The British East India Company (3):  Titik Balik Sejarah Timur Tengah

in Sejarah

Setelah berhasil menguasai Teluk Aden pada paruh pertama abad ke 19, Inggris tidak pernah bisa beranjak dari tempat itu. Dan bagi Timur Tengah inilah momentum yang akan mengubah wajah kawasan itu hingga sekarang.”

—Ο—

 

Setelah mengamankan jalur Mesir dan Suez dari ancaman Napoleon tahun 1801, pada tahun 1819 Inggris segera merapihkan sisanya, yaitu para perompak dari Afrika dan Timur Tengah yang berada di sepanjang jalur pelayaran BEIC di Samudera Hindia hingga sampai memasuki Teluk Aden. Meski tampak kecil, tapi masalah ini cukup krusial waktu itu, sebab di tempat ini, kapal-kapal BEIC harus berhenti, mengisi ulang bahan bakar (batu bara) dan berbagai keperluan lainnya. [1]

Teluk Aden adalah pelabuhan alami yang luas. Jaraknya hanya 100 mil dari Laut Merah. Selama lebih dari 1000 tahun, wilayah ini memang sudah menjadi lokasi penting dalam konstalasi pelayaran di Samudera Hindia. Semua pelayaran yang berasal dari Afrika Timur, India, hingga Timur Jauh (termasuk Nusantara), akan membuang sauh di pelabuhan ini, dan memeriksa kelengkapannya. Pada era kapal layar, tempat ini menjadi titik berkumpulnya para pelaut yang akan berangkat ke Timur jauh. Mereka menunggu datangnya angin muson barat yang hanya berlangsung selama 4 bulan dalam setahun dan berhembus dari barat ke Timur. [2]

Pada awalnya, BEIC bersedia menyewa wilayah ini pada penguasa setempat yaitu kesultanan Muslim Lahej. Bila dibanding dengan kekuasaan Ottoman dan Persia masa itu, Lahej lebih tepat disebut sebagai klan kesukuan, bukan sebuah imperium. Meski begitu, di wilayah Aden, mereka adalah penguasa yang independen dan berdaulat. Persoalan kemudian muncul ketika anak laki-laki sultan Lahej menentang perjanjian kerjasama antara ayahnya dengan BEIC. Ia kemudian mengekpresikan sikap pembangkangannya dengan mengkandaskan salah satu kapal BEIC yang melintas di Teluk Aden. Barang-barang yang semula akan dibawa ke Inggris dijarah oleh penduduk setempat, dan bagi BEIC, ini cukup sebagai alasan mengambil alih Teluk Aden sepenuhnya.[3]

Di Inggris sendiri, pada 20 Juni 1837, Ratu Victoria naik tahta di usianya yang masih 18 tahun. Sebelum masa pemerintahannya, Inggris secara resmi belum memiliki koloni. Kerajaan hanya melakukan perjanjian kerjasama dengan banyak bangsa di dunia, dan mengamankan jalur-jalur perdagangan perusahaan swasta Inggris. Perusahaan-perusahaan swasta iniah yang menjadi aktor perdagangan itu, salah satunya untuk kawasan India adalah BEIC. Tapi semua kemudian berubah setelah apa yang dilakukan oleh putra raja Lahej terhadap barang-barang dagangan Inggris.  Sebagaimana sudah diceritakan sebelumnya, BEIC bukan hanya perusahaan biasa bagi kerajaan Inggris, tapi lebih dari itu, ini adalah objek ekonomi yang vital. Ditambah lagi, BEIC pada saat itu sudah meraup pinjaman (mega-bailout) dari kerajaan, sehingga apapun permasalahan terkait dengan perusahaan ini, akan selalu terkait dengan kepentingan nasional Inggris.[4]

Hanya dua tahun setelah Ratu Victoria naik tahta, atau 16 Januari 1839, di bawah komando Kapten Stafford Bettesworth Haines tiga kapal BEIC mencapai Teluk Aden. Mereka didampingi dua kapal Angkatan Laut Kerajaan, dengan 700 infanteri tentara Inggris dan Marinir Kerajaan di belakangnya. Hanya dalam waktu singkat, pasukan Lahej yang begitu kecil dan tidak terlatih baik dapat dijinakkan. Sekitar 165 orang prajurit kerajaan Lahej tewas dalam serangan ini. Meskipun kisah ini terdengar sederhana, dan Teluk Aden juga bukan satu wilayah yang sangat urgen untuk direbutkan pada masa itu, hanya seluas 120 Km2. Namun sejarah mencatat, bahwa inilah okupasi pertama bangsa Inggris di Timur Tengah setelah berabad-abad menjalin kerjasama dan perdagangan dengan masyarakat di sana.

