The British East India Company (2): Meraba Rute Perdagangan  

in Sejarah

Setelah BEIC melejit pamornya, dan India pun menempati urutan tertinggi dari skala prioritas Kerajaan Inggris. Masalah kemudian muncul. Bagaimana mencari dan mengamankan rute perdagangan, agar asset kerajaan yang berjarak ribuan kilometer ini tetap aman?

—Ο—

 

Kisah bermula ketika pada tahun 1800-an teknologi kapal layar digantikan oleh kapal uap yang berbahan bakar batu bara. Pada waktu itu, BEIC sudah menguasai perdagangan di kawasan Asia Timur, hingga India dan Asia Selatan. Dalam perjalanan kapal-kapal ini ke Inggris, jalur pelayaran yang dilalui meliputi Samudera Hindia hingga ke Teluk Aden, berlanjut ke Pelabuhan Suez. Pada saat itu Terusan Suez belum dibangun. Sehingga barang-barang dari Pelabuhan Suez kemudian dibongkar untuk selanjutnya diangkut melalui jalan darat hingga ke laut Mediterania. Dari sini, kemudian barang-barang tersebut dibawa ke Inggris dengan menggunakan kapal kembali.

Berbeda dengan kapal layar yang menggunakan tenaga alami, kapal uap menuntut pengisian ulang bahan bakar. Jarak antara Bombay ke Pelabuhan Suez sekitar 7.400 mil, dan dibutuhkan sekitar 700 ton batu bara untuk bisa sampai ke Pelabuhan Suez. Sedang kapasitas daya tampung bahan bakar kapal uap pada masa itu belum memadai. Sehingga dibutuhkan satu tempat pemberhentian yang strategis untuk mengisi bahan bakar ini. Diantara sekian banyak tempat di jalur pelayaran ini, Teluk Aden adalah salah satu yang paling strategis.[1]

Sebelum lebih jauh membahas Teluk Aden, sedikit kita gambarkan situasi dinamika politik di kawasan Timur Tengah sebelum tahun 1800. Keberhasilan BEIC di India jelas telah menjadikan tempat ini sebagai “rumah” kerajaan Inggris yang kedua. Para elit kerajaan, hingga Ratu pun ikut memikirkan wilayah ini secara serius. Persoalannya kemudian, bagaimana mengamankan asset yang jaraknya ribuan kilometer dari pusat kekuasaan di Inggris? Maka salah satu jawabannya, adalah dengan cara meringkas rute perjalanan dan mengamankannya dari semua gangguan.

Terkait hal ini, jalur konvensional yang dikenali masyarakat Eropa menuju ke wilayah Timur adalah jalur laut, dari Inggris kapal akan menyisiri tepi barat benua Eropa dan Afrika, hingga ke Afrika selatan, lalu naik ke Samudera Hindia, dan berakhir di India. Tapi persoalannya, jalur ini begitu jauh dan memakan waktu sangat lama. Disamping itu, jalur ini sudah terlebih dahulu di kuasai oleh Portugis dan Spanyol yang merupakan perintis penjelajahan bangsa Eropa.[2] Adapun alternative lain adalah, dari Inggris kapal masuk ke Selat Gibraltar, lalu masuk ke laut Mediterania, hingga ke Timur.

Jalur perdagangan dan ekonomi di Laut Mediterania pada abad ke 15. Sumber gambar: diercke.com

Dari titik ini, kemudian pilihan jalur terbagi dua lagi. Pertama, dari laut Mediterania timur, transportasi akan dilanjutkan dengan jalur darat di pelabuhan Syiria, kemudian melewati gurun Syiria, menyusuri Sungai Efrat, dan memasuki Teluk Persia, sampai ke Samudera Hindia (Jalur Syiria). Namun jalur ini sangat melelahkan dan tidak efektif untuk mengangkut barang-barang yang besar dan banyak. Ditambah lagi, sejak pecahnya perang antara Ottoman dengan kekaisaran Persia pada tahun 1730, situasi keamanan di jalur ini semakin tidak menentu.

