Siapa Nabi Ilyas As? (1)

in Studi Islam

Last updated on January 24th, 2018 05:21 am

Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) kesejahteran dilimpahkan atas Ilyas? (QS. ash-Shaffat: 129-130)

—Ο—

 

Nabi Ilyas As, adalah salah satu Nabi di antara 25 Nabi yang disebutkan dalam Al Quran. Namun berbeda dengan banyak Nabi lainnya, kisah tentang Nabi Ilyas As hanya dibahas sedikit dalam Al Quran, yaitu pada surat ash-Shaffat, ayat 123-132, Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya Ilyas termasuk salah seorang dari rasul-rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Pantaskah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?’ Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka), Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) kesejahteran dilimpahkan atas Ilyas? Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Dari ayat-ayat Al-Quran di atas, kita bisa sedikit mengetahui, bahwa beliau adalah seorang utusan Allah SWT kepada satu kaum yang menyebah berhala bernama Ba’l. Nabi Ilyas menyeru di jalan Allah SWT dan mengajak kaumnya tetapi kaumnya mengabaikannya. Mereka cenderung kepada Ba’l.

Beberapa informasi ada yang menyebutkan bahwa kaum yang dimaksud adalah Bani Israil. Namun ada pula informasi lainnya yang menyebut bahwa beliau diutus kepada penduduk Baalbek, yang sekarang masuk dalam wilayah Lebanon.[1] Meski begitu terdapat satu kesepakatan terkait waktu, bahwa beliau diutus setelah Nabi Musa As. Informasi ini dikuatkan oleh Injil Barnabas yang cukup banyak memuat nasehat-nasehat beliau, yang kerap mengaitkan nasehat tersebut dengan Nabi Musa As. Kaum Nabi Ilyas AS, sebelumnya mengikuti seruan Nabi Musa As, namun sepeninggal beliau, kaum ini kembali sesat dan menyembah berhala. Maka didatangkanlah Nabi Ilyas kepada kaum ini untuk mengajak mereka kembali menyembah Allah SWT, sebaik-baik Pencipta. (Yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?’ (QS. ash-Shaffat:126)

 

Nabi Ilyas As dalam Injil Barnabas

Selain di dalam Al-Quran, informasi tentang Nabi Ilyas As terdapat juga di Injil Barnabas. Dalam Injil Barnabas Nabi Ilyas As disebut dengan nama Ilya. Beliau seringkali memberikan nasehat kepada kaumnya, yang disampikan dengan penuh kelembutan dan ketulusan hati, sehingga terkandung hikmah yang dalam dari setiap kalimatnya. Berikut nasehatnya yang disebutkan dalam Injil Barnabas dari ayat 23 sampai ayat 49:[2]

Ilyas adalah hamba Allah. Hal ini ditulis bagi semua orang yang menginginkan untuk berjalan bersama Allah Pencipta mereka. Sesungguhnya orang yang suka untuk banyak belajar maka ia akan sedikit takut kepada Allah.

Karena orang yang takut kepada Allah maka ia akan merasa puas untuk mengetahui apa-apa yang diinginkan Allah saja. Hendaklah orang-orang yang menginginkan untuk mengerjakan amal-amal yang saleh memperhatikan diri mereka karena seseorang tidak akan memperoleh manfaat ketika mendapati dunia mendapatkan keuntungan sementara ia mendapati kerugian.

Selanjutnya, hendaklah orang yang mengajari orang lain berusaha untuk lebih baik daripada orang lain karena tidak akan bermanfaat suatu nasihat yang diberikan oleh orang yang tidak mengamalkan apa yang dikatakannya. Sebab, bagaimana seorang yang salah dapat memperbaiki kehidupannya sementara ia mendengar seorang yang lebih buruk darinya berusaha untuk mengajarinya.

Kemudian hendaklah orang yang mencari Allah berusaha lari dari percakapan dengan manusia, karena Musa ketika berada sendirian di atas gunung Sinai’ maka beliau menemukan Allah dan berdialog dengan-Nya sebagaimana seorang pecinta berdialog dengan kekasihnya. Dan hendaklah orang-orang yang mencari Allah berusaha keluar sekali setiap tiga puluh kali ke tempat yang biasa di jadikan perkumpulan oleh masyarakat dunia.

Karena boleh jadi ia dapat melakukan suatu amal pada satu hari saja namun dihitung amalnya itu selama dua tahun, khususnya berkaitan dengan pekerjaan yang di situ ia mencari ridha Allah. Hendaklah ketika ia berbicara tidak melihat ke arah mana pun kecuali ke arah dua kakinya, dan ketika ia berbicara hendaklah mengatakan hal yang penting saja. Hendaklah ketika ia makan tidak berdiri dari meja makan dalam keadaan kekenyangan.

Dan hendaklah mereka berpikir setiap hari karena boleh jadi mereka tidak akan menemui hari berikutnya. Dan hendaklah mereka benar-benar memanfaatkan waktu mereka sebagaimana mereka selalu bernafas. Hendaklah satu baju dari kulit binatang cukup untuk mereka. Hendaklah mereka setiap malam berusaha untuk tidur tidak lebih dari dua jam. Hendaklah mereka berusaha berdiri di tengah-tengah salat dengan rasa takut.

Kerjakanlah semua ini dalam rangka mengabdi kepada Allah dengan menjunjung tinggi syariat-Nya yang Allah karuniakan kepada kalian melalui Nabi Musa. Karena dengan cara seperti ini, kalian akan menemukan Allah dan kalian akan merasakan pada setiap zaman dan tempat bahwa kalian berada di bawah naungan Allah dan Dia akan selalu bersama kalian.” (AL)

Bersambung…

Siapa Nabi Ilyas As? (2): Dalam Pandangan Ibn Arabi

Catatan kaki:

[1] Lihat, Toshihiko Isutzu, “Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi”, Bandung, Mizan, 2015, Hal. 15

[2] Lihat, http://khazanah.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/04/16/111403-inilah-kisah-ilyas-dalam-injil-barnabas, diakses 22 Januari 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*