Suleiman Agung (3): Roxelana, Cinta Sang Sultan (2)

in Tokoh

“Atas pengaruh Roxelana, Suleiman menghabisi Musthopa, anaknya sendiri dari istri yang lain. Hasilnya adalah, anak Roxelana yang bernama Selim, menjadi pewaris takhta kesultanan.”

–O–

Lukisan Suleiman dan Roxelana, dilukis oleh Anton Hickel pada tahun 1780. Sekarang menjadi koleksi Mittelrhein-Museum Koblenz.

Harem merupakan sebuah tempat di mana gadis-gadis dalam usia yang masih sangat muda dididik dan dilatih untuk melayani Sultan. Ada sekitar 300 orang gadis muda di sana (jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan masa-masa kesultanan berikutnya setelah era Suleiman). Latar belakang kehadiran mereka di sana berbagai macam, ada yang pemberian, dibeli, atau hasil tangkapan dari peperangan. Mereka semua berasal dari orang tuanya yang Kristen.[1]

Setelah para gadis itu mencapai usia matang, mereka mulai diberikan tugas untuk melayani Sultan. Sultan dapat dengan bebas memilih siapa dan berapapun yang dia suka untuk melayaninya. Dan apabila seorang gadis cukup beruntung, dia akan diminta Sultan untuk menemaninya tidur, dengan harapan bisa mendapatkan anak laki-laki darinya. Anak laki-laki adalah peluang emas untuk mendapatkan takhta kesultanan.[2]

Usia 25 adalah usia “kadaluarsa” bagi seorang gadis di dalam Harem. Apabila sampai pada usia ke-25 Sultan masih belum “meliriknya” juga, maka dia akan dinikahkan dengan salah satu prajurit Ottoman. Roxelana adalah salah satunya yang beruntung, dari Suleiman dia memiliki banyak anak dan salah satunya adalah laki-laki.[3]

Salah satu fakta unik tentang Ottoman adalah bahwa pada hakikatnya gadis-gadis di Harem tersebut merupakan budak. Namun tradisi Ottoman memberikan peluang yang cukup terbuka bagi anak laki-laki dari Harem dapat mencapai kekuasaan tertinggi, yakni dengan menjadi Sultan suatu saat nanti.

Sebagaimana perempuan lainnya, Roxelana pun sangat menginginkan putranya yang bernama Selim untuk dapat mewarisi kesultanan. Pada masa-masa itu, sudah menjadi semacam tradisi bahwa anak laki-laki yang tidak mewarisi kesultanan akan cenderung disudutkan, bahkan akan sampai pada titik dapat membahayakan nyawa.[4]

Ketika putra mahkota sudah terpilih, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi yang lainnya, atau para pendukungnya untuk menggugat sang pewaris kesultanan di masa depan. Dengan demikian, selama putra mahkota belum terpilih, orang-orang di lingkaran istana akan sibuk melakukan berbagai cara untuk dapat memperoleh kekuasaan. Karena memang tidak ada pilihan lain selain terus maju ke depan.[5]

Dalam kontestasi kekuasaan tersebut, Roxelana melihat sebuah peluang. Suleiman memiliki putra sulung dari Gulbehar yang bernama Mustapha. Dia adalah calon kuat putra mahkota. Mustapha tampan, populer, dan sangat cakap; dan Suleiman telah menunjukkan dukungannya yang besar dan memberinya jabatan penting; semua orang sudah yakin bahwa dia ditakdirkan untuk menggantikan ayahnya.[6]

Tetapi Suleiman sebenarnya diam-diam cemburu terhadap ambisi Mustapha, yang dia khawatirkan pada akhirnya akan membahayakan otoritasnya sendiri; fakta bahwa Mustapha telah menjadi sahabat karib Ibrahim—Perdana Menteri terpercaya Sultan, namun sangat ambisius, kisah tentangnya akan diceritakan kemudian—tidak dapat membantunya untuk melawan takdir.[7] Roxelana cukup peka, dia kemudian berhasil mempengaruhi Suleiman, dia mengatakan bahwa Mustapha telah berkomplot untuk  melawannya. Akibatnya adalah Suleiman mengeksekusi anaknya sendiri, Mustapha, anak laki-laki pertamanya. Dia dibunuh atas perintah Suleiman.[8]

