Yvonne Ridley (1): Jurnalis Inggris yang Masuk Islam

in Mualaf

“Yvonne Ridley adalah wartawan senior Inggris, dalam liputan jurnalistiknya pada tahun 2001 di Afghanistan, dia tertangkap oleh Taliban dan dipenjarakan. Namun dua tahun kemudian, dia malah memutuskan untuk masuk Islam. Publik terheran-heran dengan keputusannya, berikut ini adalah kisahnya.”

–O–

Seorang jurnalis senior dari Inggris, tidak lama setelah penyerangan menara kembar WTC di Amerika Serikat (AS) pada 11 September 2001 (serangan 9/11) ditugaskan untuk berangkat ke Afghanistan, sebuah tempat yang diyakini menjadi tempat persembuyian dalang penyerangan 9/11, Osama bin Laden. Perempuan berusia 43 tahun tersebut bekerja untuk Daily Express,  sebuah harian di Inggris. Dia bernama Yvonne Ridley.[1]

Tiba di Afghanistan, visa Ridley ditolak, dia tidak diizinkan masuk ke negara tersebut. Hasrat jurnalistiknya tidak terbendung, Ridley kemudian memutuskan untuk menerobos perbatasan Afghanistan secara illegal. Sekarang atau tidak untuk selamanya, kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya, pikirnya.[2]

Dengan segala persiapan, dia menerobos masuk ke Afghanistan dengan ditemani dua orang pemandu dari Pakistan. Ridley menyamar dengan mengenakan burqa, sebuah pakaian tradisional wanita Afghanistan yang menutupi seluruh bagian tubuh, termasuk wajah. Dia masuk ke Afghanistan tanpa membawa paspor atau dokumen perjalanan apapun.[3]

Afghanistan pada saat itu dilanda ketegangan, sebab ketika Ridley masuk ke sana itu adalah hari-hari terakhir menjelang pecahnya perang antara pasukan koalisi AS dengan Taliban, penguasa Afghanistan. Terlebih pada waktu itu Taliban melarang jurnalis barat mana pun untuk meliput di Afghanistan.[4]

 

Tertangkap

Selama dua hari penuh Ridley melakukan tugas jurnalistiknya, mencari sebuah berita. Sejauh itu dia berhasil, hingga di malam terakhir sebelum dia pulang, Ridley yang dalam kesehariannya memang penggemar minuman keras,[5] malam itu dia mabuk-mabukan. Keesokan harinya, masih dalam kondisi teler, dia mengenakan kembali burqa-nya untuk kembali ke Pakistan.[6]

Sekitar dua puluh menit menuju perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, Ridley hendak menaiki keledai. Ketika naik, roknya terangkat, Ridley sibuk dengan segala keribetannya membetulkan posisi burqa-nya. Saat itulah tiba-tiba keledainya entah kenapa melesat berlari. Dengan terkejut, Ridley berteriak, “flaming nora!”, sebuah ekspresi yang diungkapkan oleh orang Inggris bagian Utara apabila sedang terkejut.[7]

Ridley mengucapkan kata-kata pertamanya dengan teriakan tersebut setelah puasa berbicara selama dua hari. Beberapa orang melihatnya, Ridley sadar bahwa sebenarnya mereka tidak paham dengan apa yang dia teriakan. Namun, “yang menarik perhatian mereka adalah seorang wanita yang berisik ketika mengenakan burqa. Wanita Afghanistan biasanya tidak berisik. Mereka biasanya bersikap penurut dan diam,” kata Ridley menceritakan dalam sebuah bukunya yang berjudul In the Hands of the Taliban: Her Extraordinary Story.[8]

Meskipun menangis di dalam burqa, Ridley mencoba menenangkan dan mengendalikan dirinya. Pada saat itu sebenarnya kebanyakan orang sudah mulai melupakan Ridley, namun dia melakukan sebuah kecerobohan, ketika Ridley mencondongkan badannya untuk meraih tali kekang keledai, kameranya mengayun dan terlihat sepenuhnya.[9]

Pada saat itulah salah seorang tentara Taliban melihatnya. Dia berteriak kepada Ridley dan memberi isyarat untuk turun dari keledai. “Saya tidak akan pernah melupakan ekspresi wajah tentara itu. Bukan karena dia akan menangkapku dan mungkin membunuhku, tapi karena dia memiliki mata hijau zamrud yang paling menakjubkan yang pernah kulihat. Aneh rasanya, saya benar-benar terpikat oleh ciri-cirinya yang menakjubkan, meski pun itu hanya sesaat,” kata Ridley.[10]

Setelah Ridley turun dari keledai, tentara tersebut menghajar pemilik keledai sampai hidungnya berdarah. Pemandu Ridley mencoba membela dan menjelaskan kepada tentara Taliban tersebut, karena adanya keributan orang-orang menjadi berkumpul dan mengerumuni. Ridley sebenarnya, dengan menggunakan burqa, memiliki kesempatan untuk melarikan diri dengan cara membaur dengan keramaian. Tapi dia malah meminta tentara tersebut untuk mengembalikan kameranya.[11]

“Tentara bermata hijau tampak keheranan. Dia telah benar-benar lupa kepada saya dan sekarang saya berbicara kepadanya dengan bahasa asing. Kali ini semakin banyak tentara Taliban mendatangi tempat kejadian, dan mereka terkejut, ketika melihat bahwa saya adalah seorang wanita Barat. Kerumunan orang mulai mendesak saya dan seorang Talib berambut merah meraih saya dan kamera, dan membawa saya ke dalam sebuah mobil,” kisah Ridley.[12]

Ridley merasa lemas sebadan-badan, meskipun di luar terlihat tenang namun jantungnya berdebar sangat keras. Maka digiringlah Ridley dalam sebuah konvoi, sambil menembakkan senapannya ke udara, para Taliban berteriak, “mata-mata Amerika! Mata-mata Amerika!” mereka menyangka Ridley orang Amerika. Dengan demikian, resmi sudah Ridley menjadi tawanan Taliban.[13] (PH)

Bersambung ke:

Yvonne Ridley (2): Dipenjarakan

Catatan Kaki:

[1] “Yvonne Ridley: Fearless behind the veil”, dari laman http://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=222510, diakses 17 Maret 2018.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Jessica Hodgson, “Ridley ‘committed serious crime’, say Taliban”, dari laman https://www.theguardian.com/media/2001/oct/03/pressandpublishing.afghanistan, diakses 17 Maret 2018.

[5] Eloise Napier, “Articles of faith”, dari laman https://www.theguardian.com/politics/2004/feb/24/pressandpublishing.afghanistan, diakses 17 Maret 2018.

[6] “Fell off donkey … caught by Taleban”, dari laman http://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=283689, diakses 17 Maret 2018.

[7] Yvonne Ridley, In the Hands of the Taliban: Her Extraordinary Story, (Robson Books: 2001), hlm 104.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid., hlm 105.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*