Simbolisme dalam Arsitektur Islam (4)

in Arsitektur

 

Oleh: Khairul Imam

“Simbolisme yang tersimpan pada pola, bangunan, hiasan dan ornamentasi; cahaya, warna, dan pernak-pernik di dalam arsitektural benar-benar mentahbiskan kedalaman makna esoterik di dalam Islam. Ini sekaligus menegaskan aspek batiniah yang menjadi acuan dalam penilaian segala lini peribadatan. Seperti kisah pengorbanan Qabil dan Habil, atau pengorbanan Ibrahim atas Ismail, bukan daging dan darah itu yang akan menjadi takaran, tetapi ketakwaan simboliklah yang menjadi dasar penerimaan.”

 —Ο—

 

Segala kreativitas dan kreasi manusia tidak bisa tidak pasti memiliki akarnya, baik secara kesejarahan maupun teks normatif Kitab Suci, termasuk dalam gaya arsitektural Islam yang mewujud dalam bentuk bangunan, pencahayaan, pewarnaan, dan pola ornamentasi pada mosaik, dinding batu, dan pahatan kayu. Salah satu yang paling menyejarah di antara pola ornamentasi tampak dalam simbolisme geometris yang membentuk jaring laba-laba pada mosaik lantai, dinding, dan kubah baik istana maupun masjid.

Kekayaan artistik pada mosaik itu dibuktikan dengan ditemukannya reruntuhan Khirbat al-Mafjar atau disebut juga “Qasr Hisyam” atau Istana Hisyam. Sebuah mahakarya disain artistik Islam awal yang terdiri dari 38 panel yang rumit, yang melingkupi ruang seluas 30X30 meter persegi diperuntukkan ruang audiens dan kamar mandi. Para seniman di Khirbat al-Mafjar menciptakan estetika motif geometris dan bunga yang baru dan riang warisan dari tradisi Byzantium dan Sasanian (Persia). Jika diamati secara seksama, banyak mosaik yang didasarkan pada pola berulang yang tak terhingga seperti jaring laba-laba.[1] Teknik ini pada akhirnya menjadi ciri seni geometris di seluruh dunia Islam. Sedangkan inspirasi lainnya didasarkan pada seni tekstil dan lukisan fresko.[2]

Mosaik lantai yang megah di Khirbat al-Mafjar. Sumber gambar: George Woideck

 

Motif lantai dari mozaik Khirbat al-Mafjar. Sumber gambar: George Woideck

 

Inspirasi mosaik dengan pola jaring laba-laba ini bisa dilacak dari sejarah penyelamatan Nabi dan sahabatnya, Abu Bakar, dari kejaran kaum Quraisy. Saat itu Nabi dan Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari tiga malam di dalam gua Tsur. Ketika pagi harinya, kaum Quraisy telah mengepung gua, tetapi pintu gua telah tertutup jaring laba-laba yang tampak tua dan bertelur, di sekitarnya pun telah dipenuhi tanaman liar. Dengan begitu, mereka berpikir tak seorang pun yang bisa memasuki gua itu, terlebih laba-laba yang memenuhi pintu gerbang gua tengah bertelur dan melakukan pembuahan. Akhirnya mereka pun pergi. Dengan kepergian mereka, selamatlah Nabi saw. dan Abu Bakar dari kejaran musuh-musuh dari kaum Quraisy tersebut.

Bermula dari jaring laba-laba itulah, inspirasi ini, meski sedikit, namun diperkaya dengan ekspresi pecahan batu geometris yang ditarik dari sudut inti pola bintang yang memiliki tangkai dengan beberapa pepohonan yang menjalar ke berbagai arah semakin menambah nuansa artistik ornamen. Keindahan estetis ini didukung dengan pecahan batu berwarna-warni yang memantulkan cahaya yang juga berwarna-warni. Dan ini mencirikan Islam yang bersumber dari yang satu, tetapi memantulkan ragam perbedaan dalam penerimaan. Bukan dalam arti terpecah belah, tetapi perbedaan umat yang berarti rahmat Allah swt.

Aspek pewarnaan dalam aristektural Islam juga memainkan peranan yang tak bisa diabaikan. Warna mengirimkan identitas estetis dan menyimpan makna simbolis dari suatu peradaban. Warna juga melambangkan berbagai arti, misalnya, warna merah mewakili ragam perasaan: cinta, kemarahan, peringatan, atau kematian. Warna merah juga bisa melambangkan kematian karena merah adalah warna darah. Darah merah juga bisa melambangkan darah kehidupan. Karena warna merah adalah warna darah, warna ini paling sering digunakan sebagai warna hati. Warna ini juga pernah dikenakan Nabi saw. sebagaimana terekam dalam riwayat Bukhari.

Warna juga berfungsi sebagai indeks untuk para teosof, di mana mereka diberitahu tentang posisi dan martabat mereka yang sebenarnya. Dalam ranah artistik, warna putih adalah warna unggulan yang digunakan sebagai simbol untuk menyatukan semua warna. Ini sekaligus mewakili warna malaikat dan tuhan, karena warna ini mencerminkan kemurnian dan kedamaian. Dengan warna putih, maka akan tampak perbedaan antara bersih dan kotor. Kejernihan hati dilambangkan dengan putih. Kebersihan niat dan perilaku disimbolkan dengan warna putih.

