Titik Balik Sejarah Islam Modern (5): Berdirinya Negara Arab Saudi

in Negara Islam

Sejarah Arab Saudi modern dimulai pada tahun 1902 ketika Abdul Aziz Al-Sa’ud bersama sekelompok pengikutnya merebut kota Riyadh, dan mengembalikannya ke dalam kendali keluarga Saud. Di tangannya-lah visi perjanjian antara Muhammad ibn Saud dengan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab pada dua abad sebelumnya menjadi kenyataan.”

—Ο—

 

Abdul Aziz al Sa’ud adalah putra dari Abdurrahman, pemimpin terakhir dinasti Saud II. Ia lahir pada 1880 di Riyadh, ketika gejolak perang saudara sedang mengguncang dinasti keluarganya. Ia menyaksikan bagaimana paman-paman dan ayahnya berebut tahta yang akhirnya menyebabkan kehancuran seluruh imperium itu. Pada waktu dinasti Saud II runtuh, dikalahkan oleh klan Rashidi, dia ikut melarikan diri bersama ayahnya ke Kuwait. Tidak pasti apa yang dipersiapkannya di Kuwait. Namun sejarah mencatat kisah heroik Abdul Aziz bersama 40 pengikutnya menaklukkan Riyadh.

Pada bulan Desember 1901, Abdul Aziz yang pada waktu itu masih berusia 21-22 tahun, berangkat meninggakan Kuwait menuju Riyadh bersama 40 orang pilihannya. Pada tanggal 15 Januari 1902 ia bersama pengikutnya berhasil menaklukkan benteng Masmak,[1] yang merupakan jantung kekuasaan klan Rashidi di Riyadh. Setelah ia berhasil menaklukkan benteng ini, praktis ia menjadi penguasa Riyadh. Menariknya, kedatangannya disambut suka cita oleh para penduduk laksana seorang pahlawan.[2] Dari titik inilah kemudian sejarah Negara Arab Saudi modern dimulai. Kisah heroik Abdul Aziz masih menjadi legenda yang dikisahkan berulang-ulang sampai hari ini. Empat puluh orang, menaklukkan benteng terkuat di jazirah Arab pada masa itu, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Abdul Aziz dan keturunannya.[3]

Tapi terlepas dari kisah heroik Abdul Aziz yang terkadang juga bercampur mitos dan sebagainya, ia memang memiliki kecakapan memimpin yang mumpuni. Penaklukan benteng Mismak hanyalah awal. Tantangan sebenarnya datang 2 tahun setelah itu, ketika tentara gabungan Ottoman dan dinasti Rashid datang untuk membalas atas kekalahan di Riyadh. Pada tahun 1904 Abdul Aziz berhasil mengalahkan pasukan gabungan ini, dan berhasil membunuh Muhammad ibn Rashid pada tahun 1906. Dengan hasil kemenangan ini, praktis Abdul Aziz menjadi penguasa satu-satunya di wilayah Arabia Tengah.

Tapi berbeda dengan pada pendahulunya, Abdul Aziz memiliki kecakapan yang baik dalam politik. Secara sangat hati-hati ia menyeimbangkan hubungan antar kekuatan di kawasan. Ia tetap mengakui kekuasaan Ottoman dan tidak melakukan tindakan yang bisa menarik perhatian dinasti Ottoman. Sedang disisi lain, ia juga melakukan kontak dengan Inggris yang pada saat itu sudah menguasai semenanjung Arabia, Terusan Suez dan wilayah sekitarnya.

Peta kawasan Arab pada tahun 1900 M, . Gambar: gifex.com

 

Sementara ia menyibukkan diri dengan kegiatan mereorganisasi pemerintahannya, ia juga menyiapkan secara apik kekuatan militernya. Pada tahun 1912, ia berhasil mendirikan untuk pertama kalinya koloni persaudaraan (Ikhwan) di wilayah gurun Al-Arṭāwiyyah, yang dihuni oleh orang-orang badui. Pada koloni ini ia memasukkan doktrin wahabisme leluhurnya, sehingga melahirkan kekuatan yang militan atas nama pemurnian agama Islam. Hanya berselang satu dekade, sekitar 100 koloni serupa tumbuh bak cendawan di musim hujan di seantero daratan Arabia. Keberadaan koloni inilah yang menjadi elemen utama kekuatan Abdul Aziz.[4]

Sambil secara bertahap menggandakan kekuatannya, dan merapihkan pemerintahannya, Abdul Aziz secara perlahan mulai melakukan ekspansi perluasan wilayah. Penaklukan terbesar pertamanya terjadi pada tahun 1913 ke Al Hasa, yang pada masa itu diduduki oleh Ottoman. Penaklukan ini berhasil, meski pada 1914 Abdul Aziz dipaksa kembali mengakui kedaulatan wilayah Ottoman di kawasan Arabia.

