Tentang Masuknya Islam ke Nusantara (3)

in Islam Nusantara

Menariknya, sirkulasi pelayaran di Samudera Hindia dipengaruhi oleh peredaran angin yang dikenal dengan angin muson atau monsoon. Kata “muson” berasal dari sebuah kata dalam bahasa Arab (mosem), yang berarti musim. Angin muson biasanya merujuk pada perubahan musiman arah angin di sepanjang pesisir Samudera Hindia, khususnya di laut Arab, yang bertiup dari arah barat daya di India dan wilayah-wilayah di sekitarnya untuk setengah tahun dan dari timur laut untuk setengah tahun lainnya.[1]

Angin Muson sebagai elemen penting dalam pelayaran di Samudera Hindia. Sumber : https://www.thinglink.com/scene/634456621254180866, Diakses 14 Oktober 2017

 

Dalam tradisi pelayaran kuno, angin adalah salah satu faktor terpenting yang perlu diperhatikan sebelum berlayar, khususnya di Samudera Hindia. Para pedagang Arab, dan pelaut-pelaut di sepanjang pesisir Samudera Hindia selalu memperhatikan peredaran angin muson ini dalam setiap perencanaan pelayarannya. Pada bulan-bulan September hingga April, Angin Barat Laut berhembus dari Utara bumi ke bagian selatan. Para pedagang yang berasal dari Barat, termasuk bangsa Arab, umumnya memanfaatkan angin ini untuk melakukan pelayaran ke Timur. Adapun dalam pelayaran pulang, para pelaut ini menunggu datangnya Angin Timur Laut yang berhembus dari selatan ke utara bumi. Diantara waktu-waktu menunggu inilah terkadang mereka menetap di suatu tempat di sepanjang perjalanan ke China ataupun sebaliknya selama berbulan-bulan lamanya.

Salah satu choke point paling strategis yang dipilih untuk menunggu peredaran angin ini adalah wilayah Utara Pulau Sumatera dan sekitarnya (Selat Malaka), yang pada masa itu (abad ke 6 atau 7 M), wilayah ini berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Di tempat-tempat persinggahan ini para pelaut melakukan komunikasi, membaur dengan penduduk setempat, dan bertukar informasi aktual tentang negeri-negeri yang dilewati, termasuk informasi tentang munculnya agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Disisi lain, pada tahun-tahun yang berat di Makkah, penyiksaan dan pemenjaraan kaum Muslimin makin menjadi-jadi. Mereka dipaksa meninggalkan agama barunya. Melihat ini, Rasul bersabda kepada para sahabatnya: “Bertebaranlah kalian di muka bumi!”. Mereka bertanya: “Kemana ya Rasulullah?”, Rasulullah SAW menjawab: “ke Habasyah!” (Etiopia). Maka pada bulan April 615 M (bulan Rajab 5 H), berangkatlah sebagian kaum muslimin Makkah tersebut ke Etiopia.[2] Keberangkatan kaum Muslimin ke Etiopia ini tercatat sebagai perjalanan Hijrah pertama, sebelum hijrah yang dilakukan oleh Nabi SAW pada tahun 622 M.

Di Etiopia, kaum Muslimin disambut baik oleh raja Negus, dan mendapat perlindungan yang kuat, meski kaum kafir Makkah meminta Negus menyerahkan kaum Muslimin tersebut. Adanya kaum muslimin yang berhijrah ke wilayah Etiopia ini menjadi berita yang cukup menggemparkan pada masa itu, termasuk perlindungan yang diberikan oleh Negus. Etiopia yang letaknya berada di mulut Teluk Aden, merupakan tempat berkumpulnya hampir seluruh pelaut dan pedagangan dunia. Di tempat ini, peristiwa sekecil apapun akan mudah tersebar hingga ke seluruh dunia, terlebih berita besar seperti kedatangan agama baru yang turun di Makkah.

Maka tidak mengherankan bila sejarawan S.Q. Fatimi menyebutkan bahwa pada tahun 100 Hijriyah (718 M), seorang maharaja Sriwijaya (diperkirakan adalah Sri Indrawarman) mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Umayyah, yang berisi permintaan kepada khalifah untuk mengirimkan ulama yang dapat menjelaskan ajaran dan hukum Islam kepadanya.[3] Meski hal ini tidak cukup kuat membuktikan bahwa Sriwijaya ataupun Sri Indrawarman sudah memeluk Islam.

Fakta sejarah lainnya yang tak mungkin dinegasikan, para pelaut Nusantara pra-Islam, adalah pelaut aktif dalam perdagangan global. Hasil penelitian mutahir terkait jalur kayu manis (Cinnamon Route) dan rempah-rempah (Spice Route) yang tulis oleh Charles E.M. Pearce & Frances M. Pearce dalam buku “Oceanic Migration: Paths, Sequence, Timing and Range of Prehistoric Migration in the Pacific and Indian Oceans, menunjukkan bahwa pelaut-pelaut Nusantara dengan perahu layarnya yang bernama Perahu Halmahera dengan penggandung ganda (The Halmaherian double-outrigger), telah melakukan pelayaran hingga ke Madagascar sejak ribuan tahun lalu.[4] Bentuk perahu layar pelaut Nusantara ini terpampang di relief Candi Borobudur yang dibuat pada abad 8 Masehi, dan masih digunakan sampai pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit berkuasa.