Warna putih tidak saja sebagai warna ideal dari segi eksistensinya, namun penggunaan warna ini sangat dianjurkan oleh Nabi saw. dalam berbagai hal di antaranya: “Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu adalah sebaik-baik pakaian kalian dan kafanilah mayit dengan kain putih pula” (HR. Abu Daud). Sebaliknya, warna hitam melambangkan kematian dan ketiadaan. Hitam menjadi pembeda antara yang kotor dan besih. Kekotoran hati dan batin dilambangkan dengan hitam. Hitam pun menjadi warna malam. Sebagai garis pemisah arsitektural ornamen dan pola sehingga tampak jelas. Bisa juga menggambarkan keanggunan atau kelas sosial, mewakili gagasan seperti kekuatan, seksualitas, kecanggihan, formalitas, kekayaan, misteri, ketakutan, kejahatan, ketidakbahagiaan, kedalaman, gaya, kesedihan, penyesalan, kemarahan, dan berkabung.[3]

Adapun warna yang begitu menonjol dan memiliki tempat spesial di dalam Islam adalah warna hijau. Warna ini biasanya digunakan untuk dekorasi masjid, sampul al-Quran, kain sutera penutup kuburan para sufi, dan bendera di beberapa negeri Muslim. Bahkan dikatakan bahwa warna ini favorit Nabi saw., dan karenanya beliau mengenakan jubah dan turban hijau. Demikian pula warna menjadi perlambang alam dan kehidupan, sekaligus menjadi manifestasi fisis Tuhan di bumi melalui hamparan hijau pepohonan dan tetumbuhan yang terhampar layaknya permadani.

Al-Quran banyak menyinggung perihal warna ini, terutama dalam mengilustrasikan surga dan keadaan di dalamnya. Karena itulah, sebagian orang mengatakan warna ini adalah warna surga. Seperti disebutkan misalnya di dalam Qs. Al-Kahfi [18]: 31, “… dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal…” Qs. Ar-Rahman [55]: 76 “… mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Qs. Al-Insan [76]: 21 mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.

Dari ayat-ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa warna hijau merupakan simbol yang mewakili Islam. Ayat ini dikuatkan dengan hadirnya kisah Nabi Khidhir yang berarti “hijau” di surat Al-Kahfi. Khidhir sebagai representasi orang saleh yang diutus Tuhan untuk menjawab kegelisahan Nabi Musa as. Dalam hal ini Nabi Musa as. mewakili dimensi lahiriah atau dunia eksternal, dan Nabi Khidhir sebagai representasi dunia batiniah ruhaniah, yang dalam terminologi sufi dikenal sebagai hakikat.[4]

Simbolisme yang tersimpan pada pola, bangunan, hiasan dan ornamentasi; cahaya, warna, dan pernak-pernik di dalamnya benar-benar mentahbiskan kedalaman makna esoterik di dalam Islam. Ini sekaligus menegaskan aspek batiniah yang menjadi acuan dalam penilaian segala lini peribadatan. Seperti kisah pengorbanan Qabil dan Habil, atau pengorbanan Ibrahim atas Ismail, bukan daging dan darah itu yang akan menjadi takaran, tetapi ketakwaan simboliklah yang menjadi dasar penerimaan. Wallahu a’lam bish shawab.

Selesai

Sebelumnya:

Simbolisme dalam Arsitektur Islam (3)

 

Catatan kaki:

 

[1] Lihat Hamdan Taha dan Donald Whitcomb “The Mosaics of Khirbat al-Mafjar” dalam http://www.aramcoworld.com/en-US/Articles/November-2015/2016-Calendar-Mosaics  akses 3 Januari 2018

[2] Fresko adalah teknik melukis dinding dengan menimpakan pigmen pada plester dinding yang baru dilapisi.

[3] Tabish Ahmed Abdullah dan Safiullah Khan, “Symbolism in Islamic Architecture” dalam SM. Akhtar (ed.), Islamic Architecture at the Cross Road (New Delhi: WellworthBooks International, 2011)., hlm. 132.

[4] Meski al-Qur’an tidak menyebutkan secara tegas bahwa yang dimaksud orang saleh dalam ayat ini adalah Khidhir, tetapi para ahli tafsir menyepakati sosok di balik ayat ini adalah Khidhir. Ini didasarkan pada berbagai riwayat mengenai Khidhir, seperti termaktub dalam kitan-kitab Sunan. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih  Muslim disebutkan, “Suatu ketika dia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang dia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” (HR. Bukhari). Demikian pula Abu Hurairah ra. mengatakan, “Dinamakan Khidhir karena ketika dia duduk di atas rerumputan yang kering (farwah), tanah itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” (HR. Ahmad)[4] Pembahasan mendetail tentang masalah ini lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Adz-Dzahru an-Nadhir fi Naba-i al-Khadhir, tahqiq: Majdi Sayyid Ibrahim (Kediri: Ma’had al-Islamy as-Salafi, tt.), hlm. 13

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*