Mozaik Peradaban Islam

Yavuz Sultan Selim (1): Sang Khalifah Ustmaniyah

in Tokoh

“Di bawah Selim, Dinasti Ustmaniyah telah meningkat menuju level baru. Secara tidak terbantahkan Selim telah menjadi khalifah baru di dunia Muslim. Namun perjalanan Selim menjadi khalifah tidak mudah, dia harus membunuh ayah dan kakaknya sendiri.”

–O–

Lukisan Selim 1, Khalifah Ottoman yang pertama. Photo: Sarah Johnson/Pinterest

Cucu Sultan Ustmaniyah (Ottoman) Mehmed II, yang bernama Selim, naik tahta menjadi sultan. Di kemudian hari dia dikenal dengan nama Selim I, dan oleh keturunannya dia dikenal memiliki julukan Yavuz Sultan Selim. Dari sejak naik tahta menjadi Sultan Ottoman pada tahun 1512 sampai dengan kematiannya pada tahun 1520, Selim berhasil menggandakan ukuran kekaisarannya sampai dengan tiga kali lipat, dan dia juga berhasil menetralisir setiap oposisi signifikan di Timur Tengah.[1]

Kekaisaran Ottoman telah mengalami perjalanan panjang sebagai Kerajaan Islam, namun di bawah kepemimpinan Selim, Ottoman telah meningkat menuju level baru. Secara tidak terbantahkan, Ottoman telah bertransformasi menjadi khalifah di dunia Muslim. Dan Selim sendiri secara resmi menjadi khalifah dari Ottoman yang pertama. Artikel ini akan membahas bagaimana Selim dapat naik ke tampuk kekuasaan, tentang reputasi kekerasannya, dan peninggalannya secara keseluruhan.[2]

 

Perebutan Tahta

Bayezid, ayah Selim, adalah sultan Ottoman ke-8. Tidak seperti ayahnya, Mehmed II, dilihat dari semua sisi, Bayezid adalah seorang yang saleh dan terpelajar. Pada saat berkuasa, Bayezid mengkonsolidasikan kekuasaan Ottoman di Eropa Tengah, dan juga sambil melakukan pertempuran dengan negara-negara di selatan seperti Arab dan Persia pada akhir tahun 1400-an dan awal 1500-an. Dikenal sebagai “Bayezid yang Adil,” dia menjadi terkenal karena menawarkan perlindungan bagi populasi Yahudi yang diusir oleh Ferdinand dan Isabella setelah Granada diambil alih oleh mereka.[3]

Ketika Bayezid berkuasa, dunia Islam terbagi ke dalam tiga kekuatan besar monarki, yaitu Ottoman di Anatolia, Safawi di Persia, dan Mamluk di Mesir. Sementara itu, di dalam tubuh Kesultanan Ottoman, Selim adalah putra termuda Bayezid. Waktu itu Selim mendapatkan tugas untuk menjadi gubernur Trabzon, sebuah provinsi jauh yang berada di pesisir Laut Hitam di sebelah timur laut Turki. Putra Bayezid lainnya, Ahmed – putra tertua — merupakan seorang gubernur di Amasya (utara Turki). Ahmed merupakan putra favorit Bayezid, dan dia memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi sultan selanjutnya.[4]

Selain itu, Ahmed juga diuntungkan dengan menjadi gubernur di Amasya karena jaraknya yang lebih dekat dengan Istanbul, ibu kota Ottoman pada waktu itu. Karena tidak ada aturan khusus yang mengatur persoalan suksesi kepemimpinan, maka dekatnya lokasi pemerintahan dengan ibu kota menjadi faktor yang krusial dalam perebutan tahta. Pangeran yang memerintah dekat dengan ibu kota, biasanya diberi kekuasaan untuk memegang perbendaharaan, dan mendapat dukungan alokasi prajurit yang lebih banyak, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk menjadi sultan baru.[5]