 

Relief di Candi Borobudur, Samudra Rhaksa (Abad 8)

Masih di dalam buku yang sama, Charles E.M. Pearce & Frances M. Pearce mengatakan bahwa pengetahuan manusia Nusantara tentang peredaran angin muson adalah faktor terpenting di jalur pelayaran ini. Adapun rute yang ditempuh di Jalur Kayu Manis ini sangat berbeda dengan Jalur Sutra Laut yang ada pada abad setelah masehi. Jalur Kayu Manis menggunakan jalur selatan, dari Halmahera, menyusuri selatan Pulau Jawa, langsung melewati Samudera Hindia hingga ke Madagascar. Jalur ini tetap bertahan hingga masuknya era Jalur Sutra China, dan Jalur rempah-rempah yang tetap bertahan dan masih digunakan sebagai jalur perdagangan dunia sampai sekarang.

 

Ini merupakan Jalur pelayaran purba yang disebut sebagai Cinnamon Route. Sumber : http://www.spicydc.com/2014/10/a-short-summary-of-cinnamon.html, Diakses 14 Oktober 2017

 

Ini merupakan konstalasi jalur perdagangan dunia mulai dari Jalur Sutra (Silk Route), Jalur Rempah-rempah (Spice Route), dan Jalur Kayu Manis (Cinnamon Route). Sumber : https://spiceislandsblog.com/2014/10/06/the-cinnamon-route/, Diakses 14 Oktober 2017

Dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa arus perdagangan global pada masa turunnya Islam, sudah terjalin dengan sangat kompleks selama ribuan tahun. Hampir semua peradaban di penjuru dunia terkoneksi melalui jalur-jalur pelayaran yang sudah luas dikenal selama ribuan tahun. Melalui jalur-jalur ini kebudayaan-kebudayaan dunia berinteraksi dan bertukar informasi, produk, nilai, ilmu pengetahuan, dan agama.

Adapun gugusan kepulauan di Nusantara, meskipun terlihat terpisah-pisah oleh lautan, namun sudah terjalin dalam satuan ordonansi kemaritiman yang solid, sehingga koneksi dan interaksi antar pulau-pulau di Nusantara merupakan hal yang sangat lumrah terjadi.

Dalam kerangka ini, teori yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriah sangat mungkin terjadi. Sebab rezim globalisasi purba sudah menyediakan semua sarana yang lebih dari cukup untuk menyebarkan informasi dari satu belahan bumi ke belahan bumi lainnya, ditambah lagi Nusantara merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting pada masa itu.

Kembali pada situs tertua yang sekarang menjadi kawasan objek wisata religi Pemakaman Mahligai Barus, di Desa Sihorbo, Kecamatan Barus Utara, dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 1980, situs ini masih belum diakui secara resmi sebagai bukti sejarah yang kuat adanya Islam di Nusantara. Meski disisi lain, peserta seminar tidak juga menolak sebagaimana yang terjadi pada Seminar yang diadakan tahun 1963. Tekait hal ini, Prof. MDYA DR. Wan Hussein Azmi, dalam satu Prasarannya dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, yang selenggarakan pada tahun 1980, menyatakan pendapatnya terkait makam Mahligai yang ada di Sumatera Utara tersebut, sebagai berikut:[5]

Disini tidaklah saya hendak memperbincangkan sejauhmanakah kebenaran pendapat tersebut, akan tetapi setelah saya melihat sendiri kesan-kesan batu-batu nisan yang masih ada yang bertaburan di atas sebuah anak bukit yang diberi nama “Makam Mahligai” … maka saya berpendapat bahwa batu-batu nisan itu adalah lebih tua dari batu-batu nisan yang saya lihat di Pasei dan Sumatera itu telah tertanam ke perut bumi atau telah ditelan oleh laut setelah tempatnya runtuh oleh pukulan ombak yang berabad-abad lamanya.

Apa yang saya patut sebut di sini ialah nisan-nisan tua di Barus itu menunjukkan bahwa di sini, di masa permulaan kedatangan Islam, pernah lahir sebuah masyarakat Islam yang besar, dan di puncak anak bukit itu didirikan sebuah mahligai yang didiami oleh pemerintah Muslim, dan di sampingnya didirikan pula sebuah masjid dan dalam kawasan masjid ini disediakan tempat pemakaman bagi pemerintah-pemerintah dan orang-orang besar yang dikenal dengan nama “Makam Mahligai” dan nama ini masih kekal disebut hingga sekarang”. (AL)

Makam Mahligai, Sesuai dengan namanya, penyebutan Makam Mahligai merujuk pada kata “mahligai” yang berarti istana kecil yang dibangun oleh Syekh Siddiq. Namun ada juga yang berpendapat bahwa dalam bahasa Arab, Mahligai berasal dari kata Almahligai yang artinya pendatang. Makam Mahligai berarti makam pendatang. Sumber Poto : https://muajibdaroini.wordpress.com/2016/01/06/makam-sahabat-nabi-di-barus-tapanuli/

 

 

Kondisi nisan yang ada di Makam Mahligai. Sumber : http://mashur-sirfamilyn.blogspot.co.id/2015/01/makam-mahligai-barus-tapanuli-tengah.html, Diakses 17 Oktober 2017

Selesai.

Sebelumnya:

Tentang Masuknya Islam ke Nusantara (2)

Catatan Kaki:

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Muson

[2] Lihat, O. Hashem, Muhammad Sang Nabi; Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, Jakarta, Ufuk Press, 2007, Hal. 86

[3] https://www.yumpu.com/en/document/view/11876730/two-letters-from-the-maharaja-to-the-khalifah

[4] Lihat, Charles E.M. Pearce & Frances M. Pearce, Oceanic Migration: Paths, Sequence, Timing and Range of Prehistoric Migration in the Pacific and Indian Oceans. Springer: London-New York, 2010, Hal. 75-81

[5] Lihat, Prof. MDYA DR. Wan Hussein Azmi, “Islam Di Aceh Masuk dan berkembangnya Hingga Abad XVI”, dalam Prof. A. Hasjmy, “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia”, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 183-184

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*