Setelah ditaklukkan, kerajaan kemudian menunjuk Kapten Haines, sang penakluk Aden, sebagai gubernur di wilayah itu. Tantangan pertama yang dihadapinya adalah serangan-serangan griliya dari suku-suku sekitar terhadap kekuasaannya. Meski berkali-kali dapat dipatahkan, tapi serangan-serangan ini berlangsung terus selama bertahun-tahun dan mulai mengganggu ketertiban di Teluk Aden. Akhirnya, untuk menyelesaikan masalah ini Kapten Haines bersedia membayar uang keamanan kepada suku-suku ini sebesar 6.000 riyal pertahun. Setelah menyelesaikan urusannya dengan suku-suku sekitar, Kapten Haines mulai fokus membangun wilayah kekuasaannya.

Jabatan yang diemban oleh Kapten Haines di wilayah ini sebenarnya sangat dilematis. Secara ekonomi, ia adalah perpanjangan tangan dari BEIC, namun secara politik ia adalah perpanjangan dari Kerajaan Inggris. Berada di dua kutub kekuatan ini, bukan hal mudah bagi Haines. Selain bertanggung jawab meneggakkan hukum dan ketertiban di wilayah ini, ia juga bertanggung jawab atas pemeliharaan semua catatan resmi, termasuk rekening perusahaan, dan situasi pertahanan koloni. Tugas pertamanya adalah membangun pertahanan pelabuhan sebelum melembagakan sebuah program pembangunan yang lebih umum. Dalam hal pembangunan dan pengelolaan kota, Haines memang sukses. Ia membuat wilayah Teluk Aden yang semula hanya sebuah perkampungan kecil di sudut Timur Tengah, menjadi wilayah strategis yang ramai. Sejak dikelolanya pada tahun 1839, Teluk Aden menjelma menjadi kota yang ramai. Dari sebelumnya hanya dihuni oleh sekitar 600 kepala keluarga, di tahun 1854 populasi penduduk Aden meningkat hingga 42 kali lipat.[5]

Tapi seiring dengan keberhasilan itu, biaya mengelolaan semakin banyak dibutuhkan, sayangnya hal ini tidak diperhatikan oleh BEIC selaku pemasok dana. Akibatnya, Kapten Haines semakin kuwalahan mengamankan wilayahnya, dan neraca keuangan semakin tidak menentu. Melihat gelagat tidak normal di kawasan ini, kerajaan Inggris mengutus auditornya untuk memeriksa catatan keuangan BEIC di Teluk Aden pada Februari 1854. Dari temuan Auditor, terjadi defisit sebesar 28.000 pound selama 1,5 tahun. Dan Haines yang disalahkan atas semua masalah ini. Ia kemudian dibawa ke Bombay untuk diadili dan ditahan disana. Meski begitu, peran Haines dan segenap kesuksesannya membangun Teluk Aden sehingga menjadi salah satu pelabuhan Internasional yang berharga bagi Inggris, tidak bisa dinegasikan begitu saja.[6]

Atas jasanyalah, Teluk Aden bertransformasi menjadi lokasi ideal untuk dijadikan basis kekuatan angkatan laut Inggris di kawasan Asia, khususnya Timur Tengah dan Afrika. Dari tempat inilah kemudian Inggris menggelar berbagai operasi anti-perompakan ke berbagai wilayah di Samudera Hindia hingga ke ujung Afrika. Operasi yang digelar ini sukses menegakkan supremasi Inggris di kawasan ini, yang berujung pada sebuah Perjanjian Umum Perdamaian dengan sembilan syekh Arab di daerah Teluk, serta pemberian izin untuk membangun garnisun tetap dan kekuatan angkatan laut di wilayah tersebut. Kampanye militer ini menandai dimulainya kehadiran abadi Inggris di Kawasan Teluk.[7]

Selanjutnya, sebagaimana sejarah sudah mencatat, hanya kurang dari satu abad setelah Kapten Haines berhasil mendarat di Teluk Aden, Inggris sudah memiliki kendali atas Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, Jordan, Mesir, Sudan, dan tentu saja Palestina, yang nanti akan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai negara Israel. Adapun BEIC, pada tahun 1857, pemerintah Inggris menutup usaha dagang yang sudah berusia lebih dari 2,5 abad sejak mendapat mandat dari Ratu pada tahun 1600. MNC terbesar pada masanya ini, akhirnya tumbang dan dinasionalisasi oleh kerajaan Inggris, berikut semua asset dan wilayah kekuasaannya. Dari warisan BEIC inilah dimulainya pembangunan pondasi kolonialisme bangsa Inggris yang berhasil mengubah wajah Timur Tengah untuk selamanya.  (AL)

Selesai

Sebelumnya:

The British East India Company (2): Meraba Rute Perdagangan  

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://www.britishempire.co.uk/maproom/mideast.htm, diakses 23 November 2017

[2] Tentang situasi pelayaran maritime di kawasan Samudera Hindia pada abad ke 6 Masehi, Lihat, https://ganaislamika.com/tentang-masuknya-islam-ke-nusantara-3/

[3] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 259-260

[4] Lihat, https://www.theguardian.com/world/2015/mar/04/east-india-company-original-corporate-raiders, diakses 24 November 2017

[5] Lihat, Eamonn Gearon, Op Cit

[6] Ibid, Hal. 261

[7] Lihat, https://www.theguardian.com/world/2015/mar/04/east-india-company-original-corporate-raiders, Op Cit