Naiknya pamor Selim berkaitan erat dengan kegagalan ayahnya dalam menangani Kekaisaran Safawi yang secara teratur merambah wilayah Ottoman. Safawi di bawah kepemimpinan Shah Ismail memiliki kebijakan merangkul beberapa suku Turki dan suku nomaden Kurdi di Anatolia Timur untuk berpihak kepadanya, yang mana itu dapat mengancam kedaulatan Ottoman di wilayah tersebut. Pada tahun 1510 terjadi pertempuran, Selim mengalahkan tentara Safawi yang dipimpin oleh saudara laki-laki Shah Ismail, yang mengancam Trabzon, provinsi di mana Selim menjadi gubernur. Selim kecewa ketika sikap tegasnya terhadap Safawi diinterpretasikan oleh ayahnya, Bayezid, sebagai pembangkangan.[6]

Ketika mencapai usia lanjut, Bayezid memutuskan bahwa dia sudah cukup lama memangku jabatan tertinggi, dia mengumumkan rencana untuk pensiun dan menyerahkan kekuasaan kepada Ahmed. Selim marah mendengar berita itu. Selim, dengan didukung oleh Janissari, pasukan elit Ottoman, mendeklarasikan perang terhadap ayahnya sendiri. Selim mengalahkan pasukan ayahnya, yang mana kekuatannya sudah lemah, seolah-olah mencerminkan kondisi ayahnya yang sudah kelelahan dan uzur. Setelahnya, Selim memaksa ayahnya untuk melepaskan tahta dan mengusirnya ke sudut terpencil kekaisaran, tempat di mana dia dilahirkan, Thrace. Selim resmi naik tahta menjadi sultan baru pada 24 April 1512. Tidak lama kemudian Bayezid meninggal. Berdasarkan kisah populer yang beredar, Bayezid diracun oleh dokternya sendiri, seorang Yahudi, yang mendapat perintah dari Selim.[7]

Karena menumpahkan darah bangsawan dianggap melampaui batas, maka Selim menyuruh Ahmed dan seorang saudara laki-laki lainnya — juga lima keponakan — untuk melakukan ritual pencekikan dengan tali sutra sampai mereka mati. Sementara itu, putra Ahmed, Murad, melarikan diri ke Persia. Dia bergabung dengan Dinasti Safawi Persia yang berhaluan Islam Syiah. Di bawah perlindungan Shah Ismail, Murad menetap di Persia sampai dengan akhir hayatnya di kota Kashan.[8]

Selim telah menyingkirkan kemungkinan adanya pertentangan di masa depan terhadap otoritasnya — setidaknya dari dalam keluarganya sendiri. Yavuz bukanlah julukan yang berkonotasi baik sebagaimana biasanya melekat pada raja-raja lainnya. Dalam bahasa Turki Ottoman, Yavuz diterjemahkan secara beragam, namun di antara semua barangkali yang terbaik adalah sebagai “kuat, keras, atau keras kepala.” Sementara itu, oleh orang Barat dia dijuluki dengan julukan yang lebih suram, Selim the Grim (Selim si kejam/bengis).[9]

Berikut ini adalah sebuah kisah yang sering digunakan untuk menggambarkan kerasnya sosok Selim: Seorang wazir senior bertanya dengan nada bercanda kepada Selim, “Tuan, aku berharap jika engkau akan membunuhku, engkau bisa berbaik hati memberiku sedikit peringatan terlebih dahulu agar aku dapat menyelesaikan urusanku.” Selim menjawab, “Aku telah berniat untuk membunuhmu, tetapi aku belum menemukan pengganti yang cocok.” Selama Selim berkuasa, kisah suram tersebut telah direka-reka dan dipopulerkan di antara masyarakat, dan seringkali digunakan untuk mengutuk seseorang: “Semoga engkau menjadi wazir di istana Sultan!”[10] (PH)

Bersambung ke:

Yavuz Sultan Selim (2): Pertempuran dengan Kekaisaran Safawiyah Persia

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 201.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Gábor Ágoston dan Bruce Masters, Encyclopedia of the Ottoman Empire (Facts On File, Inc. : 2009), hlm 511.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Roger Bigelow Merriman, Suleiman The Magnificent 1520-1566, (Harvard University Press: Massachusetts, 1944), hlm 22.

[8] Roger Savory, Iran Under the Safavids (Cambridge University Press: 2007), hlm 40.

[9] Eamon Gearon, Ibid., hlm 202.

[10] Ibid.