Mozaik Peradaban Islam

Shirathal Mustaqim dalam Pandangan Ibnu Arabi (3): Semua Memiliki Jalan menuju Allah (2)

in Studi Islam

Ibnu Arabi menjelaskan bahwa meninggalkan istiqamah terkadang juga suatu keharusan dalam istiqamah. Pasalnya, di dalam istiqamah juga ada bengkoknya. Tanpa kemungkinan bengkok sama sekali tidak ada makna istiqamah.

Foto: freefortheworld/pixabay

Tiada apapun di kosmos ini kecuali beristiqamah, karena Allah yang mewujudkannya berada di Shirathal Mustaqim (jalan yang istiqomah). Allah adalah Rabbnya. Jika sabil-sabil itu saling berhimpitan dan bercampur satu dengan yang lain, maka semuanya tetap akan beristiqamah, di jalan-jalannya sendiri.

Semuanya tetap ada dalam istiqamah mutlak sesuai dengan hukum yang berlaku di seluruh semesta,

وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ

“…. dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia…” (QS Hud [11]: 123).

Semua kembali kepada-Nya lantaran Dia di atas Shirathal Mustaqim. Semua juga pada hakikatnya merendah, tunduk dan menyembah-Nya dan tidak tunduk kepada selain-Nya karena selain-Nya itu tiada. Dan siapa yang menyembah yang tiada pasti takkan mendapatkan apa-apa.

Lalu, dalam ayat itu Dia menggunakan kata ganti orang ketiga “maka sembahlah Dia…”, Dia tidak bisa dilihat dengan mata. Jika Yang Gaib bisa dilihat, maka Dia tidak lagi jadi Gaib. Kata ganti itu untuk menegaskan perintah menyembah Dzat Suci yang tak diketahui dari-Nya kecuali kefakiran segala sesuatu kepada-Nya.

Akhir ayat ini mengukuhkan makna tersebut,

وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“…. dan bertawakallah kepada-Nya dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.”  (QS Hud [11]: 123), yakni Dia tidak akan lalai atas penyembahan kalian kepada-Nya dalam bentuk pengakuan kefakiran kalian pada-Nya.

Adapun istiqamah di mata kebanyakan Ahlullah (wali Allah) adalah keyakinan bahwa istiqamah berlaku umum di alam semesta seperti yang telah diuraikan di atas. Tiada jalan kecuali ia mustaqim (lurus), karena semuanya akan menuju Allah.

Namun, Allah berfirman kepada Nabi-Nya,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Maka beristiqamahlah kamu sebagaimana diperintahkan kepadamu…” (QS Hud [11]: 112).

Allah tidak menyuruhnya beristiqamah secara mutlak, karena sudah pastilah segalanya beristiqamah sesuai dengan firman Allah,

أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ

“…Ingatlah kepada-Nya kembali semua urusan.” (QS asy-Syura [42]: 53).

Dia adalah tujuan semua jalan. Tapi masalahnya tiap orang dan makhluk akan dipengaruhi oleh salah satu dari nama-nama ilahi sehingga akibatnya bisa berbeda-beda dalam memperoleh kebahagiaan dan karunia atau kesengsaraan dan siksaan.

Jadi makna istiqamah dalam Shirathal Mustaqim Suluki adalah sikap gerak dan diam di jalan yang telah disyariatkan, karena Shirathal Mustaqim ini tak lain adalah syariat ilahi. Iman kepada Allah adalah pokoknya, dan antara awal dan ujung jalan ada banyak manzilah, keadaan dan hukum yang berlaku untuknya.

Ibnu Arabi lantas menjelaskan bahwa meninggalkan istiqamah terkadang juga suatu keharusan dalam istiqamah. Pasalnya, di dalam istiqamah juga ada bengkoknya. Tanpa kemungkinan bengkok sama sekali tidak ada makna istiqamah.

Dengan kata lain, istiqamah harus dianggap datang dari sesuatu yang bisa bengkok, karena begitulah hakikat suatu maujud yang mungkin. Maujud yang mungkin di dalam dirinya terdapat penyakit yang menimbulkan ketidakseimbangan sebagai lawan istiqamah mutlak. Tidak ada maujud mungkin yang sepenuhnya bebas dari penyakit atau kekurangan.

