Suleiman Agung (4): Penaklukkan-penaklukkan

in Tokoh

“Suleiman merebut Baghdad dari kekuasaan Dinasti Safawi Persia pada tahun 1535. Dengan Baghdad di tangan, maka Ottoman telah menguasai seluruh kota-kota kekhalifahan besar di masa lalu: Madinah, Damaskus, Baghdad, dan Kairo.

–O–

Wilayah kekuasaan Ottoman dari masa ke masa. Infografis: freeman-pedia.com

Ayah Suleiman, Selim I, dalam waktu kurang dari satu dekade telah memperluas wilayah kekuasaan Kekaisaran Ottoman sampai dengan tiga kali lipat. Penaklukan oleh Suleiman sendiri tidak sebesar ayahnya, namun itu tidak kalah penting. Suleiman memulai pemerintahannya dengan memperluas wilayah kekuasaannya lebih jauh ke Eropa. Pada tahun 1521 — setahun setelah dia berkuasa — Suleiman menaklukkan kota Belgrade (sekarang Serbia), dan bagian selatan dan tengah Kerajaan Hungaria.[1]

Kemudian pada tahun 1526 dia mendapatkan kemenangan bersejarah dalam Pertempuran Mohacs. Kemenangan tersebut merupakan tonggak penting bagi kekuasaan Ottoman di sebagian besar wilayah Hungaria dan sebagian wilayah Eropa Tengah yang bertahan selama berabad-abad ke depan. Namun, perluasan kekuasaan ke arah barat selanjutnya terhenti, setelah dia dua kali gagal menaklukkan Wina (sekarang Austria) pada tahun 1529 dan 1532.[2]

Penaklukkan Suleiman selanjutnya adalah merebut Baghdad dari kekuasaan Dinasti Safawi Persia pada tahun 1535. Kemenangan Suleiman atas Baghdad merupakan “pelengkap” atas kekuasaan Ottoman di masa sebelumnya. Dengan jatuhnya Baghdad, berarti Ottoman telah menguasai seluruh Mesopotamia. Bukan hanya itu, Baghdad juga merupakan akses langsung menuju wilayah teluk. Selain itu, dengan Baghdad di tangan, maka Ottoman telah menguasai seluruh kota-kota kekhalifahan besar di masa lalu: Madinah, Damaskus, Baghdad, dan Kairo.[3]

 

Pemutakhiran Kekuatan Angkatan Laut

Dalam sejarah kekaisaran Ottoman, kekuatan militer angkatan laut mereka tidak pernah dapat menyaingi kekuatan angkatan daratnya. Sultan Suleiman sebagai Sultan baru pada waktu itu menyadarinya. Dia adalah pemimpin yang visioner, dia tahu bahwa kunci untuk perluasan imperium terletak pada kekuatan angkatan laut. Dia membutuhkan armada angkatan laut yang kuat, dan itu cukup beralasan.[4]

Kekaisaran Ottoman pada saat itu sudah merambah hingga ke tiga benua, dan hanya melalui lautlah komunikasi di antara pemerintahannya yang terpisah-pisah dapat dipertahankan dengan efektif. Ottoman juga pemilik infrastruktur maritim yang tidak tertandingi, mereka memiliki pelabuhan yang megah di Konstantinopel yang posisinya sangat menguntungkan. Pelabuhan tersebut terletak di area perairan dalam yang kedua ujungnya dilindungi oleh selat yang dapat melindungi dari segala macam serangan. Selain itu, di dekat pelabuhan juga masih terdapat banyak hutan yang menyediakan kayu-kayu terbaik untuk bahan pembuatan kapal laut. Didukung juga oleh sumber daya manusia dan keuangan yang besar, terciptanya sebuah angkatan laut yang kuat sangat memungkinkan.[5]

