Tentang Raja Islam Pertama di Nusantara (1)  

in Islam Nusantara

Last updated on October 21st, 2017 08:56 am

Masih dalam suasana bulan Muharam, kita sedikit mengenang babak sejarah Islam Nusantara. Pada bulan ini (Muharam), 1214 tahun yang lalu, atau bertepatan dengan 1 Muharam 225 Hijriah, Saiyid Abdul Aziz dilantik secara resmi menjadi Raja Kerajaan Perlak, dengan gelar Sulthan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Ia merupakan raja Islam pertama di Nusantara. Dengan naiknya ia sebagai Raja, sekaligus menandakan Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Silsilah Saiyid Abdul Aziz bersambung sampai Rasulullah SAW. Menurut catatat Prof. A. Hasjmy, merujuk pada keterangan dari naskah-naskah kuno yang ia pedomani, disebutkan silsilahnya sebagai berikut : Abdul Aziz Syah bin Ali bin Al Muktabar bin Muhammad Al Baqir bin Ali Muhammad Zainul Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib (istri Ali, Fathimah binti Muhammad).

Menurut Prof. A. Hasjmy, kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Perlak yang berdiri pada tahun 225 H.[1] Terkait tahun masuknya Islam ke Nusantara, memang masih belum ada satu kesapakatan diantara para sejarahwan. Di buku Prof. Aboebakar Aceh yang berjudul, “Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia”, Saiyid Abdul Aziz menjadi raja Perlak para tahun 420 H/1028 M.

Adapun narasi sejarah dan referensi yang disampaikan keduanya (baik Prof. A. Hasjmy maupun Prof. Aboebakar Aceh) sangat mirip atau bahkan sama. Hanya bedanya, bila Prof. Hasjmy merujuk pada Kitab Idharul Haqq, karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy, maka Prof. Aboebakar Aceh merujuk pada pendapat Tengku M. Yunus Jamil, yang dikemukakan sebagai prasaran dalam Pekan Kebudayaan Aceh di Kutaraja tahun 1958. Dimana Tengku M. Yunus Jamil juga merujuk pada kitab Kitab Idharul Haqq, karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy, namun dengan beberapa referensi tambahan seperti Tajul Hindi, karangan Bahruri Syahriar, Mamlikil Absar fi Mamalikil Amsar, karangan Fadlullah Al-Umri, Tarikh Salatin Gujarat, karangan Miran Sayid Mahmud bin Munarul Muluk, dan Zubdatut Tawarikh, karangan Nurul Hak Al-Makhriqiyal Dahlawy.[2]

Lokasi Kerajaan Perlak

Berikut ini sejarah Kerajaan Islam Perlak dan Raja Islam Pertama di Nusantara menurut Prof. A. Hasjmy, merujuk pada naskah Kitab Idharul Haqq, karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy :[3]

…pada tahun 173 H, Nahkoda Khalifah dengan kira-kira 100 orang anggota Angkatan Dakwahnya telah berlabuh di Bandar Perlak, yang menyamar sebagai “kapal dagang”. Khalifah sendiri yang menjadi “Kapitain” dari “kapal dagang” tersebut, sehingga dalam Kitab Idharul Haqq Fi Mamlakah Ferlak karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy, dia sebut “Nahkoda Khalifah” (Nahkoda artinya kapitan kapal). Anggota Dakwahnya berjumlah 100 orang itu, terdiri dari orang-orang Arab, Persia dan Hindi.

Idharul Haqq mencatat bahwa Nahkoda Khalifah amat bijaksana, sehingga dengan hikmah kebijakasaannya, dalam waktu kurang dari setengah abad, Meurah (Raja) dan seluruh rakyat Kemeurahan Perlak yang beragama Budha/Hindu dan Perbegu, dengan sukarela masuk agama Islam. Selama proses Peng-Islaman yang tidak begitu lama itu, para Anggota Dakwah Nahkoda Khalifah telah mengawini dara-dara Perlak, dan salah seorang anggota angkatan dari Arab suku Quraisy mengawini Putri Istana Kemeurahan Perlak, sehingga perkawinan itu lahirlah putra campuran pertama, yang diberi nama Saiyid Abdul Aziz.

Idharul Haqq mencatat selanjutnya bahwa pada tanggal 1 Muharam 225 H. Kerajaan Islam Perlak diploklamirkan berdiri, Saiyid Abdul Aziz, putra campuran Arab-Perlak dilantik menjadi Raja pertama dengan gelar Sulthan Maulana Abdul Aziz Syah”.

Dengan narasi yang cukup mirip, Prof, Aboebakar Aceh mengutip Tengku M. Yunus Jamil tentang babak sejarah yang dimaksud, namun dengan tahun yang terpaut sekitar 2 abad. Tapi menariknya, urutan tahun  dan peritiwa yang ditulis oleh Tengku M. Yunus Jamil memiliki sambungan yang pararel dengan babak sejarah nusantara selanjutnya, yaitu jatuhnya Sriwijaya dan berdirinya Majapahit. Berikut ini menurut Tengku M. Yunus Jamil :[4]

Dalam tahun 420 H. = 1028 M. sebuah kapal orang Gujarat telah datang lagi ke Perlak, di utara Sumatera, yang ditumpangi oleh saudagar-saudagar Arab dan India : yang dijumpai di Perlak seorang Mohrat (Meurah), yaitu Maharja. Salah seorang Arab dari turunan Quraisy. Suku Sayid telah dapat kawin dengan seorang puteri Perlak sampai memperoleh anak dan turunannya di situ. Kira-kira 50 tahun kemudian dari itu, terdirilah Sultanat Perlak pada tahun kurang lebih 470 H. = 1078 M, yaitu :