Lantaran keragaman mizaj itu maka di alam ini ada yang alim (mengetahui) dan ada yang a’lam (lebih mengetahui), ada yang fadhil (utama) dan ada yang afdhal (lebih utama). Maka di antara mereka ada yang mengetahui Allah tanpa ikatan; dan ada yang tidak bisa mengetahui-Nya kecuali dengan mengikat-Nya melalui berbagai sifat yang berbeda dengan sifat ciptaan (hadis) dan bebas dari segala kekurangan; dan ada pula yang tidak bisa mengetahui-Nya kecuali dengan mengingat-Nya melalui sifat-sifat ciptaan hingga bercampurlah Dia dengan wadah waktu dan tempat serta batasan dan ukuran. 

Mengingat pengetahuan tentang Allah ada dalam asal-usul penciptaan dan sesuai dengan mizaj (komposisi temperamen) alami tiap individu, maka Allah menurunkan (nuzul) pelbagai syariat sesuai dengan martabat-martabat tersebut agar karunia ini meliputi segenap makhluk.

Maka Dia menurunkan ayat,

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” (QS 42: 11) untuk mereka yang dapat mengetahui-Nya secara mutlak tanpa ikatan dan atribut; dan menurunkan firman-Nya,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“…Dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS at-Talaq [65]: 12) (QS al-Hadid [57]: 2) (QS Hud [11]: 107) (QS asy-Syura [42]: 11) (QS al-Baqarah [2]: 255) (QS at-Taubah [9]: 6) (QS al-Hadid [57]: 3) bagi mereka yang harus mengenal-Nya dengan mengikatkan sifat-sifat sempurna pada-Nya; kemudian Dia menurunkan berbagai syariat dalam firman-Nya (QS Thaha [20]: 5), (QS al-Hadid [57]: 4), (QS al-An’am [6]: 3) (QS al-Qamar [54]: 14), dan (QS al-Anbiya [21]: 17). 

Dengan demikian, berlakulah seluruh syariat untuk semua mizaj alim. Tidak ada orang yang terlepas dari pembagian di atas dan yang sempurna mizaj-nya ialah yang mensintesiskan seluruh tipe pengetahuan di atas dan mengetahui sumber dan muaranya seutuhnya.

Allah sebagai Rabb madrasah wujud dan Pengajar adalah yang benar-benar Alim dan para rasul adalah asisten Pengajar (murid-murid paling unggul) dan pewaris mereka (ulama) adalah pengekor yang menjadi pembantu dari asisten Pengajar.

Betapapun banyaknya ilmu pengantar mengenal Allah, tapi semuanya dapat dirangkum dalam empat bagian. Pertama, ilmu tata bahasa dan susunan wacana dan makna untuk membedakan yang valid dari yang tidak. Meskipun di mata ulama Allah semuanya pada dasarnya tetap valid, tapi ada yang disebut invalid karena dibandingkan dengan yang lain atau dilihat dari (deviasinya dari) tujuan spesifiknya.

Ilmu kedua adalah ilmu logika untuk mengasah otak, melatih ingatan dan menjernihkan akal. Rabb madrasah ini ingin mengenalkan Diri-Nya dengan Diri-Nya maka Dialah tujuan akhir madrasah ini didirikan. Dan Dia menggiring para fuqaha perlahan-lahan untuk menerima ilmu setahap demi setahap.

Ketiga adalah ilmu filsafat dan ilmu-ilmu alam untuk mengetahui sebab-musabab benda, perbedaan-perbedaan komposisinya, sebab-musabab cacat, penyakit, sehat dan kesempurnaannya, unsur-unsur komposisinya, faktor-faktor konstruktif dan destruktifnya, realitas alam fisik dan posisinya di tengah alam raya, apakah alam fisik ini bersifat wujudi ayni (eksistensi objektif) ataukah wujudi ‘aqly (eksistensi mental/subjektif), benda-benda yang dapat diurai dan tidak dapat diurai, generasi dan korupsi, dan sebagainya. Ilmu-ilmu ini penuh dengan analogi.

Ilmu keempat adalah ilmu Ketuhanan dan Tuntunan ilahi dan bagaimana semestinya hamba yang fakir ini bersikap kepada-Nya, sifat-sifat yang patut disandang-Nya dan yang tidak tidak patut disandang-Nya, dan sebagainya.

Dan tidak ada lagi ilmu kelima, karena tidak ada tujuan semua ilmu kecuali ilmu tentang Allah. Semua ilmu hanya pengantar untuk mengetahui Allah dan mendekat kepada-Nya. (MK)

Artikel seri Shirathal Mustaqim dalam Pandangan Ibnu Arabi selesai.

Sebelumnya:

Catatan:

Artikel ini dirangkum dan disadur dari Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah, bab 132 tentang Istiqamah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*