Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (1)

in Islam Nusantara

Sebagaimana sejarawan sepakati, bahwa dakwah Islam di Nusantara, khususnya yang dibawa para Wali, bercorak khas; sangat damai, adaptif dengan kebudayaan setempat, dan kental tradisi tasawwuf. Bukan tidak mungkin, karena narasi ilmu para pendakwah di Nusantara, bersumber dari satu tradisi, atau mungkin dari satu orang.

 —Ο—

 

Dari serangkaian nama para tokoh perintis yang menyebarkan Islam di Nusantara, nama Syeik Jumadil Kubra adalah salah satu sosok terpenting. Sebagian besar pendapat menyakini, bahwa beliaulah bapak para wali di Nusantara dan Asia Tenggara. Tapi sampai sekarang, masih terjadi perselisihan di antara para sejarawan tentang kisah hidup beliau. Bahkan identitas aslinya pun masih simpang siur. Uniknya, nama beliau hidup dalam tuturan masyarakat, dan terlacak pula dalam dokumen-dokumen kuno nusantara, seperti babat tanah jawi dan ditulis oleh para peneliti asing.

Salah satu masalahnya, belum ada satu bukti arkelogis yang cukup otentik untuk menyibak kabut identitas sosok yang bernama Syeik Jumadil Kubra, seperti makam atau prasasti. Alih-alih, makam beliau bertebaran cukup banyak di pulau Jawa, bahkan sampai di Sulawesi. Semua makam-makam ini oleh penduduk setempat diyakini sebagai makam Syeik Jumadil Kubro, dan masih tetap di ziarahi hingga hari ini.

Di Semarang, sebuah makam tua yang terletak di antara Tambak dan Terboyo, diyakini penduduk sebagai maka Syeik Jumadil Kubra. Demikian juga di Desa Turgu, di lereng Gunung Merapi, terdapat juga makam yang diyakini sebagai makam Syeik Jumadil Kubra. Dan yang paling terkenal, dan dianggap cukup otentik, adalah makam di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Terakhir, sebagian masyarakat juga meyakini makam Syeik Jumadil Kubra ada di Tosora Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Makam Syekh Jumadil Kubro di jalan Arteri Yos Sudarso Kecamatan Genuk Kota Semarang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Sumber gambar: Tribunjateng.com

 

Makam Syekh Jumadil Kubro di jalan Arteri Yos Sudarso Kecamatan Genuk Kota Semarang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Sumber gambar: Tribunjateng.com

 

Makam tua di Bukit Turgo, yang dipercaya sebagai makam Syeik Jumadil Kubra. Sumber gambar: http://petatempatwisata.com

 

Makam Syeik Jumadil Kubra di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sumber gambar: klikwajo.com

 

Makam yang dipercaya sebagai pusara Syeik Jumadil Kubra di Wajo, Sulawesi Selatan. Masyarakat di Wajo, lebih mengenal beliau dengan nama Syeik Jamaluddin Husein Al Akbar. Sumber gambar: desatosora.co.id

Di Wajo, Sulawesi Setalan, masyarakat setempat cukup menyakini makam tersebut sebagai makam Syeik Jumadil Kubra, terlebih ketika makam ini pernah juga diziarahi oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal ini juga diperkuat oleh penuturan sejarawan bernama Martin Van Bruinessen, yang mengatakan ada kemungkinan makam Syeik Jumadil Kubra yang asli justru terletak di Wajo, karena jejak terakhir dakwah beliau adalah di kawasan Kerajaan Gowa.

Tapi sayangnya, diantara sekian banyak makam tersebut di atas, tidak ada satupun bukti ataupun informasi arkeologis yang cukup akurat yang bisa dijadikan rujukan untuk melacak jejak dakwah Syeik Jumadil Kubro. Inilah salah satu hal yang buat identitas beliau tetap samar.

Bila ditilik dari namanya, menurut Martin Van Bruinessen yang dikutip oleh Agus Sunyoto, nama Jumadil Kubro sendiri adalah penamaan yang tidak lazim dalam kaidah bahasa Arab. Kata Arab “Kubra” adalah kata sifat dalam bentuk mu’annas (feminim), bentuk superlatif (ism tafadhil) dari kata “kabir” yang berarti besar. Bentuk kata mudzakkar (maskulin) yang sesuai adalah akbar. Martin menilai aneh, kata al-Kubra menjadi bagian nama seorang laki-laki. Karena itu ia berpendapat nama Jumadil Kubra adalah penyingkatan nama Najumuddin al-Kubra yang dihilangkan bunyi suku kata pertamanya, sehinga menjadi Jumadil Kubra.

Secara garis besar, terdapat dua versi cerita terkait sosok Syeik Jumadil Kubro, yaitu versi babat lokal dan sejarawan asing, dengan versi para sayyid/habaib. Kedua versi tersebut sengaja kita bedakan, kerena miliki struktur narasi masing-masing, yang kurang elok bila dicampur. Meskipun dalam beberapa aspek, kedua versi tersebut bisa jadi saling mengisi, tapi di sini lain saling bersilang pendapat. Untuk itulah kedua versi tersebut kita paparkan secara terpisah.

Agus Sunyoto dalam karyanya, berjudul Atlas Walisongo, cukup apik meramu informasi dari babat lokal ini. Menurut Babat Tanah Jawi, Syeik Jumadil Kubra adalah sepupu dari Sunan Ampel. Beliau hidup sebagai seorang petapa di sebuah hutan di dekat Gresik. Keberadaannya sebagai petapa juga tersebut dalam legenda masyarakat di lereng Gunung Merapi. Dalam legenda tersebut dikatakan bahwa Syeik Jumadil Kubra adalah seorang wali asal Majapahit yang menjadi petapa di hutan lereng Gunung Merapi. Beliau dipercaya mencapai usia sangat tua, hingga sempat menjadi penasehat dari Sultan Agung.[1]

Dalam Kronika Banten, sebagaimana dikutip oleh Agus Sunyoto, Syeik Jumadil Kubra digambarkan sebagai nenek moyang Sunan Gunung Jati. Dikisahkan bahwa seorang putra Syeik Jumadil Kubra yang bernama Ali Nurul Alam tinggal di Mesir. Ali Nurul Alam memiliki putra bernama Syarif Abdullah, yang kemudian memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah, atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Sementara itu, menurut Babat Tanah Cirebon, tokoh Syeik Jumadil Kubra dianggap sebagai leluhur Sunan Gunung Jati dan wali-wali lain seperti Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga. Hal yang kurang lebih sama juga dituturkan dalam Kronika Gresik, dimana Syeik Jumadil Kubra dikatakan memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel dan tinggal di Gresik. Putra Syeik Jumadil Kubra yang bernama Syeik Maulana Ishak dikirim ke Blambangan untuk melakukan islamisasi di sana. Sebagaimana diketahui, Syeik Maulana Ishak sendiri merupakan ayah dari Sunan Giri. Dengan kata lain, Syeik Jumadil Kubra adalah kakek dari Sunan Giri.[2]

Berbeda dengan babat lokal, menurut Raffles dalam The History of Java, yang mencatat kisah-kisah legenda dari Gresik, Syeik Jumadil Kubra disebutkan sebagai guru dari Sunan Ampel, bukan nenek moyang para wali sebagaimana disebut oleh babat lokal. Dikisahkan, Raden Rahmat yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel, pertama-tama datang dari Champa ke Palembang dan kemudian meneruskan perjalanan ke Majapahit. Mula-mula Raden Rahmat ke Gresik, dan mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali, bernama Syeik Molana Jumadil Kubra. Syeik Molana Jumadil Kubra kemudian menyatakan bahwa kedatangannya telah diramalkan oleh Nabi Saw bahwa keruntuhan agama kafir telah dekat dan Raden Rahmat dipilih untuk mendakwahkan Agama Islam di Pelabuhan timur Pulau Jawa.

Jadi berdasarkan babat lokal, bisa dikatakan bahwa Syeik Jumadil Kubra memiliki hubungan darah dengan para Walisongo, kecuali Maulana Malik Ibrahim. Menurut Muhammad Sulton Fatoni, dalam Buku Pintar Islam Nusantara, Syeik Jumadil Kubra menyebarkan Islam di Nusantara setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim pada tahun 882H/1419 M,[3] dan sebelum Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang baru tiba di Jawa beberapa dasawarsa setelahnya.[4] Artinya munurut versi ini, kiprah dakwah Syeik Jumadil Kubra di pulau Jawa berlangsung di sekitar paruh pertama abad ke-15.

Terkait dengan apa yang disampaikan oleh Raffles, sebenarnya tidak mengubah substansi dari tentang identitas Syeik Jumadil Kubra. Sekurang-kurangnya, kita bisa memaknai, bahwa selain bapak para wali, Syeik Jumadil Kubra merupakan sumber ilmu keIslaman di Nusantara. Sebagaimana sejarawan sepakati, bahwa dakwah Islam di Nusantara, khususnya yang dibawa para Wali, bercorak khas; sangat damai, adaptif dengan kebudayaan setempat, dan kental tradisi tasawwuf. Bukan tidak mungkin, karena narasi ilmu para pendakwah di Nusantara, bersumber dari satu tradisi, atau mungkin dari satu orang. (AL)

Bersambung…

Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Tanggerang Selatan, Pustaka IIMaN, 2016, hal. 79

[2] Lihat, Ibid, hal. 78

[3] Lihat, Muhammad Sulton Fatoni, Buku Pintar Islam Nusantara, Jakarta, Penerbit IIMaN, 2017, hal. 19

[4] Menurut keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J.Edel, bahwa ketika Kerajaan Champa ditaklukan pada tahun 1446 M, Sunan Ampel sudah berada di pulau Jawa. Hal ini sejalan dengan narasi dalam Serat Walisana yang menyatakan bahwa ketika Champa jatuh, Sunan Ampel berniat ingin pulang. Namun keinginan tersebut dicegah oleh Prabu Brawijaya, mengingat kondisi Champa pada saat itu sudah hancur total. Soal periode dakwah Sunan Ampel sendiri para sejarawan masih banyak berselisih paham. Babad ing Gresik menetapkan wafat Sunan Ampel dengan candrasengkala berbunyi, “Ngulama Ngampel lena masjid” yang selain mengandung makna “ulama Ampel wafat di masjid” juga mengandung nilai angka 1401 Saka yang jika dikonversi ke tahun masehi adalah tahun 1479 M. Padahal, Serat Kandha mencatat Sunan Ampel wafat dengan candrasengkala, “Awak kalih guna iku” yang mengandung nilai 1328 Saka atau sama dengan 1406 M. Bila ternyata Sunan Ampel wafat pada tahun 1406 M, konsekuensinya bisa dikatakan bahwa periodesasi dakwah Sunan Ampel dengan Maulana Malik Ibrahim adalah semasa. Lihat, Agus Sunyoto, Op Cit, hal. 192-211