Adapun rute kedua, dari laut Mediterania, transportasi sementara akan menggunakan jalur darat melintasi tanah genting Suez hingga ke Laut Merah, dari Suez, barang-barang kembali diangkut oleh kapal lalu berlayar hingga ke Samudera Hindia (Jalur Suez). Jauh sebelum BEIC di Bailout oleh pemerintah Inggris, jalur Suez sudah manjadi favorit BEIC untuk mengangkut barang-barangnya. Dibandingkan jalur darat, jalur Suez relatif lebih aman. Tidak ada kekuatan yang begitu dominan di jalur ini, sehingga hanya dengan berbekal beberapa tentara bayaran, barang-barang dari India sudah bisa mencapai Inggris. Di jalur perdagangan ini hanya ada gangguan berupa perompak yang dimotori oleh penguasa-penguasa kecil setempat. Kelak setelah Inggris menyelesaikan urusannya dengan Perancis di Suez, masalah ini segera disapu bersih.

 

Jalur atau rute perdagangan Inggris ke India dan Timur jauh pada abad 18. Sumber gambar: www.cambridge.org

Apa yang dicatat oleh sejarah tentang sejarah kolonialisme di Timur Tengah tidak pernah lepas konteksnya dari kedua masalah jalur transportasi ini. Adapun sejak pamor BEIC mulai menanjak, jalur selatan yang memutari benua Afrika sudah tidak lagi menjadi pilihan bagi kerajaan Inggris. Yang tersisa tinggal jalur Laut Mediterania. Persoalannya, pada saat meningkatnya nilai strategis India bagi kerajaan Inggris, situasi politik kawasan di sekitar jalur transportasi ini sedang mengalami tantangan yang serius. Di jalur Syiria, tantangan muncul dari Rusia yang sedang cukup progresif memperluas areal kekuasaannya, hingga ke Persia. Sedang di jalur Suez, ada Napoleon yang juga memiliki ambisi yang sama dengan Rusia dan berhasil menguasai Mesir pada 1798.

 

Ekspansi Rusia dan peta kekuatan di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya pada awal abad ke-19 hingga paruh pertama abad 20. Sumber gambar: http://www.britishempire.co.uk

Disisi lain, kekuatan dunia Islam juga pada saat itu terbagi dua. Di jalur darat terdapat Ottoman yang menguasai Syiria, dan Persia yang menguasai Teluk Persia. Kedua-keduanya sedang mengalami ancaman dari Rusia dan Perancis. Inggris dengan piawai memanfaatkan ini. Kepada dua kerajaan ini, Inggirs membuat perjanjian atau pakta pertahanan. [3]   Sedang untuk wilayah Suez, tempat ini dikuasi oleh Ottoman, dan tentu saja Mesir yang pada masa itu agak terbengkalai pengelolaannya oleh Ottoman. Sebagaimana wilayah darat, di wilayah Suez juga Inggris membuat Pakta dengan Ottoman untuk menghadapi ancaman Nepoleon. Dan pada tahun 1801 pasukan gabungan ini berhasil memukul mundul kekuatan Napoleon di Mesir dan membuatnya angkat kaki dari wilayah itu. Setelah kekuatan Perancis menghilang, Ottoman mengutus Muhammad Ali Pasha sebagai gubernur untuk menjaga wilayah tersebut.[4] (AL)

Bersambung

Sebelumnya:

The British East India Company (1); Kuda Troya Kapitalisme Pertama Bangsa Eropa

Catatan kaki:

[1] Lihat, Eamonn Gearon, Turning Points in Middle Eastern History; Course Guidebook, United States of America, The Teaching Company, 2016, Hal. 261

[2] Lihat, http://www.britishempire.co.uk/maproom/mideast.htm, diakses 25 November 2017

[3] Tedapat setidaknya tiga kebijakan Kerajaan Inggris di Jalur Syria; 1) menjaga akses perdagangan di rute Mediterania Timur. 2) menjaga stabilitas di Iran dan Teluk Persia. 3) menjamin integritas wilayah Ottoman. Lihat, http://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/british-colonialism-middle-east, diakses 26 November 2017

[4] Terkait cerita lengkap tentang kondisi yang terjadi di Jalur Syiria dan Suez ini, selengkapnya dapat dilihat di http://www.britishempire.co.uk/maproom/mideast.htm