Mozaik Peradaban Islam

Yavuz Sultan Selim (2): Pertempuran dengan Kekaisaran Safawiyah Persia

in Tokoh

“Setelah Selim naik tahta, dia melakukan pertempuran dengan Kekaisaran Safawi Persia yang bermadzhab Syiah. Namun beberapa perwira Ottoman tidak menginginkan perang ini, mereka meyakini di antara sesama Muslim dilarang untuk berperang.”

–O–

Lukisan dari abad ke-16 yang menggambarkan tentang Pertempuran Chaldiran. Nama pelukis tidak diketahui.

Pada saat Selim mewarisi kerajaan pada tahun 1512, Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman) belum menjadi kekuatan adi kuasa yang melintasi berbagai benua. Terlepas dari kenyataan bahwa Ottoman sudah didirikan dari sejak tahun 1299, namun ia tetap merupakan kekuatan regional, bukan global. Kepemilikan wilayah utamanya terbatas hanya pada Anatolia dan beberapa bagian di Eropa Timur. Di bawah Selim, semua ini akan berubah, karena dia menerapkan kebijakan ekspansionis yang sangat sukses.[1]

Tantangan serius pertama terhadap rencana Selim yang berniat memperluas wilayah kekuasaannya berasal dari kekuatan imperium lain yang sedang berkembang pesat pada waktu itu: Kekaisaran Safawiyah Persia yang baru berdiri. Orang-orang Safawi tahu dari sejak awal bahwa Ottoman adalah ancaman terhadap ambisi kekaisaran mereka sendiri. Oleh karenanya merekalah yang berinisiatif untuk melakukan serangan terlebih dahulu terhadap kekuatan regional yang lebih tua dan lebih mapan ini.[2]

Pada 10 tahun pertama masa pemerintahan mereka, Safawi melaksanakan kebijakan konversi paksa terhadap seluruh penduduk Muslim Sunni Persia ke Islam Syiah, atau yang lebih dikenal sebagai Madzhab Dua Belas Imam (Syiah Itsna Asyariyyah). Proses konversi ini berjalan dengan baik, sehingga orang-orang Safawi dapat lebih mudah untuk mengisolir para oposisi Sunni yang berpotensi untuk menantang kekuasaan mereka.[3]

Artikel Terkait:

Pada saat yang bersamaan, karena tahu bahwa pada saat itu mereka secara militer belum siap untuk melawan Ottoman, maka ketimbang berhadapan secara langsung, Kekaisaran Safawiyah lebih memilih untuk mendukung pemberontakan kelompok Syiah di wilayah kekuasaan Ottoman. Pemberontakan tersebut terjadi di Anatolia yang kini merupakan bagian Asia dari negara Turki Modern. Namun pemberontakan tersebut berakhir dengan kegagalan.[4]

Ketika Selim naik tahta pada tahun 1512, dia segera bertindak cepat untuk mengatasi ancaman dari Safawiyah dengan respon militer yang kuat pada Pertempuran Chaldiran — di timur laut Danau Van, di Anatolia timur. Dalam pertempuran ini Selim membawa bubuk mesiu, dan pasukan artileri dan senapannya yang akan menjadi penentu kemenangan. Sebagian besar referensi mengatakan bahwa jumlah pasukan Ottoman jauh lebih banyak dibandingkan dengan pasukan Safawi, sekitar dua sampai tiga kali lipatnya. Meskipun demikian, walaupun dengan kekurangan ini, pasukan Safawi bertempur dengan sangat baik, bahkan mereka mungkin dapat memenangkan pertempuran apabila Ottoman tidak mengerahkan pasukan artilerinya.[5]

Meriam dan artileri lainnya diarahkan dan mendarat di pasukan kavaleri elit Safawi yang tidak berdaya menahannya. Ismail, Shah Safawi yang ikut dalam pertempuran terluka, namun beruntung dia masih bisa meloloskan diri dan hidupnya terselamatkan.[6] Ismail beserta pasukannya yang masih selamat melarikan diri. Namun istri kesayangan Ismail tertinggal di medan perang dan jatuh ke tangan Ottoman.[7]

Bagi Ottoman, tidak ada yang lebih penting selain kemenangan ini, karena secara krusial mereka telah mengamankan Anatolia Timur dengan permanen. Selain itu, kini Irak Utara juga berada di bawah kendali mereka. Dan, setidaknya untuk sementara, begitu juga Persia barat laut, direnggut dari Safawiyah yang telah kalah telak dan dipermalukan. Dengan kemenangan telak ini, maka ancaman Syiah di wilayah kekuasaan Ottoman berakhir.[8]