  1. Sultan Alaiddin Syah (520 — 544 H. = 1161 — 1186 M.) Namanya Sayid Abdul Aziz, kaum Syiah, ibunya seorang Puteri dari Meurah/Raja Perlak.
  2. Sultan Alaiddin Abdurrahim Syah ibnu Sayid Abdul Aziz (544 – 568 H. = 1185 — 1201 M.)
  3. Sultan Alaiddin Sayid Abbas Syah ibnu Sayid Abdurrahim Syah (568 — 594 H. = 1210 — 1236 M.).
  4. Sultan Alaiddin Mughayat Syah (594 — 597 H. = 1236 — 1239 M.), 2 tahun takhta kerajaan terluang karena perebutan kekuasaan dengan dinasti Meurah, kemudian baru ia menang dan dapat dinobatkan kembali.
  5. Sultan Mahdum Alaiddin Abdul Kadir Syah, namanya orang Kaya Meurah Abdul Kadir (597 — 641 H. = 1239 – 1243 M.). Sultan ini dari dinasti Meurah Perlak asli yang telah 6 bulan merebut kekuasaan dari dinasti Abdul Aziz, dan dalam 6 bulan itu kerajaan tiada bersultan.Sesudah pemerintah menyusun regim pemerintahan baru dengan mengadakan majelis kerajaan yang dipimpin oleh seorang Mufti Besar, mengadakan perbendaharaan dan Baitilmal dan mengadakan Jawatan Qadhi Besar.
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Muhammad Amin Syah bin Malik Abdul Kadir (641 — 665 H. = 1243 — 1267 M.). Seorang Alim, sebelum ia dinobatkan membuka sekolah perguruan tinggi di Bayeuen (Aramiyah/Cotkala). Sultan ini meluaskan kerajaan sampai ke batas Kuala Jambu-Air. Mengangkat Mangkubumi kerajaan Perlak Tun Perpatih Pandak dan mengangkat pahlawannya yang kuat bernama Benderang dan pada masa itu dibuka pelabuhan Basma negeri baru, antara Kuala Perlak dengan Kuala Jambu Air. Mengawinkan anaknya :
    • Puteri Gangang Sari dengan Sultan Malikus Saleh Pase, dan
    • Puteri Ratna Jemala/Kemala dengan Raja Iskandar Syah dari Singapura/Tumasik.
  7. Sultan Makhdum Abdul Malik Syah bin Muhammad Amin Syah (665 — 674 H. = 1267 — 1275 M.). Dalam masa pemerintahannya terjadi huru-hara perebutan kekuasaan kembali dengan dinasti Sayid Aziziyah, pergolakan ini memakan beberapa tahun lamanya dan Sultanat kosong, akhirnya kerajaan ini pecah menjadi dua :
    • Kerajaan Perlak Baroh/Selatan yang berkedudukan di Bandar lama (Bandar Kafilah) Aloee Meuih. Rajanya dinobatkan pada 3 Muharram tahun 678 H. = 1280 M., gelarnya Sultan Alaiddin Mahmud Syah. Pemerintahannya tidak lama, baginda mangkat pada bulan Zulhijjah tahun 691 H. = 1292 M.
    • Perlak Tunong/Utara yang berkedudukan di Biang Perak/ Kroeeng Tuan (Lubok Sigenap) merajakan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah. 678 — 695 H. = 1280 — 1296 M.). Setelah Sultan ini mangkat kerajaan menjadi satu kembali, yang dikendalikan oleh Sultan Alaiddin Malik Ibrahim Syah.

Dikhabarkan selanjutnya bahwa Sriwijaya menyerang Perlak dalam tahun 670 H. atau 1271 M. Sultan Alaiddin Mahmud Syàh meninggal dunia pada hari Ahad akhir bulan Zulhijjah tahun 691 H. = 1276 M. Pimpinan kerajaan dipegang oleh Sultan Makhdum Malik Ibrahim, dan perang diteruskan. Pada tahun 673 H. = 1275 M. tentara Sriwijaya atas serangan Perlak meninggalkan kerajaan Malik Ibrahim itu dan menghadapi serangan Kertanegara. Dalam pemerintahan Makhdum Malik Ibrahim antara 678 = 695 H. = 1280 — 1296 M. Perlak mengalami kemakmuran dan keamanan.

Bersambung ke:

Tentang Raja Islam Pertama di Nusantara (2)

Catatan kaki:

[1] Terdapat 2 naskah kuno berbahasa Melayu yang Prof. A. Hasjmy pedomani, terkait dengan riwayat Raja Islam pertama di Nusantara ini, yaitu : 1) Kitab Idharul Haqq, karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy; 2) Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sulthan As Salathin, karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al Asyi, yang disalin kembali oleh Said Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin dalam tahun 1275H. atas titah Sulthan Alaidin Mansur Syah. Lihat, Prof. A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 144.

[2] Prof. Dr H. Aboebokar Aceh, Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia, Solo, CV. Ramdhani, 1971, Hal. 25

[3] Prof. A. Hasjmy, Op Cit, Hal. 146-147.

[4] Prof. Dr H. Aboebokar Aceh, Op Cit, Hal. 23-24

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*