Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz: Sosok yang Membelokkan Takdir Sejarah (2)

in Tokoh

Last updated on May 27th, 2018 08:59 am

Pada tahun 1259 M, Qutuz mengambil langkah yang sangat berani. Dengan alasan situasi keamanan yang kian genting, ia menggulingkan Sultan, dan mendeklarasikan dirinya sebagai Raja. Namun di hadapan para pembesar Mesir, Qutuz berjanji bahwa ia akan memegang kendali kekuasaan hanya dalam rangka menghalau ancaman tentara Mongol. Setelah ancaman berlalu, ia akan mengembalikan tahta pada keputusan para pembesar kerajaan.”

—Ο—

 

Dunia mengenal namanya sebagai Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz. Tapi tidak banyak yang sejarawan ketahui tentang detail asal usulnya. Sebagian pendapat mengatakan bahwa ia awalnya adalah seorang budak yang dijual kepada Sultan Izz al-Din Aybak, yang merupakan “raja boneka” dinasti Mamluk. Karena kendali kesultanan Mesir kala itu sebenarnya dipagang oleh Istri Sultan, bernama Shajar al-Durr. Perempuan ini yang dianggap sebagai Sultan pertama dinasti Mamluk. Ia merupakan janda dari raja terakhir Ayyubiyah di Mesir bernama Sultan Al-Malik al-Salih. Dengan keterampilan yang sangat mumpuni, ia berhasil mengawal proses transisi dari Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk, tanpa sedikitpun pertumpahan darah.[1]

Tapi Shajar al-Durr harus berhadapan dengan budaya pariarki yang demikian sengit pada masanya.[2] Akhirnya, untuk meredam polemik, ia menikahi seorang prajurit dari Mamluk bernama Izz al-Din Aybak. Inilah yang oleh banyak pendapat disebut sebagai raja pertama Dinasti Mamluk. Sosok ini pula yang pertama kali menemukan bakat besar al-Muzhafar Saifuddin Qutuz.

Pendapat yang masyur mengatakan, bahwa Qutuz sejak awal bukan seorang budak, tapi dikenal sebagai prajurit yang cakap. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pendidikan militer. Ia terbiasa berpikir secara strategis, dan memiliki pandangan politik sangat realis.[3] Karena kecakapannya yang luar biasa, pada tahun 1253 M, atau ketika ekspedisi militer Hulagu Khan pertama kali di gelar di Persia, Aybak mempercayakan jabatan sebagai wakil sultan kepadanya.[4]

Tampaknya tidak ada hubungan kausalitas antara diangkatnya Qutuz sebagai wakil sultan dengan ekspedisi pertama tentara Mongol. Tapi yang jelas, dengan posisinya yang demikian strategis di kerajaan Mamluk, Qutuz memiliki akses informasi yang lebih akurat dan rinci terkait dinamika perkembangan global pada masa itu. Termasuk kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh pasukan Mongol.

Di sisi lain, Qutuz juga memiliki pengetahuan menyeluruh akan situasi politik dalam negeri Mesir. Tentang bagaimana Aybak sebenarnya tidak memiliki kedaulatan penuh akan singgasananya, dan skandal politik yang terjadi antara Aybak dan istrinya, tentu Qutuz juga memahami dengan sangat baik. Sejarah tidak banyak merekam peran aktif Qutuz dalam polemik internal keluarga kerajaan, tapi besar kemungkinan, dengan posisi yang dimilikinya, Qutuz memiliki peran besar dalam mempengaruhi langkah-langkah politik tuannya.

Pada tahun 1257 M, Aybak mengambil keputusan yang fatal. Untuk meningkatkan agregat pengaruh dan kekuatannya dengan Shajar al-Durr, ia kemudian meminang seorang istri dari salah satu kerajaan yang cukup kuat pada masa itu. Mendengar rencana ini, Shajar al-Durr menimbangnya secara strategis. Rencana jangka panjang Aybak terbaca jelas, ia bermaksud menggandakan kekuatannya dengan menikahi seorang putri. Dan ini bagi Shajar al-Durr adalah sebuah rencana pengkhianatan yang besar. Aybak pun akhirnya dihukum menjadi tahan rumah. Ia di tempatkan di paviliun belakang istana. Tapi keputusan ini ternyata tidak disukai oleh banyak orang-orang Mamluk. Seorang Sultan ditahan di dalam Istana oleh istrinya, adalah sebuah hal yang aneh pada masa itu.[5]

Melihat keputusannya yang kurang populis, akhirnya Aybak dibebaskan oleh Shajarat al-Durr hanya beberapa bulan kemudian. Tapi tak lama setelah bebas, berita duka pun datang. Aybak dikabarkan meninggal. Shajarat al-Durr menceritakan bahwa ia meninggal wajar di tempat tidurnya. Namun alibi ini ditolak oleh Qutuz dan prajurit-prajurit Mamluk. Qutuz berhasil mempengaruhi para pembesar kerajaan untuk menarik dukungan mereka kepada Shajar al-Durr. Dan kemudian Shajar al-Durr pun dihukum mati.

