Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (3)

in Islam Nusantara

Dalam kerangka ini, terdapat kesepakatan antara versi habaib dengan versi lokal, bahwa Wali Songo, mulai dari Sunan Ampel, memiliki pertalian darah antara satu dengan yang lain. Hanya saja, begitu ditarik lebih ke atas, terjadi kesimpangsiuran informasi yang cukup membingungkan. Yaitu tentang identitas Ibrahim Zainal Akbar, yang merupakan ayah dari Sunan Ampel.”

—Ο—

 

Sebagaimana sudah kita paparkan sebelumnya, bahwa Syeik Jumadil Kubra membawa seluruh keluarganya ke Nusantara. Di Aceh, salah satu putranya bernama Ibrahim Zainal Akbar ditinggalkan untuk menyebarkan dakwah di sana. Setelah menyelesaikan urusannya di Aceh, Ibrahim Zainal Akbar lalu menyusul rombongan ke pulau Jawa, tepatnya di Surabaya. Di kemudian hari, beliau dikenal dengan nama Ibrahim Asmoro (mungkin asalnya Ibrahim Al-Asmar), dan diberi gelar Sunan Tuban.

Menurut Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh, dari Ibrahim Zainal Akbar inilah kelak sebagian besar Wali Songo dilahirkan.  Mereka adalah; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Penisbatan mereka merujuk kepada tempat tinggal di mana mereka berada. Berikut ini alur silsilahnya;[1]

Lihat, Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Yogyakarta, RausyanFikr Institute, 2013, hal. 68

Dari bagan di atas, terlihat bahwa terdapat jalinan genetis antara satu Wali dengan Wali lain. Dalam kerangka ini, terdapat kesepakatan antara versi habaib dengan versi lokal, bahwa Wali Songo, mulai dari Sunan Ampel, memiliki pertalian darah antara satu dengan yang lain. Hanya saja, begitu ditarik lebih ke atas, terjadi kesimpangsiuran informasi yang cukup membingungkan.

Sebagaimana kita lihat pada bagan di atas, Ibrahim Zainal Akbar merupakan salah satu mata rantai terpenting dalam silsilah Walisongo, karena beliau merupakan ayah dari Sunan Ampel dan Syeik Maulana Ishak. Tapi bila kita bandingkan dengan versi babad lokal, tampak beberapa informasi terkait Ibrahim Zainal Akbar bertentangan. Babad Tanah Jawi menyebutnya dengan Makdum Brahim Asmara atau Maulana Ibrahim Asmara. Menurut Agus Sunyoto, ucapan tersebut mengikuti pelafalan lidah Jawa untuk nama Syeik Ibrahim as-Samarkandi. Beliaulah yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai ayah dari Sunan Ampel.[2]

Lebih lanjut Agus Sunyoto menyatakan, sebagaimana namanya, Syeik Ibrahim as-Samarkandi dipercaya lahir di Samarkand, Asia Tengah pada paruh ke dua abad ke 14. Menurut Babad Cirebon, ayah Syeik Ibrahim as-Samarkandi bernama Syeik Karnen dan berasal dari negeri Tulen atau Tyulen, kepulauan kecil yang terletak di tepi timur Laut Kaspia yang masuk wilayah Kazakhtan, tepatnya di arah Barat Laut Samarkand.[3]

Tapi meski berbeda tentang asal usulnya, kedua versi ini memiliki kemiripan terkait kronologi dakwah sosok yang bernama Ibrahim Zainal Akbar atau Syeik Ibrahim as-Samarkandi atau Maulana Ibrahim Asmara. Kedua versi ini bersepakat bahwa sebelum ke Nusantara, beliau berasal dari negeri Champa. Hanya bedanya, menurut versi Habaib, Ibrahim Zainal Akbar sempat berdakwah dulu di Aceh sebelum ke pulau Jawa. Sedang menurut versi babat lokal, dari Champa beliau dan kedua putranya, yaitu Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dan Ali Murthado (Ali Murtolo) singgah dulu ke Palembang memperkenalkan Islam pada Adipati Arya Damar. Kelak setelah memeluk Islam, Arya Damar mengganti namanya menjadi Ario Abdillah. [4]

Menurut Agus Sunyoto, berdasarkan dari kronologi waktu, Syeik Ibrahim as-Samarkandi diperkirakan datang ke Jawa pada sekitar tahun 1440 M.[5] Ini artinya waktu kedatangan beliau terpaut dua dasawarsa dari waktu wafatnya Syeik Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1419 M. Berarti Syeik Ibrahim as-Samarkandi menghabiskan waktu beberapa dasawarsa di pulau Sumatera, setelah itu baru datang ke pulau Jawa.

Adapun Syeik Jumadil Kubra, menurut versi Habaib, setelah tiba di Pulau Jawa, beliau melanjutkan misi dakwahnya ke Sulawesi. Versi para Habaib mengatakan bahwa makam beliau yang asli adalah yang terletak di Wajo, Sulawesi Selatan. Dalam catatannya, Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh menyatakan bahwa, “Setelah wafatnya Sayid Jamaluddin Husein Al-Akbar, meletuslah peperangan di Jawa dan Majapahit jatuh. Kemudian Islam tersebar di Jawa. Anak-anak dan cucu-cucunya menyebar di Jawa dan sekitarnya. Mereka terpencar di berbagai tempat yang jauh. Sebagian dari mereka pulang ke Kamboja dan Siyam. Yang tersisa di Jawa berjumlah 17 orang. Kemudian, jumlah mereka bertambah dengan datangnya keluarga mereka dari negeri Cina dan lainnya.” (AL)

Bersambung…

Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (4)

Sebelumnya:

Syeik Jumadil Kubra: Bapak Para Wali di Nusantara (2)

Catatan kaki:

[1] Lihat, Muhammad Dhiya Syahab dan Abdullah bin Nuh, Al-Imam Al Huhajir; Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’fat Ash Shadiq, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Yogyakarta, RausyanFikr Institute, 2013, hal. 68

[2] Lihat, Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Tanggerang Selatan, Pustaka IIMaN, 2016, hal. 82

[3] Ibid, hal. 83

[4] Menurut versi babat lokal; Babad Tanah Jawi, Babad Risaking Majapahit, dan Babad Cirebon menurutkan bahwa sewaktu Ibrahim Asmara datang ke Champa, Raja Campa belum masuk Islam. Ibrahim Asmara tinggal di gunung Sukasari dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk Champa. Raja Champa murka dan memerintahkan untuk membunuh Ibrahim Asmara beserta semua orang yang sudah memeluk Islam. Namun, usaha raja itu gagal, karena keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmara dan penggikutnya. Raja yang menggantikan raja lama, tanpa disangka bersedia menerima Islam. Bahkan Ibrahim Asmara kemudian menikahi Dewi Chandrawulan, putri raja Champa tersebut. Dari pernikahan inilah lahir Ali Murthado dan Ali Rahmat yang kelak menjadi Raja Pandita dan Sunan Ampel.  Lihat, Ibid, hal. 84-85

[5] Ibid