Namun dengan segala macam kelebihan tersebut, sesungguhnya Ottoman memiliki kesalahan fatal, mereka tidak pernah benar-benar menjadi negara maritim, baik secara operasional maupun komersial. Perdagangan Ottoman dengan daerah-daerah lain seluruhnya menggunakan kapal laut milik asing. Bahkan transportasi perairan dalam negerinya pun sepenuhnya diserahkan kepada orang-orang asing Kristen. Kapal-kapal Ottoman agar dapat beroperasi bergantung terhadap keahlian para tahanan Kristen yang diperkerjakan di kapal dayung dan para perompak yang dibayar untuk mengendalikan kapal layar. Mereka semua adalah orang-orang yang tidak disiplin dan tidak dapat dipercaya.[6]

Dan yang terburuk dari itu semua, Ottoman kesulitan untuk menemukan para pelaut yang cakap untuk menghadapi pelaut-pelaut tempur handal Kristen di wilayah Barat. Adapun kemenangan Angkatan Laut Ottoman di masa lalu tidak lebih hanya karena jumlah dan ukuran mereka yang besar saja. Direbutnya beberapa daerah kekuasaan Ottoman oleh para pelaut Kristen ketika Suleiman berkuasa, adalah sebuah bukti nyata bahwa angkatan laut Ottoman memang lemah.[7]

Pada tahun 1534, Suleiman mengambil keputusan yang kontroversial, dia mengangkat Khair-ed-Din Barbarossa—seorang mantan bajak laut ulung dari Aljazair—menjadi Laksamana Agung Ottoman. Hanya dalam waktu dua tahun, di bawah kepemimpinan Barbarossa kekuatan Angkatan Laut Ottoman berkembang pesat. Sejak saat itu, kekuatan Angkatan Laut Ottoman mulai diperhitungkan oleh negara-negara Eropa.[8]

Artikel Terkait:

 

The Unholy Alliance

Didukung oleh angkatan lautnya yang berkembang pesat, Suleiman kemudian memperluas kekuasaan Ottoman ke daerah-daerah di sepanjang pantai Afrika Utara, dari Mesir hingga ke Aljazair. Di Mediterania, Suleiman mengerahkan armada lautnya untuk membantu sekutu Eropanya, yakni Raja Perancis. Baik Perancis maupun Ottoman pada waktu itu sama-sama memiliki antipati terhadap Hungaria. Maka, dipimpin oleh Laksamana Barbarossa, Ottoman membantu Perancis untuk menaklukkan Nice, Corsica, dan beberapa wilayah penting di Mediterania lainnya.[9]

Ilustrasi Angkatan Laut Ottoman ketika mendarat di Toulon, Perancis pada tahun 1543. Dilukis oleh Matrakçı Nasuh yang pada waktu itu ikut bergabung di dalam armada tersebut.

Negara-negara Kristen menyebut aliansi ini dengan istilah “The Unholy Alliance” (persekutuan tidak suci), karena bertentangan dengan Spanyol dan Kekaisaran Suci Romawi. Barbarossa dan armadanya juga membantu mempertahankan Prancis Selatan dari beberapa kali serangan oleh Spanyol yang terjadi antara tahun 1540 sampai 1544.[10] Di kemudian hari, aliansi Franco-Ottoman tetap berlangsung meskipun Raja Perancis dan Sultan Suleiman telah meninggal. Sampai 250 tahun setelah kematian mereka, Perancis dan Ottoman masih tetap membangun aliansi.[11] (PH)

Bersambung ke:

Suleiman Agung (5): Bapak Hukum Ottoman (al-Qanuni)

Sebelumnya:

Suleiman Agung (3): Roxelana, Cinta Sang Sultan (2)

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 211.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4]  Roger Bigelow Merriman, Suleiman The Magnificent 1520-1566, (Harvard University Press: Massachusetts, 1944), hlm 211

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid., hlm 211-212

[8] Ibid., hlm 212.

[9] Eamon Gearon, Loc. Cit.

[10] Kallie Szczepanski, “Admiral Hayreddin Barbarossa”, dari laman https://www.thoughtco.com/admiral-hayreddin-barbarossa-195756, diakses 7 Maret 2018.

[11] Eamon Gearon, Ibid., hlm 211-212.