar bersedia mengirimkan ayah dan seluruh anggota keluarganya ke Mesir. Di Mesir, para anggota keluarga ini mendapatkan jabatan yang strategis. Sangat mungkin hal ini dilakukan karena bahaya yang demikian banyak di sekitarnya, ia membutuhkan orang-orang kepercayaan, yaitu anggota keluarganya sendiri.[4]

Setelah percaya diri dikelilingi oleh anggota keluarganya, Shalahuddin semakin kokoh yang puncak pimpinan Mesir, dan pembangunan pun dimulai. Ia mulai membangun pasukannya sendiri yang berkekuatan 5000 personil dan terdiri dari orang-orang Kurdi, yang memiliki ikatan kebangsaan dengan Shalahuddin sendiri.[5] Ia mulai mengimpor para ulama Sunni ke Mesir, yang selama ini kental pengaruh Syi’ah. Ia dirikan Universitas yang bermahzab Maliki dan Syafi’I di sana, untuk mengimbangi pengaruh Syiah Ismailiyah yang sudah ratusan tahun berada di Mesir.[6]  Dengan kuda-kuda kekuasaan yang sudah cukup kuat, Shalahuddin mulai memperlus areal kekuasaannya ke sekitar Mesir.

Titik balik kekuasaan Shalahuddin di Mesir yang dicatat oleh para sejarawan berlangsung secara politik. Dalam khutbah jum’at ia mulai memerintahkan untuk membaca doa khusus bagi Khalifah Abbasiyah di Bahdad yang notabene adalah saingan dinasti Fatimiyah. Peristiwa ini banyak dianggap sebagai munculnya ambisi kekuasaan dalam diri Shalahuddin setelah serangkaian keberhasilan yang dilakukannya terhadap kemajuan Mesir. Pada saat yang sama, kondisi Khalifah Fatimiyah sedang sangat mengkhawatirkan. Selama berminggu-minggu ia sakit keras, dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Pada tahun 1171, khalifah Fatimiyah, Al-Adid wafat. Banyak rumor di masyarakat tentang kematian Khalifah ini. Ada yang menduga ia bunuh oleh Shalahuddin, namun ini sangat lemah buktinya.[7]

Setelah kematian Khalifah Fatimiyah, Shalahuddin mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Mesir. Dan dengan demikian, berakhirlah kekuasaan dinasti Fatimiyah yang sudah usia sekitar 250 tahun tersebut. Shalahuddin mendeklarasikan Mesir sebagai Negara yang merdeka dari Damaskus, dan berbaiat langsung dengan Abbasiyah.[8] Namun tiga tahun kemudian, atau tahun 1174 M, tersiar kabar bahwa Khalifah Abbasiyah wafat. Kondisi ini membuka jalan yang lebar di hadapan Shalahuddin, untuk mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah dari sebuah negeri yang merdeka. Dengan bala tentara yang sudah cukup kuat, dan kesuksesan pembangunan yang luar biasa di Mesir, di tahun yang sama ia mendeklarsikan dirinya sebagai Khalifah, yang sekaligus menandai lahirnya dinasti Ayyubiyah. (AL)

Bersambung…

 

Catatan kaki:

[1] Lihat, Philip K. Hitti, History of Arab, London, Macmillan, 1970, Hal. 645

[2] Pada masa itu, Nuruddin adalah perpanjangan tangan khalifah Abbasiyah di Bahgdad.

[3] Lihat, http://islamidia.com/sejarah-lengkap-kehidupan-shalahuddin-al-ayyubi-dari-lahir-sampai-meninggal-dunia/, diakses 4 Desember 2017

[4] Lihat, John Man, “Shalahuddin al-Ayyubi: Riwayat Hidup, Legenda, dan Imperium Islam”, Ciputat, Pustaka Alvabeth, 2017, Hal. 95

[5] Ibid, Hal. 97

[6] [6] Lihat, http://islamidia.com/sejarah-lengkap-kehidupan-shalahuddin-al-ayyubi-dari-lahir-sampai-meninggal-dunia/, Op Cit

[7] Lihat, John Man, Op Cit, Hal. 103

[8] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal.