Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (2)

in Islam Nusantara

Syeik Jumadil Kubra nama lain dari Syeik Jamaluddin Husein Al Akbar, adalah keturunan Adzamat Khan (di antara kaum ‘Alawiyin yang tinggal di India) yang kemudian hijrah ke Indonesia. Dialah yang termasuk di antara pendakwah Islam pertama di Indonesia dan kemudian, lewat beberapa generasi, melahirkan keturunan Wali Songo

—Ο—

 

Berbeda dengan narasi babat lokal dan sejarawan asing, dalam pandangan para sayid/habaib asal Hadramaut, tokoh yang disebut sebagai Syeik Jumadil Kubra adalah leluhur mereka yang bernama Syeik Jamaluddin Husein Al-Akbar. Menurut versi ini, Syeik Jamaluddin Husein Al-Akbar, adalah keturunan Imam Al-Muhajir pertama yang datang dan menetap di Indonesia. Ia merupakan putra dari Ahmad Jalal Syah yang lahir di India.

Nama lengkapnya adalah Jamaluddin Husein bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Al-Muhajir Ahmad bin ‘Isa. Dari rantai nasab ini, kita bisa memaknai, bahwa Syeik Jumadil Kubra merupakan mata rantai krusial yang menghubungkan narasi penyebaran Islam di Nusantara, dengan narasi perkembangan Islam di Timur Tengah.

Kita ketahui, bahwa keluarga Imam Ahmad bin ‘Isa merupakan salah satu anak keturunan Rasululullah Saw yang memilih hijrah dari Basrah ke Hadramaut bersama keluarganya pada tahun 318 H.[1]  Situasi di Basrah yang kurang kondusif kala itu akibat hiruk pikuk politik Dinasti Abbasiyah, tidak memungkin baginya untuk mengimplementasikan dakwah damai yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Untuk itu beliau memilih hijrah, dan tempat labuhan akhir beliau adalah Hadramaut.

Menurut Musa Kazhim, sejak kedatangan Imam Ahmad bin ‘Isa Al-Muhajir pada 965 M, Hadhramaut seperti menemukan kembali posisinya dalam sejarah Islam. Berpuluh-puluh tahun setelah Imam Ahmad wafat, para sayid keturunan beliau beserta kalangan sahabat dan murid mereka menyebarkan dakwah Islam yang damai ke seluruh dunia. Pada fase berikutnya, ajaran-ajaran beliau berkembang menjadi suatu jalan, metode yang mapan, yang disebut dengan berbagai nama oleh para peneliti sejarah Islam, antara lain, dengan thariqah ‘Alawiyyah (jalan hidup ‘Alawiyin).[2]

Salah satu dari anak keturunan Imam Ahmad bin Isa bernama Abdul Malik bin Alwi, hijrah dari Hadramaut ke India dan mendirikan kesultanan Adzamat Khan. Cucu dari Abdul Malik bernama Ahmad Syah Jalal kemudian memiliki anak bernama Jamaluddin Husein Al-Akbar, atau yang kemudian dikenal sebagai Syeik Jumadil Kubra. Beliau dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, yakni sebuah negeri dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya, Ahmad Syah Jalaluddin, adalah seorang Gubernur (Amir) negeri Malabar.

Beliau tercatat memiliki 5 orang istri, yaitu:[3]

  1. Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi. Dari sini beliau memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Malik Ibrahim (Wali Songo yang pertama).
  2. Puteri Linang Cahaya (menikah tahun 1350 M). Memperoleh anak bernama Puteri Siti Aisyah, yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)
  3. Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin (Menikah tahun 1355 M).Memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami atau Ibrahim Asmaro atau Ibrahim Zainal Akbar;
  4. Puteri Syahirah dari Kelantan (Menikah tahun 1390 M). Memperoleh seorang anak bernama Ali Nurul Alam;
  5. Puteri Jauhar (Diraja Johor). Memperoleh anak bernama: – Muhammad Berkat Nurul Alam – Muhammad Kebungsuan.

Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh dalam salah satu makalahnya mengisahkan, Syeik Jamaluddin Husein Al-Akbar datang ke Indonesia bersama keluarganya, kerabat-kerabat dekat, dan keturunannya, baik laki-laki maupun perempuan. Beliau meninggalkan putranya, Ibrahim Zainal Akbar, di Aceh untuk mengajarkan ilmu-ilmu keislaman di sana. Sedang Jamaluddin Husein Al-Akbar mengunjungi Majapahit. Sebagian orang Jawa mengubah nama Jamaluddin Husein Al-Akbar menjadi Jumadil Kubra.  Kemudian beliau pergi ke tanah Bugis, berjuang untuk menyebarkan agama Islam dengan jalan damai dan ia berhasil. Beliau menetap di sana sampai wafat. [4]

Menurut versi ini, Syeik Jumadil Kubra memiliki sejumlah putra yang kemudian menurunkan para wali dan tokoh terkemuka di Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Musa Kazhim – mengutip dari Khidmah al-‘Asyirah, hasil penelitian Sayid Zain bin Abdullah Alkaf – merekonstruksi silsilah para Wali Songo sebagai berikut:

Lihat, Musa Kazhim, dalam “Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara”, Yogyakarta, RausyanFikr Institute, 2013, hal. 19

 

Bersambung…

Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (3)

Sebelumnya:

Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (1)

Catatan kaki:

[1] Bila kita sambungkan terus ke atas, maka silsilah Imam Ahmad bin Isa adalah sebagai berikut, Ahmad bin ‘Isa (An-Naqib) bin Muhammad (An-Naqib) bin Ali Al-‘Uraidl bin Imam Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah Saw.

[2] Thariqah ‘Alawiyah, tak pelak, adalah suatu bentuk cara beragama yang berorientasi tasawuf. Namun, tak seperti thariqah pada umumnya, thariqah ‘Alawiyah bukanlah suatu orde sufi (tarekat). Meski tak bisa lepas dari dasar-dasar teoretis pemikiran kesufian, thariqah ‘Alawiyah bisa dikelompokkan ke dalam apa yang biasa disebut sebagai tasawuf akhlaki. Dengan kata lain, ketimbang mempromosikan pemikiran-pemikiran teoretis dan spekulatif—yang biasanya hanya dibatasi pada sekelompok elite ulamanya (khawwash) di kalangan mereka—thariqah ini lebih menganjurkan pada berbagai praktik mujahadah dan riyadhah untuk mengembangkan keadaan-keadaan spiritual tertentu yang melahirkan akhlak yang baik. Lihat, Musa Kazhim, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Yogyakarta, RausyanFikr Institute, 2013,Hal. 5

[3] Ke-empat isterinya yang terakhir, beliau nikahi selepas tiap-tiap seorang daripadanya meninggal dunia. Lihat, http://id.rodovid.org/wk/Orang:359642, diakses 5 April 2018

[4] Lihat, Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh, Al-Imam Al Huhajir; Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’fat Ash Shadiq, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Yogyakarta, RausyanFikr Institute, 2013, hal. 72