Alhasil, Selim berhasil menjadi putra mahkota (di kemudian hari dia dikenal dengan nama Sultan Selim II). Dengan putranya sendiri yang menjadi pewaris kekuasaan, maka posisi Roxelana di istana menjadi benar-benar aman. Bahkan, dalam perkembangan ke depannya, ketika Roxelana sudah menua—melewati usia subur dan tidak dapat lagi melahirkan anak—dia tidak diasingkan ke daerah, melainkan tetap berada di sisi Suleiman.[9]

 

Roxelana, Perdana Menteri di Balik Layar

Membaca kisah di atas, sepintas Sultan tampak memberikan segala-galanya untuk Roxelana. Namun sebenarnya, Roxelana pun turut memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan kekuasaan Suleiman. Pada tahun 1523 Sultan Suleiman memiliki perdana menteri yang bernama Ibrahim, dia adalah Perdana Menteri yang sangat cakap, bahkan setelah tiga tahun menjabat, Sultan mempercayakan segala urusan pemerintahan kepadanya. Di sisi lain, Roxelana pun di balik layar sudah memiliki pengaruh yang cukup besar bagi pemerintahan.[10]

Konflik antara Ibrahim dan Roxelana cepat atau lambat menjadi tidak terelakkan. Ibrahim, secara cemerlang memperoleh kemenangan demi kemenangan, di bawah kepemimpinannya Ottoman terus menambah daerah kekuasaan. Hingga ketika dalam usaha penaklukkan Persia pada tahun 1535, ketimbang menyebut dirinya sebagai Panglima Perang, Ibrahim bahkan berani menyebut dirinya sebagai Sultan. Ya, Ibrahim sudah terlampau kuat, pengaruhnya sangat besar di dalam pemerintahan Ottoman.[11]

Kemudian pada suatu malam, pada 15 Maret 1536, Ibrahim mendapat undangan makan malam dari Sultan. Tanpa kecurigaan, dia datang seperti biasanya dan membicarakan banyak hal dengan Sultan. Namun, keesokan paginya, tubuhnya ditemukan tergantung di depan gerbang Harem dengan penuh luka. Dia telah mati. Konon, percikan darahnya dibiarkan selama berabad-abad melekat di tembok harem, sebuah simbol dan peringatan untuk siapapun agar jangan pernah berurusan dengan Roxelana. Roxelana diduga kuat sebagai dalang di balik pembunuhan tersebut.[12]

Tiga Perdana Menteri selanjutnya setelah Ibrahim hanya berfungsi sebagai formalitas saja, mereka tidak penting dan tidak memiliki pengaruh di dalam pemerintahan. Roxelana bertahun-tahun ke depan faktanya menjadi Perdana Menteri yang sesungguhnya, namun berada di balik layar.[13]

Roxelana adalah sosok fenomenal, dia mampu mendobrak tradisi Ottoman, dia adalah perempuan pertama di dalam sejarah Kekaisaran Ottoman yang terlibat dalam politik dan pemerintahan. Segala keputusan Suleiman banyak dipengaruhi olehnya, bahkan anaknya sendiri, Selim, di masa depan akan menjadi Sultan selanjutnya setelah Suleiman. Pertanyaannya adalah, apakah Roxelana melakukan itu semua demi ambisi kekuasaan, atau itu merupakan cara dia untuk bertahan hidup, mengingat dia berasal dari tempat yang jauh, terasing dan sendirian?[14] (PH)

Bersambung ke:

Suleiman Agung (4): Penaklukkan-penaklukkan

Sebelumnya:

Suleiman Agung (2): Roxelana, Cinta Sang Sultan (1)

Catatan Kaki:

[1] Roger Bigelow Merriman, Suleiman The Magnificent 1520-1566, (Harvard University Press: Massachusetts, 1944), hlm 181.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 210.

[5] Ibid.

[6] Roger Bigelow Merriman, Ibid., hlm 185-186.

[7] Ibid., hlm 186.

[8] Eamon Gearon, Ibid.

[9] Ibid.

[10] Roger Bigelow Merriman, Ibid., hlm 184.

[11] Ibid.

[12] Ibid., hlm 184-185

[13] Ibid., hlm 185.

[14] Eamon Gearon, Ibid, hlm 214.