Setelah Sultan dan permaisurinya wafat, maka terjadi kegentingan di kerajaan, tentang siapa yang akan naik tahta, mengingat Shajar al-Durr tidak memiliki keturunan. Tapi Qutuz mengetahui, bahwa sebelum menikah dengan Shajar al-Durr, Aybak pernah menikah dengan seorang perempuan yang bernama Ummu Ali. Dari pernikahan pertamanya, Aybak memiliki putra bernama Al-Mansur Ali. Anak inilah yang kemudian diboyong ke Istana dan didudukan sebagai Sultan menggantikan ayahnya.

Ketika menjabat sebagai Sultan Mamluk, Al-Mansur Ali masih berusia 15 tahun. Untuk membantunya mengerjakan urusan-urusan pemerintahan, Al-Mansur Ali kembali mempercayakan kedudukan wakil sultan kepada Qutuz. Tapi berbeda dengan periode pemerintahan Aybak, pada masa pemerintaha Mansur Ali, pengaruh Qutuz demikian besar, bahkan bisa dikatakan bahwa ia secara de facto adalah sultan Mesir.

Ketika tahun 1258 M, berita tentang kejatuhan Bahgdad tersiar kehingga ke seluruh dunia, termasuk ke Mesir. Mendengar ini, Qutuz tampaknya memiliki kekhawatiran yang besar dengan progresifitas ekspedisi militer Hulagu dan pasukannya. Kekhawatiran ini semakin menguat tatkala ia mendapat surat permohan bantuan dari kerajaan Ayyubiah di Damaskus yang mendapat ancaman dari Hulagu.

Pada tahun 1259 M, akhirnya Qutuz mengambil langkah yang sangat berani. Dengan alasan situasi keamanan yang kian genting, ia mengumpulkan seluruh pembesar negeri dan mengemukakan kekhawatirannya. Untuk mengamankan situasi tersebut, ia mengajukan usulan agar Mesir harus dipimpin secara langsung dan berdaulat oleh sosok yang kuat. Dan sosok itu adalah dirinya.

Usulan Qutuz diterima secara bulat oleh para Emir dan pembesar kerajaan Mamluk. Qutuz berjanji bahwa ia akan memegang kendali kekuasaan hanya dalam rangka menghalau ancaman tentara Mongol. Setelah ancaman berlalu, ia akan mengembalikan tahta pada keputusan para pembesar kerajaan. Dengan demikian, pada tahun 1259 M, Qutuz berhasil meduduki tahta, dan menjadi sultan menggantikan Al Mansur Ali.[6] Sejarah mencatatnya sebagai Sultan ketiga Dinasti Mamluk. Tapi bila kita jujur memasukkan nama Shajar al-Durr, maka Qutuz adalah Sultan keempat Dinasti Mamluk. (AL)

Bersambung…

Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz: Sosok yang Membelokkan Takdir Sejarah (3)

Sebelumnya:

Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz: Sosok yang Membelokkan Takdir Sejarah (1)

Catatan kaki:

[1] Terkiat kisah lengkap Shajar al-Durr, Ganaislamika sudah pernah menerbitkan artikel khusus tentang beliau. Kisahnya bisa diakses pada link berikut: https://ganaislamika.com/shajarat-al-durr-pendiri-dinasti-mamluk/

[2] Salah satu kritik atau kecaman serius datang dari Abbasiyah, dimana Khalifah al-Musta’sim dikatakan telah menyatakan: “Kami telah mendengar bahwa anda diperintah oleh seorang wanita sekarang. Jika anda kehabisan orang di Mesir, beri tahu kami supaya kami dapat mengirimi anda seorang pria untuk memerintah anda.” Lihat, Tom Verde, “Malika III: Shajarat Al-Durr”, http://www.aramcoworld.com/en-US/Compilations/2017/Malika/Malika-III-Shajarat-al-Durr, diakses 22 Desember 2017.

[3] Ibid

[4] Qutuz berasal dari Turki. Ditangkap oleh bangsa Mongol selama kejatuhan dinasti Khwarazmian 1231 M, ia melakukan perjalanan ke Damaskus, Suriah di mana ia dijual ke pedagang budak Mesir yang kemudian menjualnya ke Aybak, sultan Mamluk di Kairo. Menurut beberapa sumber, Qutuz mengklaim bahwa nama aslinya adalah Mahmud ibn Mamdud dan dia berasal dari Ala ad-Din Muhammad II, penguasa Kekaisaran Khwarezmian. Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Qutuz, diakses 20 Mei 2018

[5] Lihat, Tom Verde, Op Cit

[6] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Qutuz, Op Cit

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*