 

Perjanjian Damai

Setelah memasuki ibukota Safawi di Tabriz, barat laut Iran hari ini, dengan tanpa perlawanan, pasukan Ottoman justru mulai khawatir akan adanya serangan balik. Merasa jauh dari rumah, mereka memberontak, dan menuntut kepada Selim untuk mundur dari Persia. Selim memang menarik diri. Tetapi sebenarnya jika Selim tetap memaksa pasukannya, dan terus menekan, ada kemungkinan besar bahwa dia dapat mengalahkan Safawi secara permanen.[9]

Selain persoalan khawatir dengan serangan balik, sebelum pertempuran pecah, sebenarnya di dalam tubuh pasukan Ottoman pun terjadi perbedaan pendapat. Beberapa prajurit yang berpangkat tinggi mengeluh, menurut mereka meskipun pasukan Safawi berbeda madzhab, yakni Syiah, namun mereka masih menganggap bahwa mereka masih saudara sesama Muslim. Dan mereka menganggap bahwa berperang dengan sesama Muslim adalah sesuatu yang salah. Janissari, pasukan elit Ottoman yang terkenal dingin, yang tidak pernah menunjukkan sisi emosionalnya, bahkan kali ini sempat meledak amarahnya. Di dekat tenda Selim, sebelum pertempuran dimulai, beberapa dari mereka meletuskan senjatanya karena ekspresi kekecewaan. Beruntung Selim masih bisa meredakannya, dan pertempuran dengan Safawi tetap terjadi.[10]

Sementara Selim mungkin menyesali ketidakmampuannya untuk mengejar pasukan Safawi lebih dalam ke wilayah Persia, dengan peluang untuk memberikan serangan akhir yang mematikan, sebenarnya dia adalah jenis orang yang pragmatis. Dia tahu, bahwa orang-orang Safawi tidak akan pernah menjadi sahabatnya. Tetapi perdamaian yang tidak nyaman dengan pihak musuh jauh lebih mudah untuk dijalani ketimbang mesti melakukan perang panjang yang berkelanjutan, yang sama sekali bukan kebijakan yang populer, yang mana dapat membuat rapuh tahtanya. Hal ini terbukti setelah kematian Selim, di bawah kepemimpinan putranya, Ottoman kembali bertempur melawan Safawi sebanyak tiga kali, dan tidak ada satupun kemenangan yang menentukan bagi kedua belah pihak. Ottoman dan Safawi pada akhirnya menandatangani perjanjian damai pada tahun 1554.[11]

Di bawah perjanjian ini, kedua belah pihak setuju untuk menghentikan serangan ke wilayah masing-masing, dan menyepakati batas-batas teritorial yang telah ada sebelumnya. Ottoman mengembalikan Tabriz ke Safawi, sementara Safawi menyerahkan Baghdad dan Mesopotamia bagian bawah, termasuk mulut sungai Tigris dan Eufrat, dan semua akses penting ke Teluk Persia (perbatasan ini tidak berbeda dengan perbatasan antara Iran dan Irak hari).[12]

Bagaimanapun, Pertempuran Chaldiran adalah salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah Timur Tengah, karena efek jangka panjang dari pertempuran tersebut masih berlaku sampai hari ini.  Ketika perjanjian damai disepakati, perbatasan dan demografi Kekaisaran Safawi dan Kesultanan Ottoman ditentukan, dan batas-batas tersebut telah menciptakan kontur Timur Tengah di era modern.[13] (PH)

Bersambung ke:

Yavuz Sultan Selim (3): Fatwa Religius dalam Peperangan Ustmaniyah

Sebelumnya:

Yavuz Sultan Selim (1): Sang Khalifah Ustmaniyah

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 203.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 203, 198.

[6] Ibid., hlm 198.

[7] Nazeer Ahmed, “The Battle of Chaldiran”, dari laman https://historyofislam.com/contents/the-land-empires-of-asia/the-battle-of-chaldiran/, diakses 16 Juni 2018.

[8] Ibid., hlm 203-204.

[9] Ibid., hlm 204.

[10] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 63.

[11] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[12] Ibid.

[13] Akhilesh Pillalamarri, “This 16th Century Battle Created the Modern Middle East”, dari laman https://thediplomat.com/2014/08/this-16th-century-battle-created-the-modern-middle-east/, diakses 16 Juni 2018.