Pada masa Perang Dunia I (1914-1918), Abdul Aziz mendekat ke Inggris, dan pilihannya tepat pada waktu itu. Ia mendapat perlindungan dan subsidi dari kerajaan Inggris. Pada tahun 1919, atau setelah Perang Dunia I, dia melancarkan serangan ke Ḥusayn ibn’Alī penguasa Hijaz, yang juga penguasa dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Di tahun 1920, putra Abdul Aziz yang bernama Faisal, berhasil merebut wilayah Asir yang berbatasan dengan Yaman. Dan tahun 1921, Abdul Aziz telah berhasil menguasai seluruh wilayah Arab Utara, dan untuk pertama kalinya menyatakan diri sebagai Sultan wilayah Najd.[5]

Tapi ekspedisi militer belum selesai. Masih ada Ḥusayn ibn’Alī yang menguasai dua kota suci yang belum tuntas ditaklukkan. Inggris yang merasakan konflik antara Abdul Aziz dengan Ḥusayn ibn ‘Alī bisa membahayakan stabilitas perdagangannya di kawasan Arabia, khususnya Kuwait, membuat panitia arbritase tahun 1923, untuk mendamaikan keduanya. Namun pertemuan ini tidak menghasilkan apapun, selain memperuncing persoalan yang ada.

Pada tahun 1924, akhirnya serangan puncak pun dilakukan kepada penguasa dua kota suci, Ḥusayn ibn ‘Alī, dan  baru setahun kemudian ia berhasil menguasai Mekkah, Madinah, dan Jeddah dan menjadi menguasa tunggal wilayah tersebut. Setahun setelah itu, atau 8 Januari 1926, Abdul Aziz memproklamirkan dirinya sebagai Sultan wilayah Hijaz, di Masjidil Haram, Mekkah. Sejak pengakuannya sebagai Sultan wilayah Hijaz, tidak sedikit tantangan yang dihadapinya, mulai dari pemberontakan, hingga dinamika politik kawasan. Setelah 6 tahun berselang, barulah pada 23 September 1932, ia memproklamirkan kemerdekaan seluruh wilayah kekuasaannya di tanah Arab sebagai negara yang merdeka dengan ia sendiri sebagai rajanya. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal negara Saudi Arabia, dengan kerajaannya yang masih diwarisi secara turun temurun oleh anak keturunan Abdul Aziz hingga sekarang.

Abdul Aziz sendiri wafat pada 9 November 1953, tapi ia telah berhasil menyempurnakan mimpi-mimpi pendahulunya, dan meninggalkan warisan yang begitu besar bagi anak cucunya. Nyaris tidak ada pencapaian yang lebih jauh yang bisa dicapai oleh pendahulunya, dan tidak juga ada perubahan yang cukup mendasar yang bisa dilakukan oleh anak cucunya terhadap warisannya. Saudi Arabia yang kita lihat dari ini, tidak jauh berbeda dengan Saudi Arabia pada tahun 1953 lalu.

Abdul Aziz Al Saud. Gambar: sothebys.com

 

Setelah dua abad sejak pakta perjanjian antara Muhammad ibn Saud dengan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dilaksanakan, baru di tangan Abdul Aziz-lah visi tersebut menjadi kenyataan. Dalam hal peribadatan, dialah yang mengambil alih seluruh pengelolaan ibadah haji, dan mendaku dirinya sebagai penjaga dua rumah suci (khadamul haramain). Ia bersihkan situs-situs yang dianggap sebagai biang kemunkaran, seperti makam-makam para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad SAW. Demikian juga dengan rumah Khadijah, yang dikatakan sebagai tempat turunnya sebagian besar surat-surat Makiyyah, tak luput dari penertiban yang dilakukannya.

Abdul Aziz juga yang memodernisasi Arab Saudi dan berkerjasama dengan negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS dalam hal ekonomi dan perdagangan. Dia juga yang menggandeng AS untuk melakukan kerjasama pengeboran minyak di tahun 1933, dan mendirikan apa yang kita kenal sekarang Arabian American Oil Company (ARAMCO).[6] Hingga hari ini, hubungan antara keturunan Abdul Aziz dengan AS tetap baik, dan saling menguntungkan. Kedekatannya dengan AS dan Inggris telah mendudukkan sebagai salah satu negara penting dalam perserikatan bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 1945. Adapun di kawasan, Saudi Arabia juga menjadi penggagas lahirnya liga Arab, dan menjadikannya sebagai salah satu kekuatan yang disegani di kawasan ini. Semua perangkat ini, adalah fundamen yang sangat kokoh guna menopang keberlangsungan dinasti kerajaan Saudi yang tidak pernah dicapai sebelumnya oleh para pendahulunya. (AL)

Selesai

Sebelumnya:

Titik Balik Sejarah Islam Modern (4); Runtuhnya Dinasti Saud II

Catatan kaki:

[1] Lihat, https://en.wikipedia.org/wiki/Masmak_fort, diakses 25 November 2017

[2] Lihat, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Death-of-Faysal, diakses 23 November 2017

[3] Lihat, http://www.saudiembassy.or.jp/En/SA/History.htm, diakses 25 November 2017

[4] Lihat, https://www.britannica.com/place/Saudi-Arabia/Death-of-Faysal, Op Cit

[5] Lihat, http://www.bbc.com/news/world-middle-east-14703523, diakses 25 November 2017

[6] Lihat, Philip K. Hitti, History of Arab, London, Macmillan, 1970, Hal. 740-741